
Dua hari telah berlalu, sesuai janjinya ... Lelaki itu mengajakku bertemu dengan bapak dan ibu di kampung. Orang tua yang sudah lama tak ku kunjungi, apalagi rumah tanggaku dan Mas Rayyan sudah hancur lebur. Tak tahan rasanya hati ini melihat kehancuran dari perasaan orang tuaku.
Di kereta, ku lihat Zavier sangat bahagia. Bahkan sesekali ia bernyanyi naik kereta api saking bahagianya. Sesederhana itu kebahagiaan putraku, tetapi tak dapat ku turuti selama ini. Maafkan Bunda, Nak.
Saat ini kami pergi berempat, Pak Zaydan benar-benar menepati janjinya. Ia membawa putri satu-satunya yang saat ini ingin mengganti nama panggilannya menjadi Salsa. Entah apa yang ada di pikiran anak kecil tersebut, namun katanya ia ingin mengubah takdirnya menjadi baik karena mengganti nama panggilan. Astaga, anak kecil ini!
"Pokoknya panggil Salsa saja!" Ia cemberut menatap ayahnya saat ini.
"Turutin saja, Mas. Biasanya anak kecil memang begitu, suka bercanda."
"No, ini bukan bercanda. Salsa ingin di panggil itu!"
Akhirnya Pak Zaydan mengangguk, "Baiklah, Salsa!"
Berat sekali hati Pak Zaydan mengganti nama panggilan putrinya, karena nama itu adalah keinginan dari mendiang istrinya. Aku tahu itu, karena Pak Zaydan sendiri yang mengatakannya!
"Asik, Zavier ... Panggil Kakak sekarang Salsa ya!"
"Okay, Kak Salsa.
"Anak pintar," Salsa mengecup kening Zavier. Padahal usia mereka hanya berbeda dua tahun, tetapi Salsa terlihat bijak sekali sekarang.
"Kamu panggil Abi ya sama Abi Kakak."
"Dan Kakak harus panggil Bunda dengan bundanya Zavier."
__ADS_1
Begitulah keseruan dari dua bocah tersebut, sangat lucu menurutku. Keduanya sama-sama bahagia karena akan mendapatkan keluarga baru. Ah, syukurlah!
Kereta melaju dengan kencang, anak-anak pun ketiduran. Tidak hanya anak-anak, aku juga sampai ketiduran. Entah berapa lama aku hanyut dalam mimpi karena saat Pak Zaydan membangunkan aku, kami sudah sampai di stasiun.
"Kita makan dulu ya," titah Pak Zaydan.
Aku tak perlu menjawab, karena anak-anak sudah menjawab dengan sangat antusias. Pak Zaydan mengajak kami ke kakek jenggot, karena putrinya menyukai ayam goreng tepung tersebut.
Saat memesan makanan dan sambil menunggu makanan datang, Zavier dan Salsa memilih bermain pelosotan dan ayunan meninggalkan aku dan Pak Zaydan di meja makan.
"Pak, maaf," lirihku.
"Maaf? Untuk apa?"
"Kamu gak perlu meminta maaf, saya sangat senang karena akhirnya punya keberanian meminang kamu walaupun dengan cara seperti itu."
"Kalau bapak dan ibu nggak suka, gimana?"
"Saya akan berjuang mendapatkan restunya."
"Bapak beneran serius dengan saya?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Karena saya pernah gagal dalam berumah tangga, saya nggak mau itu terulang kembali."
__ADS_1
"Perpisahan mu dengan suamimu dulu, adalah anugerah untuk saya. Salah dia sendiri, kenapa membuang-buang berlian demi sampah?"
"Saya serius, Pak."
"Saya juga serius, kita sama-sama belajar ya, Dhira."
Hatiku bergetar mendengarnya, kata orang kita akan bertemu orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang benar. So, it's true!
Aku juga pernah merasa, Mas Rayyan 'lah terbaik, tetapi aku salah. Kebaikannya hanya menjadi topeng belaka. Bodohnya, aku percaya begitu saja.
***
Author POV
"Puas Mama sekarang?" Rayyan mendekati ibunya yang sedang meminum teh di teras rumahnya.
"Puas? Apa maksud kamu?"
"Sudah Ray bilang, Zavier jangan di suruh- suruh."
"Kamu yang salah, kenapa malah berduaan siang bolong di kamar? Anak di telantarkan! Cukup ya, Ray! Selama ini Mama sudah banyak mengalah, Mama sudah rela menjadi buruk di mata Dhira!"
"Bukankah Mama yang tidak suka dengannya? Bahkan dari awal kami menikah?"
Mama Rima gelagapan mendengarnya, ia terlihat salah tingkah sekarang. "Kenapa nggak di jawab, Ma?" Tanya Rayyan dengan sangat sinis.
__ADS_1