Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 14


__ADS_3

***


Detik berlalu, hari berganti dan bulan berjalan. Kini Zavier sudah memasuki usia delapan bulan. Bayi kecilku ternyata sudah gede. Aku tidak menyangka, kini ia sudah bisa merangkak. Zavier adalah nyawaku, hidupku dan kebahagiaanku. Kehadirannya membuat hidupku berwarna, dia 'lah alasanku satu-satunya untuk bertahan dirumah ini.


Hari ini Kakak iparku datang. Sambutan meriah telah dilakukan oleh seluruh orang di rumah ini. Wajar saja karena ia datang dari luar negeri. Namanya adalah Oca.


"Apa kabar, Dhira?" Ia memelukku.


"Alhamdulillah, kabarku baik, Kak." Ku balas pelukannya. "Kakak gimana? Kandungan Kakak sehat, 'kan?"


"Alhamdulillah. Kata dokter, anak aku laki-laki lagi. Do'akan sehat ya!"


"Pasti, Kak."


Ya, Kak Oca datang karena ia mau melahirkan. Ia memutuskan untuk melahirkan di ibukota agar dekat dengan Mamanya. Huh, aku jadi merindukan Ibu. Kira-kira Ibu apa kabar ya?


Aku nggak bisa memaksakan kehendakku, ingin rasanya aku menyuruh Ibu untuk datang kesini. Apalah daya, Ayah dan Ibu sibuk berjualan. Lagi pula aku tinggal dirumah mertuaku, sangat aneh rasanya jika aku membawa orang tuaku ke rumah ini walaupun hanya menginap seminggu saja.


Detik berlalu, hari berganti dan bulan berjalan. Kini Zavier sudah memasuki usia delapan bulan. Bayi kecilku ternyata sudah gede. Aku tidak menyangka, kini ia sudah bisa merangkak. Zavier adalah nyawaku, hidupku dan kebahagiaanku. Kehadirannya membuat hidupku berwarna, dia 'lah alasanku satu-satunya untuk bertahan dirumah ini.


Hari ini Kakak iparku datang. Sambutan meriah telah dilakukan oleh seluruh orang di rumah ini. Wajar saja karena ia datang dari luar negeri. Namanya adalah Oca.


"Apa kabar, Dhira?" Ia memelukku.


"Alhamdulillah, kabarku baik, Kak." Ku balas pelukannya. "Kakak gimana? Kandungan Kakak sehat, 'kan?"


"Alhamdulillah. Kata dokter, anak aku laki-laki lagi. Do'akan sehat ya!"

__ADS_1


"Pasti, Kak."


Ya, Kak Oca datang karena ia mau melahirkan. Ia memutuskan untuk melahirkan di ibukota agar dekat dengan Mamanya. Huh, aku jadi merindukan Ibu. Kira-kira Ibu apa kabar ya?


Aku nggak bisa memaksakan kehendakku, ingin rasanya aku menyuruh Ibu untuk datang kesini. Apalah daya, Ayah dan Ibu sibuk berjualan. Lagi pula aku tinggal dirumah mertuaku, sangat aneh rasanya jika aku membawa orang tuaku ke rumah ini walaupun hanya menginap seminggu saja.


Ini adalah pertemuan pertama kami setelah aku menikah, karena kami hanya bertemu satu kali itupun saat ijab qabulku dilaksanakan. "Kak, bagaimana disana? Seru ya?"


Aku sengaja membuka obrolan, walaupun terkesan memalukan tetapi bagiku ini adalah topik yang bagus untuk memulai percakapan. Kak Oca mengangguk sambil tersenyum, "Kapan-kapan kalian kesana deh, ntar aku ajak jalan-jalan. Mau nggak?"


Aku balas dengan senyuman, sebenarnya aku ingin menjawab 'Iya', tapi aku sadar dengan pendapatan yang diberikan oleh suamiku. Untuk kesana mungkin aku harus mengumpulkan banyak uang karena biaya disana pasti tidak murah. Kak Oca memang sangat baik, aku langsung nyambung saat berbicara dengannya. "Dhir, kamu sarjana apa sih?"


"Ekonomi, Kak."


"Jurusan?"


"Wah, bisa jadi analis kamu tuh!"


Alih-alih, bekerja. Aku tahu ujung-ujungnya mereka menyuruhku untuk bekerja. Astaga! Ingin rasanya aku berteriak sambil bilang coba kalian saja yang mengatakan itu pada suamiku!


"Dhir!"


Aku tersentak, "Hah? Hm! Iya, Kak?"


"Astaga, kamu melamun ya?"


"Eh, hehehe!" Ku garuk tengkukku yang tidak gatal.

__ADS_1


'Prang!


"Dhira!" Kembali lagi ku mendengar suara teriakan itu, aku sudah hapal dengan nadanya. Itu pasti Mama Rima!


"Iya, Ma." Aku pergi setelah berpamitan dengan Kak Oca.


Sampailah aku di dapur, ternyata banyak sekali pecahan piring. Apa yang terjadi? Kenapa rumah seperti kapal pecah?


"Kenapa diam saja? Bantuin!" Bentak Mama.


Aku mengangguk, ku kutip satu persatu pecahan piring tersebut. Tak lama kemudiam Mama Rima malah pergi meninggalkan aku yang masih fokus dengan pecahan piring. 'Ini mah namanya aku yang ngerjain!' gumamku.


***


Sambil menunggu kelanjutan dari Dhira, yuk ikutin punya teman Author. cekidot👇



Blurb:


Gilang, seorang pemuda masih duduk di bangku SMA menyukai seorang janda beranak tiga.


Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan pertama kali mereka bertemu pada waktu yang tidak tepat.


Mampukah Gilang, meluluhkan hati seorang janda yang baru berpisah dengan suaminya Karena kekerasan dalam rumah tangga.


Mampukah Gilang meluluhkan hati ketiga satpam janda itu?

__ADS_1


Ataukah Gilang memilih mundur?


__ADS_2