Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 48


__ADS_3

"Iya, pacar sewaan."


"Yang jelas kamu kalau ngomong, aku nggak ngerti."


"Jadi gini, kamu malas ke rumah mertuamu karena takut ketemu wanita itu 'kan? Setidaknya kalau kamu bawa pacar sewaan kamu punya pegangan untuk terlihat kuat. Ngerti nggak sih?"


Ku lihat, Rani sudah mulai kesal padaku. Setelah ku pikir-pikir apa yang di katakan Rani memang ada benarnya. Tapi siapa laki-laki yang akan aku sewa?


"Biar saya saja yang membantu kamu," suara bariton itu benar-benar membuatku terkejut.


Aku dan Rani langsung menoleh, ku lihat Pak Zaydan sudah berada di depan kami. Ingin rasanya aku bertanya, sejak kapan dia di sana? Menyebalkan!


"Nggak usah, Pak. Yang ada malah ngerepotin."


"Nggak ngerepotin, saya siap menjadi pacar pura-pura kamu."


"Tapi ---"


"Saya hanya membantu kamu, Dhira."


Tiba-tiba tanganku di senggol oleh Rani, "Terima saja tawaran Pak Zaydan, Dhir. Ini menguntungkan buatmu."


"Menguntungkan ndasmu!"


Tanpa menunggu jawabanku, tiba-tiba tanganku di tarik oleh Pak Zaydan. Hampir saja aku terjatuh di buatnya. Dan yang paling menyebalkan adalah saat Rani malah menertawakanku. Huh, awas saja anak itu besok!


Saat ini aku sudah berada di dalam mobil Pak Zaydan, lelaki itu langsung saja menancap gas mobilnya padahal aku belum memberi tahu dimana rumahnya.

__ADS_1


"Bapak tahu rumahnya?"


Pak Zaydan menggelengkan kepala, "Tapi saya tahu rumah si Danu."


Astaga! Bodohnya diriku, aku sampai lupa jika rumah Mas Danu bersebelahan dengan rumahku. Ah, tidak. Bukan rumahku, tapi rumah nenek dari anakku.


"Bapak kenapa baik banget dengan saya?"


Akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulutku, entah mengapa rasanya aku sangat penasaran dengan jawaban dari Pak Zaydan. Setahun kebelakang ini aku lihat perilaku Pak Zaydan berbeda denganku.


Bukannya merasa terlalu percaya diri, tetapi aku juga wanita. Aku masih punya rasa.


"Karena ---"


Aku benar-benar penasaran dengan kelanjutannya, tapi sepertinya dia sengaja menggantung ucapannya. Ku lihat juga dia salah tingkah saat ini.


Huh, jawaban seperti apa itu? Aku yakin bukan itu jawaban sebenarnya.


"Bukan karena Bapak menyukai saya, 'kan?"


Astaga! Pertanyaan itu lolos begitu saja, sejak kapan aku memberi izin untuk menanyakan itu? Aku benar-benar malu sekarang. Lantas, bagaimana ini? Ah, sudahlah. Ini sudah di mulai, biarkan saja aku tahu kenyataannya biar nggak penasaran lagi.


Ckiit!


Aku benar-benar terkejut saat mobil milik Pak Zaydan ia pinggirkan di tepi jalan. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang, apalagi saat ini ia sedang menatapku. Astaga, dasar aku.


"Dhira!"

__ADS_1


"Iya, Pak?"


"Kamu mau tahu yang sebenarnya?"


Aku mengangguk, "Katakanlah, Pak."


"Saya mencintaimu, sejak kamu pertama kali masuk di kantor. Jujur, saat itu saya sudah memilih mundur karena tahu jika kamu sudah memiliki suami. Tapi sejak tahu pertengkaran kamu dengan mantan suami kamu, hati saya tergerak untuk maju. Maafkan saya, Dhira. Tapi perasaan ini tumbuh begitu saja."


Deg!


"Saya ---"


"Kamu nggak perlu jawab sekarang, saya tahu perceraian kamu dan mantan suami kamu masih membekas di hati kamu. Saya akan menunggu kamu, Dhira."


"Maafkan saya, Pak. Tapi ---"


"Izinkan saya mendekati kamu, jika dalam beberapa bulan kamu masih merasa yang sama saya akan menjauh. Tapi jika semuanya berbeda, saya akan menikahi kamu, Dhira."


"Pak, masih banyak wanita di luar sana yang lebih baik dari saya. Saya hanya seorang janda!"


"Dan saya duda."


"Tapi Bapak masih bisa mendapatkan gadis, mendapatkan wanita yang tidak mengabaikan Bapak."


"Kamu orangnya, saya yakin perasaan saya nggak salah. Saya sudah shalat istikharah berulang kali, tetap jawabannya adalah kamu."


"Kamu mau 'kan kita jalani dulu pendekatan ini?"

__ADS_1


__ADS_2