
Ruangan Mas Rayyan lumayan jauh dari pintu masuk, sehingga hampir saja Mas Dadang mencegah ku karena dirinya ternyata mengejar ku sejak tadi. Akan tetapi seseorang memanggilnya karena ada urusan kerjaan.
'Ceklek!
"Mas Rayyan!" Aku memekik padahal masih di depan pintu.
"Dhi--Dhira!" Mas Rayyan terlihat gelagapan, lalu di lihatnya Zavier yang sedang menangis. "Zavier anak Ayah ..."
Ya, Zavier memang menangis sejak aku membawanya ke ruangan ayahnya. Mungkin saat ini ia sedang ketakutan. Akan tetapi bukan itu yang aku pikirkan saat ini, entahlah!
Pikiranku sangat kacau. Kecewa, marah, sedih, sudah bercampur menjadi satu. Aku tak menyangka laki-laki yang ku cintai melakukan hal yang sangat menjijikkan.
"Dhira sayang, Mas bisa jelaskan semuanya. Dengarkan Mas dulu!"
'Plak!
Emosiku sudah berada di ubun-ubun, tanpa di sengaja aku menampar wajah suamiku. "Satu tamparan untuk laki-laki yang selalu aku percaya!"
'Plak!
Ku layangkan lagi tanganku namun bukan untuk Mas Rayyan, tetapi wanita yang kini sedang merapikan bajunya. "Satu tamparan juga untuk wanita yang aku anggap sahabatku."
__ADS_1
Ya, kali ini aku melihat Mas Rayyan sedang berduaan dengan rekan kerjanya. Dia bernama Melani, wanita itu sudah aku anggap saudara sendiri karena ia terlihat sangat baik saat berjumpa. Aku dan dirinya memang sering berjumpa karena kantor Mas Rayyan sering mengadakan silaturahmi untuk semua karyawan dan keluarganya.
"Sayang, Mas bisa jelaskan."
"Jelaskan apa? Hm? Apa yang mau Mas katakan?"
"Dia hanya ingin memberikan laporan, Sayang."
"Laporan kiss gitu? Mas, aku tidak bodoh! Aku lihat semuanya. Kamu menciumnya 'kan? Mau ngelak kamu? Lihat saja di sana, masih ada bekas tanda kepemilikan!" Terangku sambil menunjuk area leher milik Melani.
Keduanya hanya bisa terdiam, Mas Rayyan tak bisa berkata-kata lagi karena sudah tertangkap basah. Aku berlari keluar meninggalkan mereka.
Di dalam mobil aku hanya bisa menangis, untunglah putraku diam seakan mengerti dengan keadaanku. 'Kamu jahat, Mas!'
"Dhir, Dhira!" Mas Rayyan terus mengetuk kaca mobilku.
Tak tahan melihatnya, aku langsung melaju mobil dengan kencang. Istri mana yang tidak sakit hati melihat suaminya tengah berselingkuh?
***
Aku sudah sampai di rumah, sebelum Mas Rayyan sampai aku langsung mengemasi pakaianku dan Zavier. "Dhira, mau kemana kau ini?"
__ADS_1
"Pergi, Ma."
"Pergi? pergi kemana? Oh, kamu mau pergi bersama selingkuhan kamu ya?"
"Asal Mama tahu, Mas Rayyan yang berselingkuh."
"Apa kamu bilang?"
Ku lihat Mama Rima sudah bersiap-siap ingin melayangkan tangannya, tapi tiba-tiba Mas Rayyan datang dan menahannya. "Cukup, Ma. Bukan Dhira yang salah, tapi Rayyan!"
"Ngomong apa kamu, Ray?"
"Rayyan khilaf, Ma. Rayyan menduakan Dhira," lirihnya.
"Permisi, kami mau lewat." Aku langsung berlalu begitu saja, aku tahu Mama Rima masih tidak terima. Ia ingin mengejar ku tetapi aku sudah lebih dulu berlalu meninggalkan mereka. Ku lihat Mas Rayyan juga tidak menghalangiku, ia membiarkan ku pergi membawa Zavier saat ini.
***
Suara petir membuatku merasa nyaman untuk menangis, kemana aku harus pergi sekarang?
Tiba-tiba aku melihat sebuah hotel di sana, akhirnya tujuan pertamaku adalah menginap di hotel sebelum aku menyewa rumah atau apartemen nantinya. Hari sudah semakin larut, aku tak mungkin membiarkan putraku tidur di dalam mobil.
__ADS_1
"Maafin Bunda, Nak ..."