
"Maaf, Pak. Saya terlambat, tadi saya --"
"Nggak pa-pa, Dhira. Kembalilah ke ruangan kamu. Oh iya, nanti siang ke kantin ya, saya juga sudah ajak Danu kalau kamu canggung."
"Ma-maaf, Pak. Saya nggak bisa, saya --"
"Hanya makan siang, kalau kamu canggung ajak saja Rani untuk gabung dengan kita."
"Ba--baik, Pak. Kalau begitu saya permisi, Assalamu'alaikum."
Aku benar-benar bingung dengan sikap Pak Zaydan, semakin hari semakin baik dan seperti memiliki arti terselubung. Aku memang jarang sekali datang terlambat, bahkan nyaris nggak pernah. Itu sebabnya aku langsung menghadap bos besar saat terlambat.
Huh!
"Dhir!" sapa Mas Danu, tiba-tiba berada di belakangku.
"Sejak kapan di sini, Mas?"
"Sejak kamu melamun, ada apa sih?"
"Nggak pa-pa, Mas. Kalau begitu Dhira pamit ya, Mas."
"Kamu terlambat ya?"
"Iya, tadi malam Dhira bergadang."
"Ya sudah, kamu istirahat saja di tempatmu."
Aku hanya mengangguk, "Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
***
[Dhira, Mama sore nanti mau bawa Zavier menginap di rumah. Boleh 'kan?]
Itu adalah kalimat yang masih terngiang di telingaku. Panggilan tersebut sudah dua jam lalu berakhir tetapi masih terbayang jika putraku di bawa ke sana.
Zavier memang sering tidur di sana, janjinya dua hari tetapi satu Minggu baru di pulangkan. Aku hanya khawatir jika putraku sebulan kemudian atau bahkan tak di pulangkan oleh mereka. Aku tahu, Mas Rayyan adalah ayahnya. Zavier juga akan pergi ke tempat keluarganya juga. Akan tetapi, ini perasaan hati seorang ibu, dan hanya aku yang bisa merasakannya.
"Dhira, ada apa?" Rani menepuk bahuku, begitu melihat Rani 'lah orangnya, aku langsung memeluknya.
Selain Mbak Hanum, Rani 'lah teman curhatku berbagi keluh kesah. Melihat wajah Rani, rasanya aku ingin sekali menangis. "Aku nggak pa-pa."
"Kamu mau bohongin aku? Nggak bakal bisa, Dhir!"
"Mantan mertuaku mau bawa Zavier menginap, sebenarnya nggak masalah tapi aku cuma takut saja."
"Sudahlah, jangan bahas Mas Rayyan, aku malas."
"Nah, aku lagi yang kena." Protes Rani, karena memang hanya dia tempat yang akan aku jadikan sasarannya.
"Oh iya, nanti siang jangan pesan makanan, kita mau di traktir sama Pak Zaydan."
"Hah?" pekik Rani, tak segan-segan aku langsung menepuk jidatnya.
"Suara kamu, Ran, Kalah toak mesjid."
"Aku shock, itu serius?"
__ADS_1
"Kenapa? Kamu nggak mau? Ya sudah."
"Eh, bukan nggak mau. Aku hanya kaget saja, tapi tumben ngajak aku? Apa jangan-jangan Pak Zaydan suka ya sama aku?"
"Dih, pede boleh. Tapi jangan berlebihan!"
"Dhira!" pekik Rani yang ku abaikan.
Padahal Rani hanya bercanda, tetapi kenapa aku merasa sesak di dada ya?
Siang telah tiba, aku sangat malas melangkahkan kaki ke kantin itu, bukan kantinnya yang salah tetapi dengan siapa aku akan berjumpa nantilah menjadi penyebabnya.
"Dhir, itu mereka." Dengan percaya dirinya Rani malah menunjuk Mas Danu dan Pak Zaydan.
"Nggak pakai nunjuk juga kali, Ran."
***
Kenapa waktu cepat sekali berputar? Perasaan baru saja aku langkahkan kaki ini ke kantor, kenapa harus sudah pulang saja?
Baru saja aku sampai tepat di depan rumah, Mama Rima dan Mas Rayyan sudah berada di dalam sana ambil berbincang dengan Zavier. Bahagia sekali kamu, Nak.
"Assalamu'alaikum ..."
Mereka menoleh, tatapan Mas Rayyan sudah tak seperti dulu. Aku malah tak merasa mata itu indah sekarang. "Waalaikumsalam ..."
"Bunda ..." teriak Zavier sambil memelukku.
"Anak Bunda ganteng banget sih, mau pergi ya?"
__ADS_1
"Boleh nggak, Bun?"