
Kalau aku jawab enggak, apa pantas?
Tapi hati aku nggak bisa bohong, aku memang nggak rela Zavier bersama mereka. Ku tatap lagi putraku, matanya seakan ingin mengatakan Bunda, Zavier baik-baik saja. Zavier akan selalu mengingat Bunda, tapi izinkan Zavier pergi bersama Oma dan Ayah, Zavier ingin ikut, Bunda.
"Dhira, kenapa kau diam saja?" Ucapan Mama Rima benar-benar mengagetkan aku, akhirnya panggilan kau pun terucap lagi.
"Nggak pa-pa, Ma." Lalu sedikit ku bungkukkan badanku, mensejajarkan diri ini pada putra kesayanganku. "Zavier mau ikut Oma, ya? Boleh kok. Jangan bandel ya, Nak. Harus patuh pada semua orang, mengerti?"
"Ngerti, Bunda."
"Ya sudah, kami pergi dulu. Ayo Zavier!" titah Mama Rima.
"Hati-hati, Nak ..." sambil ku lambaikan tanganku pada putra kesayanganku.
"Bunda juga, Zavier sayang Bunda."
Zavier dan Mama Rima sudah pergi, aku memicingkan mata saat melihat Mas Rayyan masih berada di hadapanku sekarang. "Nggak pulang, Mas?"
"Ngobrol bentar boleh?"
"Oh," aku mengangguk. "Ada apa?"
"Apa kabar, Dhira? Apa kamu baik-baik saja tanpa aku?"
Aku menyunggingkan senyumku, "Alhamdulillah, Mas. Baik, sangat baik."
"Aku merindukanmu, Dhira."
"Simpan saja rindumu untuk putramu, Mas. Tolong jaga Zavier selama dia tidak berada di samping Dhira."
"Pasti! Akan aku jaga dia, Zavier itu permata hati Mas."
__ADS_1
"Syukurlah."
"Pasti sakit banget ya? Maafkan Mas, Dhira."
"Terima kasih, Mas. Kalau tidak ada luka tersebut, nggak akan ada Dhira yang sekarang, Mas. Mungkin benar, Dhira terlalu sibuk bekerja sampai lupa jika ada suami di rumah, tetapi Dhira melakukan itu juga untuk suami dan anak Dhira dulunya."
"Mas yang salah, Dhira. Mas yang terburu oleh nafsu, kamu itu sangat sempurna. Mas menyesal telah kehilangan permata sepertimu."
"Mas tahu, gelas yang sudah pecah takkan bisa kembali seperti dulu meskipun kita sudah menyusunnya dengan sangat hati-hati."
"Tapi---"
"Rayyan! Sedang apa kamu? Ayo!" Suara mama Rima terdengar sangat nyaring membuat ucapan Mas Rayyan terpotong saat ini.
"Iya, Ma."
"Hati-hati, Mas."
***
Janjinya cuma satu hari, tapi sudah satu Minggu lamanya Zavier di rumah Mas Rayyan. Ingin sekali rasanya aku jemput putraku itu, tetapi aku malas melihat Mak Jaka, tetangga sebelah itu yang selalu Julid denganku.
Zavier, apa kabar kamu, Nak?
Kabar dari Hanum, ternyata Mas Rayyan menikah lagi dengan wanita itu. Ternyata kemarin adalah pertemuan terakhir aku dan Mas Rayyan untuk saling berbicara. Wanita itu sudah melahirkan dari sebulan yang lalu dan ia meminta pertanggung jawaban dari Mas Rayyan.
Bruk!
"Maaf, Pak ..." tanpa sengaja aku menabrak Pak Zaydan.
"Nggak pa-pa," sahut Pak Zaydan. "Dhira, kamu sakit ya?"
__ADS_1
"Nggak, Pak."
"Wajah kamu kenapa pucat sekali?"
"Nggak pa-pa, Pak."
"Kamu yakin?"
"Iya, Pak."
Akhirnya Pak Zaydan meninggalkan aku, ia kembali ke ruangannya. Astaga! perhatian kecil dari Pak Zaydan kenapa membuat jantungku tak beraturan? Ini aneh, Pak Zaydan adalah atasanku, aku nggak boleh merasakan ini padanya.
Dor!
"Astaga, ngagetin saja sih, Ran."
"Kamu itu banyakan melamun, ada apa sih, Dhir?"
"Aku rindu sama anakku."
"Zavier dari kemarin belum pulang?"
Aku menggelengkan kepala, "Aku pengen banget jemput Zavier, tapi masalahnya Mas Rayyan baru saja menikah. Aku malas sekali melihat wajah wanita itu!"
"Coba deh, kamu telpon mantan suamimu."
"Tetap saja, katanya memang belum bisa pulang."
"Kamu cari pacar sewaan aja, Dhir."
"Maksud kamu?"
__ADS_1