Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 27


__ADS_3

Niat hati mau bermain, malah ngerepotin. Aku jadi merasa nggak enak, padahal Hanum terlihat baik sekali. Kami pun berbincang bersamanya sembari menunggu anak-anak pada main. Zavier dan anak Hanum tidak berkomunikasi sama sekali, Zavier sibuk dengan aktivitasnya, sedangkan anak Hanum sudah lelah mengajaknya main bersama.


"Zavier memang suka main sendiri ya, Dhira?" tanya Hanum memperhatikan anakku.


"Iya, Num. Bahkan di panggil saja dia nggak lihat. Mungkin belum mengerti, 'kan masih satu tahun."


"Kamu ada kasih main ponsel nggak? Maaf ya, tapi dari yang aku tahu banyak sekali dampak buruk dari anak-anak yang main ponsel."


Aku mengangguk, "Kak Ocha yang awalnya ngasih, aku sudah larang tapi ya keluarga suamiku sangat benci dengan pantangan."


"Ya Allah, Dhira. Kamu yang sabar ya!" Hanum tampak kasihan padaku, padahal aku tak butuh belas kasihan. Aku hanya butuh kekuatan sekarang.


"Eh iya, kayanya pesnana kita sudah sampai. Tunggu sebentar ya!" Hanum pergi ke depan gerbangnya, lalu tak lama kemudian ia kembali dan menyodorkan aku sebuah plastik yang isinya adalah minuman. "Di minum dulu, Dhira."


"Terima kasih, Num. Jadi ngerepotin!" Ku lihat minumannya bermerek Drink O'clock. Ini pasti mahal sekali, aku jadi nggak enak dengan Hanum.


"Gimana? Enak nggak?"


"Enak, ini pasti harganya mahal ya Num?" Tanpa sungkan aku langsung bertanya padanya.


"Enggak kok, masih ramah kantong."

__ADS_1


"Kamu kerja nggak, Num?"


"Aku itu suka nulis, Dhir. Terus tulisan aku nanti aku serahkan sama penerbit. Alhamdulillah, hasilnya lumayan."


"Kalau suami kamu kerja dimana?"


"Dia buka travel umrah, Dhir. Kamu mau kerja nggak? Kemarin Abinya Aisha bilang butuh tambahan karyawan."


"Aku pengen sih, tapi ___"


"Coba kamu bilang dulu sama suami kamu, kalau kamu mau Insya Allah aku akan bantu. Lumayan 'kan untuk jajan anak kamu. Jujur, aku sebenarnya nggak tega dengar kamu di marahi terus sama mertua kamu."


Perlahan Hanum mengangguk, "Rumah kita sebelahan, sudah pasti aku mendengarnya. Kamu yang sabar ya, Allah nggak tidur, Dhir."


"Aku sabar kok," tak terasa air mata ini pun terjatuh. "Mungkin karena aku nggak kerja, sementara menantu dan anaknya yang lain berpenghasilan makanya aku di anggap seperti menyusahkan saja. Aku juga sadar diri, kok. Tapi bukan kemauan aku untuk nggak kerja, Mas Rayyan melarangku padahal dulu sebelum nikah dia nggak ngelarang aku. Aku juga nggak mau sarjanaku nganggur kaya gini." Lanjutku, sudah terlanjur curhat ya aku lanjutin saja lagi. Cuma Hanum yang mau mendengar keluh kesah ku.


"Sabar ya, Dhira. Orang tua suami kamu itu sama seperti orang tua kamu juga. Insya Allah pahala untukmu berlipat ganda."


"Aamiin," ku hapus air mataku.


"Makasih ya, Num. Cuma kamu yang mau mendengarnya."

__ADS_1


"Cerita saja samaku, Dhir. Jangan sungkan! Kamu itu orang baik, aku beruntung punya teman kaya kamu."


***


Bintang-bintang menghiasi malam yang gelap, ini adalah pemandangan yang sangat indah menurutku. Sudah pukul 11 malam, harusnya aku sudah ikut tertidur di samping Zavier. Tetapi perutku bergejolak, mereka meronta-ronta seperti ingin berteriak, 'Dhir lapar Dhir! Lapar!'


Aku keluar sebentar dan membuat mie instan kesukaanku. Setelah itu aku bawa ke kamar. Aku terkejut, kenapa mie instan ku tinggal 3? Padahal aku membeli 10 kemarin.


Tak lama kemudian pesan dari Mas Rayyan datang, [Dek, sudah tidur?]


[Belum, Mas. Lagi makan!]


[Wah, bagi dong! Oh iya, mie nya masih ada nggak?]


[Tinggal tiga, Mas. Kok bisa ya? Padahal Dhira baru makan malam ini.]


[Mungkin di ambil Xia atau Mama. Ya sudah, nanti Mas beli lagi kalau pulang. Baik-baik di rumah ya, love you!]


[Love you too!]


Aku taruh kembali ponselnya, rinduku pada Mas Rayyan pun terobati walaupun itu sedikit. Setiap jajanan ku habis, aku selalu melapor pada Mas Rayyan. Karena aku takut Mas Rayyan mengira jika aku 'lah yang menghabiskan semuanya. Setelah makan, aku baring di samping Zavier sambil memeluknya. Ini adalah aktivitasku untuk mengobati kepenatan yang ada. Ya, Zavier 'lah obatnya. 'Bunda sayang sama Zavier,' ini adalah kalimat yang selalu aku lontarkan setiap kali ingin tidur.

__ADS_1


__ADS_2