Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 15


__ADS_3

'Prang!


"Dhira!" Kembali lagi ku mendengar suara teriakan itu, aku sudah hapal dengan nadanya. Itu pasti Mama Rima!


"Iya, Ma." Aku pergi setelah berpamitan dengan Kak Oca.


Sampailah aku di dapur, ternyata banyak sekali pecahan piring. Apa yang terjadi? Kenapa rumah seperti kapal pecah?


"Kenapa diam saja? Bantuin!" Bentak Mama.


Aku mengangguk, ku kutip satu persatu pecahan piring tersebut. Tak lama kemudiam Mama Rima malah pergi meninggalkan aku yang masih fokus dengan pecahan piring. 'Ini mah namanya aku yang ngerjain!' gumamku.


'Oeek! 'Oeek!


Aku mendengar Zavier menangis, ku hentikan pekerjaan dadakan ini dari pada anakku terjatuh dari kasur. Benar saja, Zavier hampir jatuh karena saat ini ia sudah berada di ujung kasur. Semenjak pandai merangkak, ia lebih aktif sekarang. Ku berikan ASI pada anakku, hanya butuh lima menit saja Zavier sudah terlelap kembali.


Saat aku ingin balik ke dapur, tiba-tiba ...


"Aw!" pekik Kak Oca.


Aku langsung berlari, ternyata langkahku kurang cepat karena sudah ada Xia, Mama Rima dan Papa Sam di dapur. "Adhira! Apa yang kamu lakukan?"


Aku mengerutkan alis, memangnya apa yang aku lakukan? Sementara aku saja baru sampai di sini!


"Maksudnya, Ma?"


"Lihat, gara-gara kecerobohan kamu Oca terkena pecahan kaca. Kenapa kamu ceroboh begitu? Kalau terjadi apa-apa dengan bayinya gimana? Kamu mau tanggung jawab?"

__ADS_1


"Maaf, Ma. Tadi Zavier nangis! Dhira langsung ke kamar , takut Zavier terjatuh."


"Alasan! Bilang saja kamu sengaja, iya 'kan?"


"Sudah! Hentikan!" titah Papa Sam.


Sementara Xia sedang membereskan pecahan itu, "Xia, biar Kakak saja." titahku sambil mengambil sapu yang dipegangnya.


"Nggak usah, biarkan Xia yang ngerjain. Kerjaan kamu nggak ada yang becus!" ujar Mama Rima.


Ku elus kembali dadaku, ku lirik Kak Oca yang sedang meringis. Kakinya berdarah, aku merasa bersalah saat ini. "Kak, maaf ya!"


Kak Oca mengangguk, "nggak pa-pa, Dhir. Aku memang nggak lihat tadi."


"Nggak pa-pa gimana sih, Ca? Kaki kamu berdarah begini!" ketus Mama Rima.


"Ma ... Sudah!" Sambil di pegang Kak Oca tangan Mama Rima.


Sepertinya aku selalu salah dimata Mama, ingin rasanya aku lakukan saja semua kesalahan. Toh juga tetap salah, 'kan?


"Dhira!"


"Iya, Ma?"


"Kau ambilkan dulu makannya si Oca. Udah lapar kali dia itu, tadi ke dapur mau ambil nasi tapi malah diserbu darah." Titah Mama Rima dengan logat bataknya.


Ya, Mama Rima memang orang mandailing dan ia adalah boru Lubis. Berbeda dengan Papa Sam, ia orang jawa yang merantau ke Medan. Karena itulah saat ini kami tinggal di Medan saat ini. Untuk aku yang tidak pernah kenal dengan orang batak pasti akan kaget di awal berjumpa dengan nada suara Mama.

__ADS_1


"Iya, Ma." Ku ambilkan nasi beserta lauk pauknya.


***


Pagi ini Mas Rayyan berangkat ke kantor mengendarai motor kesayangannya, kebetulan sekali Zavier sudah bangun dan menangis disaat Ayahnya ingin berangkat kerja. "Mas, coba ajak Zavier jalan-jalan dulu!"


"Ya sudah, ayo!"


Aku langsung menggendongnya dan menaruh Zavier di atas motor. Baru saja kakiku melangkah naik, tiba-tiba ...


"Adhira!"


"Iya, Ma!"


"Mau kemana?"


"Ngajak Zavier jalan, sejak tadi Zavier nangis terus."


"Sudah jam 7 kurang, nanti Rayyan telat. Kamu 'kan ibunya, harus pandai 'lah bujuk anak sendiri." Mama Rima mendekati kami, "Pergi saja, Ray! Nanti kamu kesiangan." Titahnya.


*****


Sambil menunggu kelanjutan dari Dhira dan Mas Rayyan, yuk baca punya teman Author yang nggak kalah seru. cekidot👇



Blurb:

__ADS_1


Menapaki Jejak di Madyapada yang penuh cerita yang tak terduga, sesosok Rehan dengan beribu harap dalam benak dan Sejuta mimpi dalam sepi, meniti asa pada cahaya senja, menitip doa pada Sang Penguasa Semesta.


Berharap bisa bersanding dengan Rena perempuan anggun berparas rupawan dan berdarah Ningrat yang baik hati, seutas senyum ramah selalu menghiasi wajahnya, namun dalam riangnya tersimpang selaksa pilu yang membiru.


__ADS_2