
Membawa Zavier di kondisi seperti ini memang benar-benar menyakitkan, bayi kecil itu tak tahu apa-apa dan ia harus menjadi korbannya. Akibat kesalahan kami sebagai orang tua ia harus menerima deritanya. Ah, tidak! Bukan aku yang salah, tapi ayahnya.
Pagi telah tiba, sebelumnya aku sudah meminta izin pada Pak Zaydan dan Mas Danu untuk tidak bisa datang. Aku sangat bersyukur karena tiba-tiba Mbak Hanum malah datang ke hotel tempat aku menginap.
"Dhira ..." panggil Mbak Hanum, ia langsung memelukku.
Aku menangis, tak dapat ku bendung lagi rasa ini. "Kamu harus kuat, Dhira. Aku ada di sini, aku mendukungmu."
"Bagaimana keadaan mereka di rumah? pasti mereka sedang menyalahkan aku."
"Tak perlu ku jelaskan lagi, kamu pasti sudah merasakannya. Jadi sekarang apa rencana mu?"
"Aku mau nyewa rumah atau apartemen."
"Saran aku sebaiknya nyewa apartemen saja biar ada yang jaga."
"Mahal nggak?"
"Kayanya ada yang murah, nanti aku bantu carikan."
Mas Danu langsung mendekat, "Bagaimana kalau kamu nyewa apartemen milik Zaydan?"
"Apa nggak merepotkan?"
"Nggak, aku yakin nggak. Bentar, biar aku ke kantor dan bicara sama Zaydan."
Ku lihat Mbak Hanum mencium tangan suaminya, benar-benar mesra hubungan mereka membuat ku menjadi iri.
__ADS_1
***
Siang harinya Mas Danu kembali lagi ke hotel dan membawa kabar gembira. Kata Mas Danu, Pak Zaydan sudah setuju dan boleh di tempati saat ini juga. Setelah melunasi administrasi kami langsung pergi dari hotel.
Langkahku terhenti saat melihat Pak Zaydan berada di depan mobilnya, "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," sahut kami bertiga.
Aku benar-benar terkejut saat ini, "Bapak di sini juga?"
"Hm, iya, saya akan mengantar kamu ke sana karena kebetulan si Danu tidak tahu apartemennya. Ah, iya ... sudah pada siap?"
"Su-sudah ..." Aku menjawab dengan gelagapan, karena merasa bingung akan ikut dengan siapa. Mas Danu dan Mbak Hanum membawa mobil, sedangkan Pak Zaydan juga membawa mobilnya.
Mbak Hanum dan Mas Danu sudah berada di dalam mobilnya, aku masih terdiam di tempat. Pak Zaydan membuka kaca mobilnya, "Ayo, masuk ..."
"Tapi, Pak --"
"Ma-mau ..."
"Ayo, nanti keburu anak kamu menangis."
"Terima kasih, Pak."
Di dalam mobil tak ada percakapan, aku merasa sangat canggung sekarang. "Kok kamu panggil Pak sih? ini 'kan bukan di kantor."
"Saya benar-benar merasa nggak enak, Pak."
__ADS_1
"Santai saja, Dhira ... Oh iya, siapa namanya?" sambil mengelus kepala Zavier.
"Zavier, Pak."
"Anak yang ganteng," sahut Pak Zaydan.
Ku lirik ponselku, sudah entah berapa kali ada panggilan masuk. Itu bukan dari suamiku, melainkan Mama Rima. Aku benar-benar bingung kenapa wanita paruh baya tersebut selalu ikut campur dalam rumah tangga kami?
"Angkat saja, Dhir. Siapa tahu penting," saran Pak Zaydan. Aku tak mungkin mengatakan padanya jika aku malas mengangkat telpon dari mertuaku dan menceritakan semuanya padanya. Akhirnya aku klik tombol hijau di sana.
[*Assala---]
[Dimana kamu?]
[Di luar, Ma.]
[Kamu ini bagaimana? suami kamu nyariin itu, pulanglah, Dhir. Mama merindukan Zavier.]
[Maaf, Ma. Nggak bisa!]
[Kamu mau cerai? iya? kalau begitu urus suratnya, karena Rayyan nggak akan mau mengurusnya.]
[Baiklah, di tunggu saja, Ma*.]
Saat aku mendengar suara Mas Rayyan dari belakang memanggil ibunya dengan sangat marah, aku langsung mematikan ponselku. Ternyata ini yang Mas Rayyan mau, pikirku.
Mempertahankan rumah tangga adalah pilihan yang sulit sekarang, aku berpikir untuk apa aku bertahan? yang membuatku bertahan telah mengkhianati aku. Aku juga yang sudah menghidupkan keluarga selama ini, aku pasti bisa menghidupkan Zavier seorang diri.
__ADS_1
"Hapus air mata kamu, karena mereka tak pantas membuat air mata kamu menetes seperti itu." Sambil menyerahkan sebuah Tissue untukku..
"Terima kasih, Pak."