
Hari sudah sangat larut, sebenarnya aku juga segan mengetuk pintu rumah orang. Akan tetapi aku sudah terlanjur pamit dengan ibu mertuaku. Lagian kalau di antar besok juga takut basi makanannya.
'Tok! 'Tok! 'Tok!
Tak lama kemudian Mbak Hanum keluar, "Assalamu'alaikum, Num."
"Waalaikumsalam, Dhira. Ya Allah, malam-malam begini ... ayo masuk!"
"Nggak usah, Num. Aku cuma mau nganterin ini, tadi habis jalan sama Zavier, maaf ya ganggu malam-malam."
"Masya Allah, nggak perlu repot-repot loh, Dhir."
"Sekali-sekali," sahutku dengan singkat.
"Makasih ya, Dhir. Masuk dulu yuk," tawar Mbak Hanum.
"Nggak usah, aku pulang saja ya. Zavier sudah tidur, belum di buatkan susunya."
"Ya sudah, hati-hati ya, Dhir."
Aku tersenyum dan mengangguk, "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Begitu ku langkahkan kaki ini masuk ke rumah, aku langsung berjumpa dengan Mama Rima yang sedang duduk di ruang tv. "Kamu baik banget sama tetangga sebelah," sindirnya tanpa menatapku.
"Karena Mbak Hanum dan suaminya juga baik sama Dhira, Ma."
"Mak Jaka juga tetangga kita, tapi kenapa dia nggak kamu kasih juga?"
"Mak Jaka suka Julid sih," ketusku, tak perduli Mama Rima saat ini kesal padaku.
***
Pagi ini Mas Rayyan berangkat lebih pagi lagi, ini kali ke tujuhnya secara berturut-turut ia seperti itu. Selama bekerja ia tak pernah seperti itu, sempat curiga hati ini tapi aku mengenyampingkan rasa itu agar Mas Rayyan tidak marah.
Kini giliranku dan Zavier yang pergi, sungguh aku sangat bingung karena berulang kali mencoba pesan taksi online tetapi pada penuh semua. Mobil di bawa oleh Mas Rayyan, jika tidak maka aku 'lah yang membawa kendaraan itu. Motor kesayangan Mas Rayyan terparkir di sana, tetapi aku tidak pandai memakainya.
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, akan aku pastikan hari ini aku telat ke kantor karena harus mengantarkan putra kecilku. "Dhira, bareng saya saja!" Titah seorang laki-laki di balik mobilnya.
"Iya, Dhira. mobilnya masih cukup kok," sahut istrinya yang tak lain adalah Mbak Hanum. Setiap pagi Mbak Hanum memang pergi bersama suaminya, ia mengantarkan anaknya untuk sekolah di Playground.
Karena melihat Mbak Hanum juga berada di dalam mobil, aku ikut masuk ke dalam. Aku juga merasa nggak enak dengan Mbak Hanum karena sudah menawarkan tumpangan padaku.
Sialnya Mbak Hanum malah duduk di belakang karena putrinya tidak mau diam jika di depan. "Kamu di depan saja, Dhir. Aku sengaja di belakang, anakku nggak mau diam."
"Ta ___ tapi ..."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Dhir."
Aku dan Zavier pun masuk ke dalam, untung saja tidak ada yang lihat, pikirku. Walaupun jika ada yang lihat juga nggak masalah karena antara aku dan suami Mbak Hanum tidak ada hubungan apa-apa.
***
Sore ini lagi-lagi Mas Rayyan tak dapat menjemputku dengan dalih rapat di kantor. Aku memilih menyusulnya ke kantor bersama Zavier tanpa sepengetahuan suamiku.
Aku tercengang karena tak melihat suamiku di sana. "Mas Dadang!" panggilku pada teman Mas Rayyan yang memang aku kenal.
"Eh, Dhira!" Terlihat jelas wajah Mas Dadang sangat terkejut saat ini.
"Oh iya, Mas. Mas Rayyan kemana ya? tadi Dhira sudah lihat ke ruangannya tapi nggak kelihatan."
"Hm, anu ... aku juga nggak tahu, Dhira. Coba di telepon saja!"
"Itu dia masalahnya, ponselnya nggak aktif."
"Waduh, gimana ya? aku mau pulang, Dhir. Istriku lagi ngidam minta di belikan rujak mangga."
"Oh, begitu ... Ya sudah nggak apa-apa, Mas."
Masih menjadi misteri kenapa Mas Dadang sangat terkejut melihatku? Aku merasa ada yang di sembunyikan, tapi apa?
__ADS_1