Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 35


__ADS_3

"Eh, Mama ..."


"Mama nanya sama kau, dari mana saja kau?"


"Oh itu, Ma ... habis dari rumah Hanum ngajak Zavier main."


"Kau mau bohongi Mama ya? kau kira Mama nggak tahu kau tadi bawa plastik hitam?"


"Dhira sekalian bawa oleh-oleh untuk Hanum!"


"Buat apa kau kasih? kalau mau kasih tetangga itu yang adil, jangan Hanum saja. Mak Jaka di sebelah rumah juga, apa ada kau kasih?"


"Dhira kira jatahnya mak Jaka sudah Mama ambilkan."


"Kau nggak bilang, ck. Jadi nggak ada nih jatah buat Mak Jaka? malu lah Mama sama dia."


"Apa yang kemarin habis, Ma?"


"Ya habislah, kemarin 'kan abang iparmu juga ambil."


Setelah mengatakan itu Mama Rima pergi begitu saja, aku mengernyitkan alis melihat kejadian barusan. Padahal Mak Jaka adalah sahabat kentalnya, tetapi kenapa dia lupa mengambil jatah oleh-oleh nya untuk sahabatnya itu? dan sekarang harus aku yang mikir akan memberikan apa untuk Mak Jaka, astaga!


***


Sore harinya, seperti biasa aku menyapu halaman. Ku lihat Mama Rima sedang berbincang dengan Mak Jaka di rumah Mak Jaka. Samar-samar aku masih bisa mendengar percakapannya karena jarak rumah kami hanya terhalang dinding saja.


"Oh ya, Mak Rayyan ... kemarin Rayyan pulang dari rumah mertuanya bawa apa?"


"Hm, soal itu ... maaf ya, Mak jaka. Sudah ku bilang sama menantuku buat kasih oleh-oleh untukmu, eh dia malah lupa. Aku benar-benar malu sekarang!"


"Ck, menantumu itu emang nggak pintar bersosialisasi ya? nanti kalau dia mati apa bisa dia kubur sendiri?"

__ADS_1


"Entahlah! aku juga sudah capek ngingatinnya. Untuk keluar rumah saja dia malas, apalagi silaturahmi sama tetangga! potong kupingku kalau dia mau."


"Eh tapi dia berteman loh dengan tetangga baru kita!"


"Begitulah menantuku, dia berteman tuh milih-milih makanya sampai sekarang nggak punya teman di sini. Cuma si Hanum lah temannya itu!"


Astaghfirullah! ingin rasanya ku cabik-cabik mulut Mak Jaka yang sudah membuat mertuaku termakan omongannya. Aku sengaja mendekati mereka sambil berdehem, "Ma! Astaga, Mama di sini rupanya ..."


"Ada apa?"


"Zavier nyariin Mama ..." baru kali ini aku berdusta, padahal bayiku tidak mencarinya.


"Eh, Dhira! makanya jadi ibu itu harus pintar ngurus anak. Masa anaknya lebih dekat dengan neneknya di banding ibunya," ledek Mak Jaka.


"Kalau anak mencari neneknya, bukan berarti ibunya tidak becus menjaganya. Mohon maaf, Mak Jaka. Dhira rasa apa yang Dhira kerjakan itu bukan urusan Ibu, jadi Ibu juga nggak perlu tahu bagaimana Dhira dan keluarga." Dengan lantangnya aku mengatakan itu, sepertinya aku sudah tersulut emosi saat ini.


"Dhira!" tegur Mama Rima.


Menyesal adalah hal yang aku rasakan saat ini, untuk apa aku meladeni mereka padahal aku sudah tahu wataknya seperti apa. Astaga!


Tekadku sudah bulat, aku ingin bekerja saja agar aku bisa membeli mulut mereka yang sudah menganggap ku lemah. Aku diam bukan berarti aku kalah, tapi ternyata mengalah saja tidak cukup untuk menghadapi mereka.


***


Sore harinya Mas Rayyan pulang ke rumah, Aku siapkan pakaian gantinya dan membiarkannya bermain dengan Zavier terlebih dahulu. Kebetulan sekali rumah saat ini sedang sepi karena mama Rima dan papa Sam sedang menjemput Felixia dari rumah temannya.


"Mas ..."


"Hm, ada apa Sayang?"


"Dhira mau kerja!"

__ADS_1


"Sudah berapa kali mas katakan, untuk apa bekerja?"


"Tapi Mas juga nggak pernah merasakan bagaimana di hina mertua dan tetangga sendiri, 'kan? capek Mas! setiap hari harus mendengar omongan yang tidak-tidak, kesabaran Dhira juga ada batasnya."


"Okay, kamu bekerja! terus bagaimana Zavier? kamu mau menitipkan Zavier dengan mama, begitu?"


"Tidak, Mas. Dhira akan masukkan Zavier ke kelas bermain, kebetulan itu sampai sore. Boleh ya, Mas? gaji Dhira juga lumayan nanti, bisa bantu Mas mengumpulkan uang untuk membeli rumah."


Mas Rayyan terdiam, ia menatapku dengan kasihan. Terlihat dari wajahnya yang tak pernah rela melihatku bekerja, seketika tangannya mengelus pipiku sambil mengusap air mata yang sudah menetes sejak tadi. Aku benar-benar tidak kuat jika harus di rumah saja sekarang.


"Ya sudah, kamu boleh bekerja."


'Tes!


Air mataku kembali mengalir, tetapi ini adalah tangisan bahagia. Mas Rayyan benar-benar mendengar suara hatiku sekarang.


'Grep!


"Terima kasih, Mas."


"Sama-sama, Sayang."


'Prok! 'Prok!


Terlihatlah Zavier sedang bertepuk tangan melihat keromantisan kami, membuatku dan Mas Rayyan menjadi malu sekarang.


"Lihatlah, Zavier kita ini anak yang pintar!" kata Mas Rayyan sambil memandang Zavier.


*****


MOHON MAAF, KARENA DUNIA NYATA SANGAT SIBUK DENGAN TERPAKSA AUTHOR TAMATKAN DULU. AWAL TAHUN AUTHOR AKAN KEMBALI. SEE YOU!

__ADS_1


__ADS_2