
Hari ini kami mempunyai tetangga baru, tepat di sebelah rumah ini dari dulu tidak berpenghuni. Ternyata pemiliknya tidak cocok dengan Mak Jaka, mulutnya Mak Jaka terlalu pedas sampai membuat ia memilih untuk mengosongkan rumahnya sampai terjual.
Kebetulan tadi pagi aku membuat bakwan yang amat banyak, aku menaruh beberapa bakwan di atas piring lalu membagikannya ke tetangga baru tersebut sambil berkenalan. Ini juga kesempatan yang bagus karena Mama Rima sedang tidur, setidaknya ia tidak tahu jika aku memberikan bakwannya kepada tetangga sebelah.
"Assalamu'alaikum," salamku sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," sahut seseorang dari dalam. Suara wanita yang lembut, pastinya ia berparas cantik.
Tak lama kemudian keluar 'lah seorang wanita cantik. Saking cantiknya ia menutup seluruh tubuhnya dengan pakaian syar'i, Masya Allah.
"Mbak, saya Dhira. Saya tinggal di sebelah, oh iya ini untuk Mbak dan keluarga."
"Alhamdulillah ... Terima kasih, Mbak Dhira. Saya Hanum. Ayo masuk dulu!"
"Lain kali saja ya, Mbak. Anak Dhira lagi tidur. Nggak ada yang jaga!"
"Di tunggu loh, Mbak ..."
"Insya Allah ... Oh iya, panggil Dhira saja! Sepertinya Dhira lebih muda dari Mbak."
"Kalau gitu panggil Hanum saja, Dhira. Biar kita lebih akrab."
Aku tercengang, selama disini baru kali ini aku memiliki teman. "Mbak mau berteman dengan Dhira?"
Mbak Hanum malah terkekeh, "kenapa tidak? Bukankah agama kita mengajarkan untuk menjalankan silaturahmi?"
"Dhira sudah 2 tahun merantau, baru kali ini punya teman." Aku katakan dengan pelan, berharap Mbak Hanum tidak mendengarnya.
"Kalau begitu sekarang kita adalah teman. Aku juga disini cuma kenal sama kamu, Dhir."
__ADS_1
Tak lama kemudian keluarlah seorang laki-laki sambil menggendong putrinya yang seusia Zavier. "Siapa, Ummi?"
Mbak Hanum menoleh, "oh ini, Abi. Namanya Dhira, tetangga sebelah kita! Alhamdulillah, kita di berikan rezeki makanan darinya."
"Masya Allah, Alhamdulillah ... Terima kasih, Mbak Dhira." Sahutnya.
"Sama-sama, Mas. Kalau begitu saya pamit dulu ya, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
***
"Dhira!" Panggil Mama Rima tiba-tiba.
Baru saja aku masuk ke rumah, telingaku sudah harus merasakan panas kembali. "Iya, Ma."
"Dari mana saja kau?"
"Bawa piring?"
Astaga, aku lupa menyembunyikan piringnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam rumah. "Iya, sekalian kasih bakwan untuk mereka. Kasihan, Ma! Baru pindah, pasti belum ada cemilan."
"Sok baik kali kau! Cari muka kau ya?"
"Enggak, Ma."
Tiba-tiba Mama Rima ke dapur, lalu membuka lemari dan di lihatnya apa saja yang ada di sana. "Tinggal sedikit nih, lain kali kalau mau kasih orang bilang dulu sama Mama. Ngerti nggak kau?"
Astaghfirullah, tak hentinya aku beristighfar saat menghadapi mertuaku. Untuk berbagi saja aku harus izin dengannya, belum lagi hal lainnya. Terkadang aku berpikir, kenapa kepala keluargaku adalah ibu mertuaku? Kenapa nggak suamiku? Sampai kapan ini akan terjadi? Apa aku sanggup menghadapi ini selamanya?
__ADS_1
"Jawab Dhira! Kau kira Mama ngomong sama tembok?" Sentak Mama Rima membuatku terkejut.
"I __iya, Ma. Maaf!"
Setelah itu aku pergi ke ruang tv, ku lihat anakku sangat anteng bersama Aunty nya. Sesekali Zavier terkekeh geli, kadang ia juga mengikuti irama musiknya.
'Deg!
Ternyata Zavier bermain ponsel bersama Felixia. sejak kedatangan Kak Ocha kemarin, Zavier menjadi kenal dengan dunia ponsel. Bukan hanya kenal, ia bahkan fokus ke ponsel saja. Mereka mengajari anakku untuk mengikuti zaman biar nggak kudet (kurang update), katanya. Aku ingin marah, tetapi Zavier terlihat begitu menikmatinya. Aku bisa apa sekarang?
"Zavier ... Sedang apa, Nak?" Sambil ku cium keningnya.
"Lagi nonton cocomelon, Bunda." Yang menjawab adalah Felixia dengan suara yang dibuat-buat.
"Wah, pintarnya." Dusta ku, padahal aku sangat kesal sekarang. "Main ponselnya udah dulu yuk, waktunya tidur siang!" Lanjutku sambil menggendong Zavier.
Bukannya nurut, Zavier malah menangis. Ia semakin ketagihan dengan ponsel. Aku seperti tidak perduli dengan tangisannya, aku memaksakan diriku untuk tetap membawanya ke kamar. Tangisannya semakin menjadi, sampai akhirnya Mama Rima menghampiri kami. "Ada apa ini?"
Karena tidak ada jawaban dari kami, Mama Rima mendekati Felixia. "Xia, ada apa ini? Kenapa Zavier menangis, Nak?" Tanya Mama Rima dengan suara yang begitu lembut.
Felixia menggelengkan kepala, mungkin ia takut salah jawab saat ini. Mama Rima melirikku, "Dhira! Kau apakan anakmu?"
Apakan? Astaga! Aku seperti ibu yang kejam saat ini. Aku menggelengkan kepala, "Dhira hanya mengajaknya tidur! Dari tadi Zavier main hp terus, kasihan matanya."
"Sama anak sendiri kok pelit? Biarin saja dia main hp, kalau sudah ngantuk bakal tidur sendiri itu. Jangan di buat nangis 'lah anaknya, bikin malu saja!"
"Bukan begitu, Ma. Bukan karena pelit, tapi kasihan matanya!"
"Banyakin aja kasih makan wartel."
__ADS_1
Astaghfirullah, aku memang nggak akan bisa menang. Aku mengalah, tetapi bukan berarti aku kalah. Aku harus bagaimana sekarang? Pengaruh ponsel pada bayi itu sangat buruk menurut buku yang pernah aku baca dulu. Karena melihat aku masih enggan membiarkan Zavier bermain ponsel, Mama Rima mengambil Zavier dariku dan menaruhnya di sofa, setelah itu ia memutarkan lagu anak kecil agar Zavier tidak menangis lagi.
'Ya Allah, semoga Zavier tumbuh menjadi anak yang sehat.'