Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 13


__ADS_3

"Kamu hebat loh, Siska. Sudah cantik, rajin, pekerja keras lagi. Oh iya, sudah isi belum?" Mama mertuaku selalu memujinya.


"Belum, Ma. Do'akan saja!" Sambil tersenyum, lalu ia melihatku. "Oh iya, Dhira ... Kemarin ada loker di kantor, kamu coba aja kirim CV ke kantor. Kakak rasa Rayyan nggak keberatan kalau kamu kerja!" Aku tercengang mendengarnya, padahal ia melihat sendiri jika aku baru saja melahirkan. Bukan kerjaan yang aku butuhkan sekarang, tetapi waktu yang luanglah untuk bayiku ini.


"Nah, coba kamu kirim CV kamu, Dhira! Jadi biar kamu nggak nganggur terus," Mama Rima malah menimpali.


Ku tarik napasku dengan kasar, omongan mereka membuatku semakin ingin meledak saat ini. Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya agar dunia tahu betapa panasnya telingaku dirumah ini.


"I ___ iya, Ma. Nanti Dhira coba bicara dengan Mas Rayyan."


***


Ibu rumah tangga, apa ada yang salah dengan gelar itu? Bagiku, menjadi wanita berpendidikan tidak melulu harus bekerja. Memangnya mengurus pekerjaan rumah itu bukan bekerja? Walaupun tidak di gaji, tetapi pekerjaan itu mulia, bukan?


Alih-alih aku selalu mendengar bahwa wanita yang berpendidikan harus bekerja agar ilmunya tidak sia-sia. Padahal menjadi ibu cerdas adalah guru terbaik bagi anak-anaknya.


'Huh!


Ku pijit kepalaku yang tidak sakit, ternyata Mas Rayyan memperhatikanku. "Ada apa, Sayang?"


"Mas, Dhira pengen kerja!"


"Apa-apaan kamu ini? Bukankah uang yang Mas berikan itu sudah lebih dari cukup?" Mas Rayyan sepertinya marah denganku karena nada bicaranya mulai berubah.


"Ya, benar. Tetapi di mata semua orang Dhira ini hanyalah istri yang hanya bisa memanfaatkan gaji suaminya, Mas!"


"Biarkan orang berkata apa, yang penting dimata Mas kamu nggak kaya begitu, Sayang."


"Mas, tolong izinkan Dhira kerja!"

__ADS_1


"Buat apa, Sayang? Kamu tahu 'kan seorang wanita itu lebih baik dirumah, mengurus Mas dan Zavier. Sedangkan yang mencari nafkah, serahkan saja sama Mas. Lagian Mas nggak mau kecantikan kamu dinikmati banyak orang, Mas mau cuma Mas yang menikmatinya."


"Tapi, Mas __"


"Apa uang yang Mas berikan itu kurang?"


Aku terdiam, apa boleh aku jujur sekarang jika bukan uanglah penyebabnya?


Tiba-tiba ...


"Apa? Kurang? Astaga, Dhira! Apa uang yang diberikan Rayyan masih kurang? Kemana aja uangnya kamu buat? Hm? Ke ATM kamu? Atau kamu belanjakan online? Iya?" Mama Rima datang sambil ngomel-ngomel, entah sejak kapan beliau berada di belakang kami.


"Mah, udah mah... Udah!" Mas Rayyan mencoba untuk memenangkan suasana, sedangkan aku hanya bisa diam.


"Ini nggak bisa di biarin, Ray! kamu harus bisa bedain mana yang boros dan mana yang kekurangan. Mau ditambah sepuluh juta pun kalau dasarnya boros ya tetap aja bakalan habis."


Seketika emosiku ikut memuncak, "Ma, uang itu bukan buat Dhira. Bahkan sepeserpun nggak ada masuk ke rekening Dhira. Separuh gaji Mas Rayyan untuk Mama, dan yang lainnya untuk bayar listrik, air, dan makan kita."


Astaghfirullah, ku elus dadaku. Memangnya dimana salahku? Kenapa ibu mertuaku terus saja membenciku? Ia selalu menjelek-jelekkan aku di depan tetangga, keluarga dan kini depan suamiku. "Cukup, Ma. Cukup!"


Mas Rayyan menutup pintu kamar kami dan menguncinya. Aku menangis sejadi-jadinya. Padahal bayiku sedang tertidur disana. Tetapi sesak yang kurasakan begitu dalam dan tak bisa di tahan lagi. "Hiks ... hiks ...."


"Sayang ..." Mas Rayyan mencoba untuk memelukku.


Ku tepis tangannya, "jika sudah seperti ini, Apa Mas tetap tidak mengizinkan aku untuk bekerja?"


Mas Rayyan malah mengangguk, "Kamu tetap tidak Mas izinkan bekerja. Kasihan Zavier, dia membutuhkan kasih sayang Bundanya."


"Tapi, Mama ____"

__ADS_1


"Soal Mama ... kamu yang sabar ya, kita juga sedang nabung biar cepat punya rumah."


"Mau sampai kapan, Mas? Dhira sudah capek! Hiks ... hiks ...."


"Sabar, Sayang."


'Oeek! 'Oeek!


Astaga, aku lupa jika bayiku sedang tidur saat ini. Ku belai lembut pipinya dan ku kecup keningnya. "Ulu ulu, tayang Bunda! Kebangun ya dengar suara Bunda? Maafin Bunda, ya!"


***


Detik berlalu, hari berganti dan bulan berjalan. Kini Zavier sudah memasuki usia delapan bulan. Bayi kecilku ternyata sudah gede. Aku tidak menyangka, kini ia sudah bisa merangkak. Zavier adalah nyawaku, hidupku dan kebahagiaanku. Kehadirannya membuat hidupku berwarna, dia 'lah alasanku satu-satunya untuk bertahan dirumah ini.


Hari ini Kakak iparku datang. Sambutan meriah telah dilakukan oleh seluruh orang di rumah ini. Wajar saja karena ia datang dari luar negeri. Namanya adalah Oca.


***


Sambil menunggu kelanjutan dari kisah Dhira, yuk ikutin cerita teman Author, cekidot 👇



Blurb:


Seorang pria bernama Zidan yang sedang menaiki mobil terpaksa mengalami kecelakaan.


Wajahnya mengalami kerusakan lalu seorang dokter bedah plastik bernama Safa mengoperasi wajahnya.


Setelah sadar pria itu tak mengingat siapa dirinya. Lalu dokter Safa berbaik hati menampung pria amnesia itu sampai dirinya sembuh.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Zidan mampu mengembalikan ingatannya kembali? Lalu apa yang terjadi ketika saat ia ingat namun wajahnya telah berubah?


__ADS_2