
'Oeeek! 'Oeeek!
Zavier menangis, aku hendak ke kamar untuk melihatnya. Tiba-tiba Kak Oca memegang tanganku, "biar aku saja, Dhir. Kamu lanjut makan saja!"
Aku mengangguk, tak lama kemudian aku mendengar suara tangisan Zavier berhenti dan ternyata Kak Oca memperlihatkan video anak kecil sedang bernyanyi dari ponselnya. Bukan hanya tangisannya yang berhenti, Zavier juga tertawa renyah menikmati tontonan tersebut.
'Deg!
Sejak lahir, aku tidak pernah memperlihatkan ponsel di depan mata Zavier. Bahkan, jika Ibu menelpon saja aku taruh ponsel tersebut di atas lemari. Sekarang ponsel tersebut malah berada di depan matanya. Radiasi ponsel sangat berbahaya untuk anak bayi, aku langsung menuju kamar bermaksud untuk menegur Kak Oca. "Kak, jangan lama-lama. Kasihan Zavier, radiasinya ngeri!"
"Nggak pa-pa 'lah, Dhir. 'kan cuma sekali-kali, biar nggak kaya orang kampung anak kamu. Tuh lihat, dia saja menikmatinya."
'Tap! 'Tap!
"Wah, cucu Nenek anteng banget sih sama Bude nya ..." Mama tiba-tiba datang dari belakangku dengan sedikit mendorongku.
"Lihat, Ma. Pintar banget anaknya si Rayyan, nontonnya sambil ketawa!" sahut Kak Oca.
***
Sejak saat itu, Zavier selalu di berikan ponsel saat ia menangis. Zavier sangat menikmati hiburan itu, saat kita mengambil ponselnya ia selalu tantrum(mengamuk). Zavier diberikan ponsel ia tersenyum, tertawa, bahkan sampai tertidur saking lelahnya.
"Aw!" Kak Oca merintih kesakitan, sepertinya ia akan melahirkan saat ini. Suaminya bernama Bang Nathan juga sudah datang bersama anak pertama mereka, Mumtaz.
"Bang Nathan!" Aku berlari sambil mencari Abang iparku, ternyata ia sedang berada di belakang rumah.
"Ada apa, Dhira?"
"Itu, Kak Oca mau melahirkan!"
Bang Nathan berlari saking paniknya, Mumtaz menangis karena ia takut mendengar ibunya akan melahirkan. "Jangan menangis, Nak." Ku peluk dia untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Tapi gimana kabar Mommy, Aunty?"
"Mommy kamu akan baik-baik saja!"
"Terus, adik Mumtaz?"
Aku tersenyum, "dia akan lahir dengan selamat, kamu bisa bermain dengannya!"
"Asik!" Mumtaz tampak bahagia.
Aku memilih untuk menunggu di rumah saat ini menemani Mumtaz. Lagian Zavier juga masih kecil dan tidak boleh di bawa ke rumah sakit. Sedangkan yang lainnya pergi menemani Kak Oca.
Tiga jam kemudian, aku melihat ponselku berdering. Ternyata Mama Rima 'lah yang menelpon, ia mengabarkan jika Kak Oca sudah melahirkan dan bayinya berjenis kelamin perempuan. Mumtaz begitu bahagia, apa lagi saat melihat adiknya menangis.
"Aunty, Mumtaz mau lihat adik Mumtaz."
"Sabar ya, besok Mommy dan adik kamu juga sudah pulang kok!"
Aku mengangguk, Mumtaz langsung mencium Zavier saking bahagianya. "Adik Zavier, besok kita ketemu adik baru kita. Kamu senang, 'kan?"
'Prok! 'Prok! 'Prok!
Zavier bertepuk tangan seolah mengerti dengan ucapan Mumtaz, "ye!" kata Zavier.
Aku langsung menoleh, hatiku terus bersyukur mengucap nama Allah karena anakku semakin pintar.
***
Keesokan harinya, Mama Rima menyuruhku untuk membersihkan kamar Kak Oca. Astaga, kamarnya sangat berantakan! Aku bersihkan semuanya, mengganti seprainya dan memberikan parfum ruangan.
Mas Rayyan pun pulang kerja, ia membawa beberapa snack untuk kami semua. Mumtaz begitu bahagia mendapatkannya. Tak lama kemudian sebuah mobil masuk ke perkarangan rumah. Itu tandanya, Kak Oca sudah sampai di rumah.
__ADS_1
'Oeek! 'Oeek!
Suara bayi terdengar, ia sangat cantik. Kak Oca memberinya nama Queen, nama itu sangat cocok untuk bayi ini karena ia begitu cantik bak bidadari.
Para tetangga pun tak henti-hentinya datang untuk melihat anggota baru kami. Mak Jaka, tetangga sebelah itu juga tidak mau kalah. Ia datang dengan membawa satu bingkisan yang besar.
"Assalamu'alaikum!" Salamnya dari luar.
Aku membuka pintu rumah, "Eh, Bu ... Silahkan masuk,' Ku persilahkan dengan senyuman.
"Hm!" jawabnya.
***
Sambil menunggu kelanjutan dari kisah Dhira dan Rayyan, Author punya rekomendasi nih yang nggak kalah seru, cekidot 👇
Blurb:
Cherry Jovanka Emilia gadis berseragam abu-abu yang ceria memiliki sahabat bernama Neva Aurelia Hadinata dan Steve Roger Timothy.
Persahabatan mereka terbilang sangat unik karena tidak ada hari-hari tanpa ulah yang menjengkelkan dari tingkah mereka.Â
Steve sendiri sudah memiliki perasaan kepada Cherry sejak mereka duduk di bangku sekolah SD. Cherry, Neva dan Steve mereka merupakan sahabat sejak kecil. Sekolah merekapun selalu bersama.Â
Sampai suatu hari Cherry memiliki problem tak bisa membayar uang Sekolah di karenakan Ibunya sakit-sakitan. Ayah Cherry sendiri sudah meninggal dunia sejak dirinya berusia 7 Tahun.Â
Neva yang iba kepadanya, meminta tolong kepada Kakaknya bernama Lucas Zander Hadinata seorang CEO di perusahaan Axosha Jewelry. Perusahaan di bidang perhiasan ini terbilang perusahaan terbesar di dunia. Lucas sendiri adalah seorang pengusaha muda yang sangat sukses di seluruh dunia. Berbanding terbalik dengan persoalan cinta, yang dia tahu cinta itu hanya sekedar bersama tanpa ada embel-embel perasaan.Â
Sampai suatu ketika dia harus di pertemukan Tuhan dengan gadis muda putih Abu-Abu yang akan menjungkir balikkan kehidupannya kelak.Â
__ADS_1
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?