
Danu menurut begitu saja, kini aku sudah empat mata dengannya. "Apa Adhira sudah memiliki kekasih?"
Danu langsung melotot ke arahku, sungguh itu sangat menyeramkan. "Jangan bilang ente punya perasaan sama dia?"
Aku hanya mengangguk, berbohong pun percuma karena nanti pada akhirnya akan ketahuan juga. "Sepertinya aku mulai kagum sama dia."
"Sebaiknya ente kubur dalam-dalam, asal ente tahu, Dhira sudah punya suami dan satu orang anak."
Duar!
Seperti satu ledakan berhasil meledak di hati aku, ternyata Adhira sudah menikah. Benar kata Danu, aku harus melupakannya.
Sejak saat itu aku memilih untuk membuang perasaanku dalam-dalam. Walaupun semakin ku hindari semakin besar rasa ini. Hingga suatu hari, aku mendengar jika Dhira sedang bertengkar dengan suaminya dan meminta bantuan untuk tinggal di apartement. Aku merasa ini adalah kesempatan bagus untukku.
Walaupun terkesan jahat, tetapi bukan aku yang jahat. Suaminya 'lah yang menyia-nyiakan emas berlian hanya demi sebuah batu krikil yang sedang menyamar.
Bodoh sekali suaminya telah menyia-nyiakan perempuan hebat seperti Adhira. Andai saja aku di beri kesempatan, takkan ku biarkan sedikit saja air mata itu menetes.
Satu tahun kemudian, pengadilan telah mengatakan mereka sudah sah bercerai. Sungguh aku semakin bahagia, Tuhan memberikan jalan agar aku bisa mendekati bidadari seperti Adhira.
Sejak saat itu hubunganku dan Adhira semakin dekat, aku berharap lama-lama hatinya terbuka sendiri untukku.
"Bukan karena Bapak menyukai saya, 'kan?"
Ckit!
Aku benar-benar terkejut saat mendapatkan pertanyaan itu, apa dia merasa risih dengan perhatian yang aku berikan selama ini?
__ADS_1
Aku melihat Adhira seperti tersiksa dengan perhatian yang aku berikan, aku tak mau membuatnya kepikiran. Aku memilih mengungkapkan perasaanku, terserah bagaimana nantinya yang penting perasaan ini sudah sampai di telinganya.
Aku bahagia ternyata Adhira mau menjalankan pendekatan ini, walaupun aku belum tahu bagaimana nanti ujungnya. Namun aku percaya dengan takdir dan kuasa Tuhan. Tuhan nggak pernah salah untuk menyatukan dua orang yang berbeda menjadi satu.
***
Adhira POV
Mobil sudah terparkir di depan rumah Mas Rayyan. Hatiku tak karuan, bukan karena masih menyukainya. Akan tetapi karena takut berjumpa lagi dengan wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga kami.
"Ada saya di sini," ucapan singkat Pak Zaydan benar-benar membuatku menjadi tenang.
Aku mengangguk, "Bismillah."
Kami turun dari mobil lalu berniat mengetuk pintu rumah tersebut terlebih dahulu. Samar-samar aku mendengar suara Zavier sedang menangis karena habis di pukuli oleh seseorang.
"Masih mau melawan?"
"Tidak, Oma ..."
"Bersihkan kamar mandinya!"
"Iya, Oma ..."
Aku sudah tidak tahan mendengarnya, aku buka saja pintu itu dengan kencang. Zavier langsung berlari ke arahku, "Bunda ... Zavier mau pulang saja sama Bunda ..."
Aku langsung memeluk putraku, "Iya, Nak. Kita pulang sekarang."
__ADS_1
"Dhi--Dhira ..." Ucap Mama Rima gelagapan.
"Dhira nggak nyangka, Zavier di suruh datang untuk di jadikan pembantu. Dimana hati nurani Mama sebagai Nenek?"
"Itu --- itu karena dia yang salah."
Aku menoleh ke Zavier, "Zavier melakukan apa, Nak?"
"Zavier cuma nggak mau manggil Tante jahat itu dengan sebutan Mama ..."
"Oh, begitu ceritanya. Zavier masih polos, Ma. Jangan pernah Mama paksakan hal yang tidak ingin dia ucapkan. Dimana ayahnya? Kenapa kalian tidak memperlakukan Zavier dengan baik?"
"Pelankan suaramu!" Titah Mama Rima.
"Kenapa, Ma? Apa Mama malu? Harusnya Mama malu, anak Mama buntingin anak orang!"
"Dhira!" Pekik Mama Rima.
Satu tangannya hampir saja ingin menamparku, tetapi tangan gagah menahannya. "Jauhkan tangan ibu dari wajah calon istri saya."
"Wah, Om Zay mau menikah dengan Bunda? Asyik, Zavier punya Ayah baru. Zavier panggil Ayah saja mulai sekarang ya?" Ucap Zavier dengan sangat antusias.
Hal itu membuat telinga Mama Rima mau pecah, ia menjadi semakin marah saat ini. "Zavier! Panggil dulu istrinya Ayah itu mama, baru kamu panggil Ayah dengan lelaki ini."
"Nggak mau! Dia Tante jahat!" Teriak Zavier.
"Cukup, Ma ... Zavier tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Jangan pernah memaksakan Zavier lagi. Dhira nggak akan mau memberikan Zavier menginap di rumah ini lagi, kalau kalian tetap memaksa, Dhira akan pakai jalur hukum!"
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang membuka kamarnya, "Ada apa ini ribut-ribut?" Lalu ia melihat ke arahku, "Dhi -- Dhira!"