Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 7


__ADS_3

Persiapan menuju lahiran sudah hampir semuanya selesai. Tinggal menunggu bedong yang aku minta dari Ibu, aku menyuruh Ibu mengirimkan bedong saat aku bayi dulu. Ibu memang menyimpan semuanya dan tersusun dengan rapi di lemari kecil yang ia letak dalam gudang.


"Paket!" Suara driver tersebut mengarahkan ke rumah kami.


Baru saja aku teleponan dengan Ibu, eh paketannya sudah sampai. Aku langsung keluar kamar dan mengambil paketan tersebut. "Atas nama Adhira Ulya?" tanya kang Paket.


"Iya, bang."


"Silahkan di tanda tangani dulu, Kak."


Aku mengangguk, "makasih ya, Bang."


Setelah menerima paketan tersebut, aku langsung membawa kardusnya ke dalam dan membukanya di ruangan tv. "Wah, ada paketan Dhir? Dari siapa?"


"Dari Ibu, Ma. Dhira minta kirimin bedong sama popok Dhira waktu bayi."


"Astaga! Itu pasti sudah lama banget. Kenapa nggak dibuang saja? Apa masih layak di pakai?"


'Deg!


Sakit tak berdarah, mungkin inilah definisi dari kalimat itu. Yang dikatakan Mama Rima memang benar adanya, tetapi apa tidak bisa kalimatny sedikit di saring?


"Insya Allah masih layak, Ma." Sahutku setelah beberapa saat. Lalu aku pergi ke kamar, tanpa memperdulikan ocehan mertuaku selanjutnya. Buru-buru aku mengambil ponsel, ku telepon lagi Ibuku yang sangat jauh di daerah jawa sana.


#In Call

__ADS_1


[Assalamu'alaikum, Bu.]


[Waalaikumussalam, Nduk. Ada apa?]


[Paketannya sudah sampai, Bu. Makasih banyak ya, maaf sudah ngerepotin Ibu.]


[Alhamdulillah, syukurlah. Sama sekali tidak merepotkan, Nduk. Itu sudah Ibu cuci ulang. Jadi nggak perlu kamu cuci lagi ya!]


[Iya, Bu. Oh iya ... Ibu sehat, 'kan?]


[Sehat sekali, nduk. Apa lagi kalau kamu nanyanya setiap saat seperti ini. Ya sudah, Ibu mau bantuin Bapak jualan dulu, sudah tanggal muda jadi banyak yang bayar bon. Ibu takut Bapak malah kewalahan, Nak.]


[Ya sudah, salam buat Bapak, Mas Rifky dan Kak Ratih. Assalamu'alaikum!]


[Iya, Nak. Waalaikumussalam!]


#EndCall


Hatiku kembali bahagia setelah menelpon Ibu, sesederhana ini mengembalikan perasaanku yang tadinya tidak begitu bagus. 'Bunda sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kamu, Nak.' Ku elus perutku yang semakin membuncit.


***


Hari ini aku sepertinya sangat lelah sampai-sampai tidur siangku sedikit lama. Seperti biasa, aku tidak perlu memasang alarm karena akan ada yang memanggil namaku jika aku bangun terlalu sore. "Adhira!"


Samar-samar aku seperti mendengar namaku di panggil, tetapi aku mengira jika itu adalah mimpi. Aku melanjutkan tidurku sampai akhirnya pintu kamarku dibuka secara kasar.

__ADS_1


"Adhira! Bangun, sudah sore."


Refleks, aku langsung bangkit hingga perutku terasa nyeri. "Aw!"


"Makanya, jangan malas kali jadi orang!" Aku malah dimarahin, tinggal di pulau Sumatera membuatku harus terbiasa dengan kata-kata yang sedikit kasar menurutku.


"Iya, Ma. Dhira bangun nih," aku menahan sakit ini sampai Mama mertuaku itu pergi dari kamarku.


Memangnya jam berapa sih? Aku langsung melihat jam di dinding. pantas saja Mama marah, ini sudah jam 17.35 sore! Aku sudah melewatkan sholat Dzuhur dan Ashar ku.


'Ceklek!


Baru saja aku ingin pergi ke kamar mandi, ternyata Mas Rayyan 'lah yang masuk dengan memakai handuk saja. "Sudah bangun, Sayang?"


Aku tercengang, "Mas sudah dari tadi pulangnya?"


"Iya, Mas lihat kamu nyenyak sekali tidurnya. Mas nggak tega, niatnya mau bangunin saat Mas sudah selesai mandi."


"Kenapa nggak bangunin dari tadi?" lirihku, aku benar-benar merasa kecewa.


*****


Sambil menunggu kelanjutan dari Dhira dan Rayyan, yuk kepoin punya teman Author... cekidot👇


__ADS_1


Blurb:


Kanaya Khairunnisa terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bisa ditolaknya dengan abang dari tunangannya sendiri, Kei Hasan. Kehidupan pernikahan mereka tidak berjalan baik karena Kei hanya menjadikan Naya sebagai alat untuk membalas sakit hatinya. Naya yang sedang melaksanakan studi di Perancis harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa sang suami ternyata telah menikah lagi dengan seorang model dan bintang iklan terkenal, Nadia Jefferson. Sang mertua yang sangat menyayangi Naya berusaha untuk menjauhkan Naya dari Kei. Setelah beberapa tahun ternyata takdir malah mempertemukan mereka dalam banyak situasi. Akankah pertemuan demi pertemuan mampu menghangatkan kembali hati Naya yang sempat membeku? Akankah Kei mengungkapkan cinta yang ternyata telah dimilikinya sejak lama? Mari ikuti alur ceritanya.


__ADS_2