Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 22


__ADS_3

Ini nggak bisa di biarkan, suara Mas Rayyan semakin meninggi. Tetangga akan mendengar kegaduhan ini jika dibiarkan terus. Akhirnya aku keluar untuk melihat kejadian tersebut.


"Mas!" Panggilku.


"Nah, ini dia nih orangnya. Bisanya cuma ngaduh saja! Kalau nggak ikhlas nggak usah di pesan, Dhir. Kami juga masih punya uang kok kalau untuk makan saja!" Ketus Mama Rima.


Aku mengerutkan alis, aku nggak tahu permasalahannya apa, tetapi aku seperti tokoh utamanya disini. "Mas, ada apa?" Ku tanya pada suamiku dan mengabaikan ucapan Mama Rima.


"Kenapa kamu diam saja saat tidak di beri jatah untuk makan yang kamu pesan, Dhira?"


'Deg!


Ku tatap suamiku, matanya membulat sempurna. Sepertinya dia saat ini begitu marah, entah padaku atau pada Mama mertuaku. Aku bingung untuk menjawab apa, memberitahu semuanya juga merupakan kesalahan yang besar karena itu akan menyebabkan peperangan antara ibu dan anak, mana berani aku melakukan itu.


"Dhira ... Jawab!"

__ADS_1


"Hm ... Dhira nggak pa-pa, Mas. Mama benar, Dhira harus irit. Ini semua juga salah Dhira karena tadi nggak sempat masak sebelum pergi."


"Dhira ... Dhira ... Nggak usah sok baik gitu di depan Mama. Padahal kau kalau di belakang pasti membicarakan Mama, iya 'kan?"


"Nggak, Ma. Nggak ada!"


"Nggak usah bohong, sok suci kau!"


"Ma!" Tegur Mas Rayyan dengan suara meninggi, aku saja sampai terkejut mendengarnya.


"Lihat dirimu sekarang, Ray! Apa kamu Rayyan yang Mama kenal? Sudah berani kamu ya nada tinggi sama Mama? Apa istri kamu yang mengajari kamu? Iya? Memang ya zaman sekarang, istri yang bekerja lebih sopan di bandingkan dengan istri yang dirumah saja. Padahal dia sarjana!" Ketus Mama Rima sambil tersenyum licik.


Seseorang menggebrak meja membuat Mama menjadi diam. Ck, pantas saja Mama Rima diam, ternyata Papa Sam 'lah yang melakukan itu. "Diam! Hentikan semuanya! Rima, kamu makan sana." Titah Papa Sam. Lalu ia melihatku, "Dan Dhira, kamu ___"


"Dhira ke kamar saja, Pa. Kasihan Zavier di tinggal sendirian." Potongku.

__ADS_1


"Sadar diri itu bagus!" Sahut Mama Rima meledekku.


Aku tak menyahutinya lagi, biarkan saja Mama Rima marah. Aku melangkahkan kaki untuk pergi dari sana, lebih cepat lebih bagus pikirku. Tiba-tiba Mas Rayyan memegang tanganku, "Kamu disini saja, temenin Mas makan."


"Ta __tapi ..."


"Mas nggak terima bantahan!" Tegas Mas Rayyan.


Seporsi berdua, itulah yang kami lakukan saat ini. Mas Rayyan menyuapkan aku, ini begitu manis. Sudah lama kami tidak seperti ini. Apalagi kami tidak pernah pacaran, aku hanya merasakan mabuk cinta saat awal menikah. Mama Rima juga tidak membenciku seperti ini dulu. Tetapi saat ia tahu jika aku tidak bekerja dan malah langsung hamil, beliau berubah drastis memperlakukan aku. Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan ini, karena porsinya sangat dikit untuk dibagi berdua. Ku tatap Mas Rayyan sembari memberikan isyarat untuk menambah nasi, Mas Rayyan malah menggelengkan kepalanya.


"Alhamdulillah, kenyang." Kata Mas Rayyan.


"Kamu yakin kalau kamu kenyang, Ray? Porsi sedikit begitu mana cukup! Apalagi makannya di bantu sama istrimu."


"Alhamdulillah, Ma. Rayyan kenyang, apalagi makan bareng istri. Nikmat sekali, Ma!" Sambil menatapku dengan penuh cinta, aku dapat melihat itu.

__ADS_1


Mama Rima malah menggelengkan kepala, "Dhira ... Dhira ... Suaminya butuh makanan yang cukup eh malah dikurangi."


Allahuakbar, di salahkan oleh mertua adalah makanan sehari-hari untukku. Tetapi kenapa rasanya masih amat sakit?


__ADS_2