Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 49


__ADS_3

"Tapi janji ya, Pak ... Bagaimana pun nanti akhirnya, silaturahmi tetap berjalan. Jangan pernah melibatkan urusan kantor dengan pribadi. Jujur, kalau untuk ke jenjang serius saya belum bisa."


"Saya janji," ucap Pak Zaydan dengan lantang. "Tapi saya ada satu permintaan untuk kamu." Lanjutnya sambil menatapku membuat jantung ini menjadi tak karuan.


"A--apa itu?"


"Panggil saya Mas saat di luar," titah Pak Zaydan membuatku diam.


"Ayolah, masa sama Danu di panggil Mas sementara sama saya tidak?"


"Baiklah, M-mas ..."


"Saya akan melindungi kamu, Dhira."


Aku diam membisu, tak ada niat untuk menjawab lagi. Jantungku sudah tak karuan, aku tak ingin ia lepas dari tubuhku detik ini juga. Ku lihat-lihat, Pak Zaydan adalah orang yang baik namun tidak busuk seperti Mas Rayyan yang ternyata hanya memanfaatkan ku saja.


***


Zaydan POV.


Zaydan Al Yazid, namaku. Aku memiliki seorang putri yang amat cantik dari rahim wanita yang sama cantiknya seperti putriku. Sayangnya, wanita hebat tersebut memilih pergi dari dunia setelah melahirkan putri kami. Dia menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya padaku sebagai ayah. Aku tak menyesal, aku bangga dengan istriku karena ia sudah mempertaruhkan nyawanya hanya demi lahirnya nyawa yang baru.


'Diandra, Mas sangat merindukanmu,' sambil ku pandang album foto pernikahan kami.


Kehilangan Diandra membuatku menjadi manusia yang baru, aku menjadi lebih banyak diamnya kecuali pada putri ku yang paling cantik se dunia. Banyak yang bilang aku seperti kulkas berjalan, aku tak perduli dengan itu semua.

__ADS_1


Aku dan sahabatku Danu memutuskan untuk membuka travel umrah dengan modal pas-pasan. Aku mempercayai Danu mengelolanya selama ini. Sampai akhirnya aku memilih ikut mengelolanya karena merasa tidak enak jika harus Danu sendiri yang mengelolanya. Selama ini bukan karena aku tak sempat, tetapi aku memilih untuk mengurung diri di rumah sambil meratapi nasib. Ya, aku belum bisa melupakan istri tercintaku, Diandra.


'Tok! 'Tok! 'Tok!


Aku merapikan posisiku yang tadinya melihat bingkai foto pernikahan kami kini menatap laptop yang sejak tadi sengaja aku buka. Seseorang masuk setelah aku persilahkan. Sungguh menyebalkan, karena orang tersebut adalah Danu. "Assalamu'alaikum, Pak haji."


Ingin rasanya ku belah kepalanya menjadi beberapa bagian saking kesalnya. "Waalaikumsalam, Pak Ustadz. Silahkan masuk!"


Danu masuk seperti biasa, lalu duduk di hadapanku. "Katakan, waktumu hanya sepuluh menit."


Danu tercengang, "Astaga, aku ngambil nafas saja sudah satu menit, Zay!"


"Tinggal sembilan menit." Sengaja aku pasang wajah datarku untuk mengerjai sahabat ku ini.


"Delapan menit!"


Ku lihat Danu mengambil napasnya dengan dalam, ingin sekali aku terkekeh saat ini. Susah payah aku pendam agar Danu tidak melihatnya. "Sebenarnya aku mau nge recruit seseorang, dia teman dari istriku. Insya Allah, amanah."


"Background nya lulusan mana?"


"Sarjana kayanya, nanti aku bawakan CV nya."


"Ya sudah, bawakan saja CV nya terlebih dahulu sebelum ngomong."


"Aku lupa minta!"

__ADS_1


"Ya sudah, waktumu habis."


"Ente kebanyakan dalam rumah ini, sekali-kali berjemur di matahari biar encer otak tuh dikit. Assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam."


Sial! Berani sekali dia mengumpatku, untung saja tidak ada yang mendengarnya saat ini. Aku menjadi penasaran siapa orangnya, karena tak biasanya Danu seperti itu.


Hari silih berganti, kemarin sudah aku lihat CV nya. Hati ini tak henti mengucapkan Masya Allah saking takjubnya dengan kecantikan wanita itu. Beliau mengingatkan ku dengan Diandra, aku seperti mengalami jatuh cinta untuk kedua kalinya.


Huh, maafkan aku, Diandra. Seperti kata kamu, hidup terus berjalan. Nikmati prosesnya!


Hari ini wanita yang bernama Adhira Ulya masuk bekerja, ini adalah hari pertama baginya. Aku jadi tidak sabar melihat wajah gadis tersebut.


'Tap! 'Tap! 'Tap!


Semua mata tertuju pada gadis cantik berbaju putih, kemudian ia memperkenalkan dirinya. Desiran tersebut terasa di jantungku, sepertinya hatiku sudah mulai pindah haluan ini.


"Assalamu'alaikum, perkenalkan nama saya Adhira Ulya. Panggil saja Dhira!"


Aku yang berada di dalam ruangan pun menatapnya penuh rasa kagum. Gadis tersebut memakai jilbab, alis yang tebal, hidung mancung, saat ia tersenyum terlihat lah lesung pipi nan cantik menghiasi wajahnya.


Beberapa hari kemudian aku menyuruh Danu ke ruangan, aku benar-benar penasaran dengan teman dari istrinya tersebut. "Ada apa, Pak haji?"


Sungguh kalimat yang menjijikkan bagiku, "Aku mau ngomong, tutup pintunya dulu."

__ADS_1


__ADS_2