Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 37


__ADS_3

Minggu yang cerah mengawali hari yang indah. Hanya hari ini aku berlibur kerja, aku mengajak Mas Rayyan dan Zavier untuk berjalan-jalan. Akan tetapi, tak lupa pula paginya aku berberes rumah. Walaupun sudah bekerja, aku harus tetap mengurus rumah agar tak lagi ku dengar ucapan yang menyakitkan itu.


"Sudah akrab ternyata kamu dengan menantumu itu ya, Rim." Terdengar jelas suara Mak Jaka membicarakan aku.


"Duitnya sekarang sudah banyak, keperluan rumah dia yang tanggung, bahkan listrik sama air saja dia yang bayar."


"Pantas saja kau sayang kali sama dia, rupanya dia yang biayai semuanya."


"Tapi aku masih penasaran, kok bisa ya baru setahun kerja sudah sebanyak ini penghasilannya? aku curiga sama dia, apa si Dhira ada main sama bosnya?"


"Patut juga kau curigain itu, apalagi bos nya tetangga sebelah. Kelihatannya saja alim, tapi di belakang kita nggak tahu juga 'kan?"


Astaghfirullah, aku pikir ucapan-ucapan lancip tersebut sudah lama usai dan takkan ku dengar lagi. Ternyata masih saja buruk di mata mereka. Benar kata orang, kalau ia sudah benci, kebaikan sekecil apapun takkan ternilai lagi.


Ku hapus air mata ini yang hampir terjatuh, memilih bersikap tak perduli mungkin lebih baik untuk kewarasan diriku. Tiba-tiba Mama Rima mengetahui keberadaan ku, ia pun mendekatiku.


"Loh, di sini kau rupanya, Nak."


"I ___ iya, Ma. Dhira mau bersihin halaman," ujarku sambil menunjuk sapu lidi yang berada di tanganku.


"Biar Mama saja," sambil mencoba mengambil sapu di tanganku.


Aku menolak, ku tepis tangan Mama Rima dengan pelan, "Nggak apa-apa, Ma. Biar Dhira saja, sudah mau selesai kok."


Aku pergi meninggalkan ibu mertuaku, rasa sesak di hati masih terasa jelas, aku tak sanggup berpura-pura bersikap tidak tahu soal yang tadi.

__ADS_1


Huh, akhirnya selesai juga pekerjaan ini. Aku teringat dengan Zavier yang masih dengan baju tidurnya. Aku memang belum memandikannya karena masih mengerjakan pekerjaan rumah tersebut. Seperti kejutan bagiku, begitu masuk ke dalam rumah Zavier sudah selesai mandi dan berpakaian sangat rapi.


"Wah, sayangnya Bunda sudah siap ya?"


Zavier menganggukkan kepalanya membuatku gemas sendiri. Tiba-tiba Mas Rayyan muncul dari belakang, "Siapa dulu dong, anak Ayah ..."


"Kamu yang mandikan, Mas?"


"Iya, gimana? keren 'kan?"


Aku tersenyum, "Tapi ada yang kurang, Mas."


Suamiku mengerutkan alisnya, "Apa itu? perasaan Baby Zavier sudah ganteng."


"Dih, ganteng mah dari lahir. Tuh lihat, bedaknya belum!"


"Kalian mau kemana?" Mama Rima mendekati kami.


"Ke Mall, Ma. Mau ajak Zavier main sebentar," sahutku.


"Pulangnya bawa oleh-oleh ya," sambil mengedipkan mata. Sungguh manis sekali tingkahnya membuatku sangat eneg melihatnya.


"Iya, Ma."


***

__ADS_1


Hari ini aku memang sengaja pulang malam, perasaanku sangat sensitif akhir-akhir ini. Setelah hatiku sedikit tenang, aku mengajak suamiku pulang.


"Mas," panggilku membuat Mas Rayyan yang sedang bermain ponsel di dekat air pancur tersebut tersentak kaget.


Buru-buru Mas Rayyan menyimpan ponselnya, "Iya, Sayang ..."


"Kita pulang sekarang, yuk! Tapi mampir dulu beli oleh-oleh buat Mama dan Mbak Hanum."


Dua jam kemudian kami sampai di rumah, Zavier yang kebetulan sudah tertidur pun langsung di bawa Mas Rayyan ke kamar. Sedangkan aku membawa makanan tersebut ke ruang keluarga karena melihat semuanya pada ngumpul di sana.


"Assalamu'alaikum, maaf telat." Sapaku pada mereka semua.


"Waalaikumsalam," sahut mereka.


Mama Rima mendekati ku, "Akhirnya pulang juga, bawa apa? Mama lapar."


"Bawa mie Aceh, Ma."


"Mama nungguin dari tadi, Xia juga katanya sudah lapar. hm, lain kali jangan malam banget ya pulangnya!"


Aku mengerutkan alis, memangnya kenapa kalau aku pulang malam? rasaku kalau pun aku mengajak Mas Rayyan tidak pulang itu nggak masalah karena aku pergi bersama suamiku sendiri.


"Ya sudah, Dhira pamit dulu ya, Ma. Mau antarin punya Mbak Hanum juga."


"Loh, Kok ___"

__ADS_1


Tanpa menunggu sahutan dari ibu mertuaku tersebut, aku langsung pergi begitu saja. Mendengar ocehannya membuang-buang waktuku, pikirku. Karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


__ADS_2