
Kini kami sudah sampai di rumah, beberapa plastik yang berisi pesanan pun kamu keluarkan dari mobil. Mama Rima melihat pesanan nya sambil tersenyum, sudah ada 4 plastik besar yang berisi pesanan Mama Rima dan bahan-bahan dapur bahkan beberapa di antaranya akal-akalanku dan Mas Rayyan membelinya, agar kami punya bahan tersebut.
Aku juga membeli persediaan Indomie, pop mie dan jajanan lainnya untuk aku makan sendiri. Felixia juga aku belikkan dan sudah di bagikan ke dirinya.
Mama Rima yang melihat aku juga meletakkan plastik lainnya untuk ku taruh di kamar, ia mengejarku. "Kenapa plastik yang ini taruh di kamar?" protesnya.
"Ini jajanan Dhira, Ma." Sahutku.
"Ah, begitu? Terus kalau Felixia mau gimana?"
"Kalau Xia mau ya tinggal ambil saja, Ma. Lagian Xia juga sudah Dhira belikkan."
Mama Rima terdiam sejenak, "Tetap saja itu nggak boleh, taruh di dapur! Kau jangan pelit jadi orang, kalau nanti Mama mau gimana? Masa harus ke kamar kau!"
Astaga, padahal Mama Rima juga sudah aku belikkan. Lantas, apa masih kurang? Mama Rima belum begitu tua, tetapi sifatnya yang menjengkelkan itu mengalahkan orang yang sudah uzur menurutku.
"Baik, Ma."
Aku sengaja tidak memberitahukan ini pada Mas Rayyan, beliau mau tugas keluar kota dan aku tidak ingin membuatnya menjadi kepikiran.
***
Sore harinya Mobil berwarna silver pun masuk ke pekarangan rumah. Ternyata itu adalah teman Mas Rayyan yang ditugaskan untuk menjemputnya. Satu buah tas besar seperti koper itu pun di taruh ke bagasinya.
__ADS_1
Mas Rayyan pamit pada kedua orangtuanya, Felixia juga ikut menyalaminya. Kini giliran aku dan Zavier, Mas Rayyan mencium Zavier sebagai ucapan pamit seorang ayah pada putranya yang masih belum bisa berbicara.
"Anak Ayah, baik-baik dirumah ya. Jaga Bunda, jangan bandel ya Nak. Jangan repotin Bunda." Pesan Mas Rayyan pada Zavier, putra kami pun langsung tersenyum seakan mengerti maksud dari ayahnya.
"Kamu juga baik-baik ya dirumah." Sambil mencium keningku, lalu aku mencium punggung tangan suamiku.
"Mas hati+hati ya! Sudah sampai jangan lupa kabarin."
"Iya, Sayang."
"Kaya pergi jauh saja, Rayyan sudah kamu pergi saja. Kasihan teman kamu sudah nungguin!" Protes Mama Rima.
"Iya, Ma. Assalamu'alaikum."
Ku tatap kepergian suamiku, walau hanya sebentar tetapi hatiku tidak tenang untuk tinggal disini. Ini seperti neraka dunia!
Bukan maksud untuk tidak patuh dan tidak hormat padanya, tetapi ibu mertuaku sangat berbeda dari yang lainnya. Apa aku bisa menjalani ini sendiri? Tuhan, kuatkan aku.
***
Setelah Mas Rayyan pergi, aku merasa rumah terasa sepi dan hampa apa lagi saat Zavier tertidur. Aku harus menjadi babu saat Zavier tidur, kemudian main bersama Zavier saat dia bangun. Ah begitu 'lah rutinitasku.
Kini Zavier sedang bermain denganku, ia sepertinya mengajakku untuk keluar karena tanganku di arahkannya keluar.
__ADS_1
"Zavier, kita mainnya di dalam saja ya!" Pintaku karena hari terlihat panas, ini sudah jam 1 siang, bukan waktunya bermain diluar, pikirku.
"Kalau anak kamu mau main diluar, pergi saja! Kasihan dia di rumah terus." Papa Sam tiba-tiba sudah berada di belakang kami.
Dengan terpaksa aku keluar mengajak Zavier, Papa Sam menyuruhku untuk membawa Zavier keluar rumah. Astaga, aku nggak terbayang teriknya seperti apa disana. Sebagai menantu, aku hanya bisa menuruti semua yang disuruh oleh keluarga suamiku ini.
Aku memutuskan untuk mengajak Zavier ke rumah Hanum, tetangga baru kami. Kebetulan sekali Hanum sedang bermain dengan putrinya di teras rumahnya.
"Assalamu'alaikum," sambil ku ketuk pagarnya.
"Waalaikumsalam, wah ada Tante Dhira, Nak." Katanya pada putri cantik itu.
"Maaf ya, ganggu. Anak minta main keluar!"
"Nggak pa-pa, Dhira. Justru aku senang karena anakku jadi ada temannya sekarang."
"Mau minum apa? Kita pesan saja yuk, aku pengen beli online."
"Eh, nggak usah. Lagian kami mau main bukan mau bertamu!"
"Nggak pa-pa, Dhira. Aku malah senang! Oh ya, aku pesankan menu yang sama saja ya kaya punya aku."
Niat hati mau bermain, malah ngerepotin. Aku jadi merasa nggak enak, padahal Hanum terlihat baik sekali. Kami pun berbincang bersamanya sembari menunggu anak-anak pada main. Zavier dan anak Hanum tidak berkomunikasi sama sekali, Zavier sibuk dengan aktivitasnya, sedangkan anak Hanum sudah lelah mengajaknya main bersama.
__ADS_1
"Zavier memang suka main sendiri ya, Dhira?" tanya Hanum memperhatikan anakku.