
"Assalamu'alaikum, Maaf menunggu lama." Suara bariton itu memecahkan suasana.
Huh! syukurlah Mas Danu datang, pikirku. Aku benar-benar nggak nyaman hanya berduaan dengan lawan jenis begini, apalagi dia adalah atasanku.
"Waalaikumsalam," sahut kami berdua.
"Dari mana saja, Dan? Lama sekali," tegur Pak Zaydan.
"Maaf, tadi pesanan ojol untuk orang rumah dulu." Terangnya sambil duduk di kursi yang masih kosong. "Loh, Dhir ... makanannya kok belum di makan?"
"Dhira nunggu Mas Danu, lagian Pak Zaydan juga belum makan kok."
Mas Danu mengangguk, "Oh iya, Zay ... Shafa apa kabar?"
Oh jadi nama istrinya Shafa, pikirku. Syukurlah, Pak Zaydan sudah memiliki keluarga. Pak Zaydan menunjukkan ponselnya pada Mas Danu, "Lihatlah, menggemaskan nggak sih? sekarang dia sudah pintar ngaji loh, Dan." Terang Pak Zaydan pada Mas Danu.
Aku menjadi penasaran, mengapa Pak Zaydan menceritakan istrinya pada orang lain?
Tiba-tiba Mas Danu memanggilku, "Dhir! jangan melamun saja."
"Eh, iya. Kenapa, Mas?"
"Tuh 'kan, kamu pasti melamun. Eh, lihat deh anak Pak Zaydan, cantik 'kan?"
__ADS_1
Aku langsung menoleh ke ponsel Pak Zaydan, anaknya benar-benar cantik dan menggemaskan. Rasanya aku ingin sekali mencubit pipinya saat ini.
"Ini namanya Shafa," terang Mas Danu lagi.
"Apa?" Aku benar-benar terkejut, ternyata Shafa adalah putrinya, pantas saja dia bangga menjelaskan kehebatan wanita tersebut.
"Iya, namanya Shafa."
"Nama yang indah," pujiku benar-benar kagum. "Nanti adiknya namanya Marwah saja, Pak." Lanjut ku sambil tersenyum tanpa bertanya terlebih dahulu apa yang terjadi.
Mendengar ucapan ku, kedua laki-laki yang berada di depanku terdiam. Seketika wajah mereka tampak berubah menjadi sedih. Sepertinya aku salah bicara sekarang.
"Maaf!" lirihku, aku benar-benar merasa bersalah.
"Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak tahu."
"Nggak apa-apa, sekarang 'kan kamu sudah tahu."
***
Berhubung hari ini aku membawa mobil, aku berniat untuk mengajak suamiku pulang. Saat ini masih pukul empat sore, aku yakin Mas Rayyan belum pulang kerja. Tentu saja sebelum ke kantornya, aku menjemput putraku tercinta terlebih dahulu.
Zavier terlihat bahagia saat mobil kami tepat di kantor ayahnya, sepertinya ia sangat merindukan sang ayah karena semalaman belum ada berjumpa.
__ADS_1
Begitu aku masuk ke kantor, aku kembali bertemu dengan Mas Dadang. Untuk kedua kalinya Mas Dadang menatapku dengan ketakutan. "Ada apa sih, Mas?"
"Eng--nggak pa-pa, Dhir. Kamu mau ketemu suami kamu ya?"
"Iya dong, Mas. Nggak mungkin mau ketemu sama Mas."
Mas Dadang malah terkekeh mendengar ucapanku, aku tidak memperdulikannya. Aku berjalan melewatinya saat ini, tiba-tiba ia menahanku. "Ada apa, Mas?"
"Maaf, Dhir. Tapi kamu harus menunggu di sini dulu."
"Memangnya kenapa? Mas Rayyan di ruangannya 'kan?"
"Iya sih, tapi --"
"Tapi kenapa, Mas? Apa ada aturan baru?"
"Nggak, ah gini saja. Kamu tunggu di sini biar aku yang panggil."
"Nggak perlu repot-repot, Mas. Dhira bisa sendiri," Aku menolak langsung, kemudian berjalan secepat mungkin ke ruangan Mas Rayyan karena merasa ada yang tidak beres saat ini.
Ruangan Mas Rayyan lumayan jauh dari pintu masuk, sehingga hampir saja Mas Dadang mencegah ku karena dirinya ternyata mengejar ku sejak tadi. Akan tetapi seseorang memanggilnya karena ada urusan kerjaan.
'Ceklek!
__ADS_1
"Mas Rayyan!" Aku memekik padahal masih di depan pintu.