
Astaga, sakit sekali rasanya. Suamiku seolah menyuruhku untuk pergi dari rumah itu. "Maaf, Mas." Aku langsung memeluknya.
"Lepas!" titah Mas Rayyan tetapi aku enggan melepaskannya.
"Adhira, Mas bilang lepas ya lepas. Satu ... dua ...."
Astaghfirullah, berulang kali aku mengelus dadaku. Sesakit inikah bila menjadi seorang istri?
Aku melepaskan pelukan itu, "cepat siap-siap, sebentar lagi sholat Maghrib." Pinta Mas Rayyan sebelum keluar dari kamar.
***
Jam semakin berputar, kini hari semakin larut. Kamar yang kecil ini semakin sepi karena Mas Rayyan masih tidak mau berbicara denganku. Saat ini aku kembali di puncak lelahku dalam membujuknya, tetapi aku juga tidak bisa tidur saat ini karena biasanya aku tidur di pelukan Mas Rayyan.
"Tidur!" Titahnya tanpa menghadapku.
"Nggak bisa," suaraku begitu kecil tetapi ia masih bisa mendengarnya.
"Mas bilang tidur, ya tidur! Sudah malam!"
'Grep!
"Maaf," aku memeluknya, ia tidak melawan dan juga tidak meresponku.
"Mas, maaf! Tolong maafin. Dhira nggak bisa tidur kalau Mas masih marah seperti ini."
"Mas!"
"Hm," akhirnya Mas Rayyan menjawab ucapanku.
__ADS_1
"Maaf!"
"Iya, ya sudah tidur gih!" suaranya begitu lembut, aku yakin suamiku sudah memaafkanku.
"Nah kalau begini Dhira bisa tidur sekarang."
"Oh ya? Memangnya kenapa nggak bisa tidur tadi?"
"Mas nggak ngasih pelukan, Dhira nggak bisa tidur kalau nggak dipeluk."
"Manja banget sih," sambil mencubit hidungku.
"Ih, bawaan bayi mungkin."
"Ya sudah, tidur yuk! Sudah jam 11. Takutnya besok pintu kita digedor lagi."
***
"Ma, ke pasar yuk!" Aku mendekati mertuaku yang sedang menonton TV.
"Mau beli apa?"
"Nenas sama sawi, Dhira pengen buat jus nenas di campur sawi. Enak banget pasti!"
"Ada-ada saja, ya sudah tunggu sebentar!" Ia mengganti pakaian, setelah lima menit Mama Rima keluar dari kamarnya. "Jalan kaki saja ya, biar banyak gerak kamu!" katanya membuatku hanya bisa mengangguk.
Kami pun berjalan, kini sudah memasuki jam sembilan pagi otomatis matahari sudah mulai tampak. Tetangga kami yang super itu pun mendekati kami, "Mak Rayyan!" panggilnya.
"Eh, Mak Jaka."
__ADS_1
"Mau kemana sama menantu?"
"Ke pasar, mau nitip nggak?"
"Nggak 'lah, aku sudah ke pasar tadi subuh. Aku 'kan bangun cepat walaupun sudah punya anak. Ngomong-ngomong, jalan kaki nih?"
"Iya, Mak Jaka. Biar ada gerak si Dhira."
"Oh, iya, bagus itu! Jadi menantu jangan malas-malasan."
Huh, rasanya ingin sekali ku pelintir 'kan kepalanya biar diam. "Ya sudah, kami jalan dulu ya!" Pamit Mama membuatku bernapas lega.
Sudah lama aku menginginkan untuk minum Es, dokter sudah melarangku karena katanya berat bayiku sudah sangat normal, jangan terlalu besar agar tidak begitu sakit saat melahirkan.
Biasanya entah berapa kali aku minum Es, sampai-sampai mertuaku pada memarahi aku. Mungkin efek hamil, bawaannya gerah saja.
Walaupun jus nenas ini tidak pakai es batu, menurutku jus ini sudah membuatku merasa lega. Nikmat sekali rasanya!
*****
Sambil menunggu kelanjutan dari kisahnya Dhira, Author punya rekomendasi nih yang nggak kalah serunya. Karya Kak Merpati_manis , cekidot👇
Blurb:
Mengisahkan perjuangan Zaki, putra ayah Yusuf dan bunda Fatima (dalam novel *_Ketulusan Cinta Nabila_*) untuk mendapatkan restu dari orang tua sang pujaan hati, Delia Zahwa, yang merupakan putri kyai pengasuh pondok pesantren (dalam novel *_Menjagamu Dengan Doa_*).
Sanggupkah Zaki menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh orang tua sang gadis yang sudah lama di incar nya itu dengan tepat waktu, sehingga mereka berdua bisa bersama-sama?
__ADS_1
Ikuti terus kisah Zaki dalam mengejar cinta, hanya di... *_FINDING LOVE_*