
Waktu begitu cepat berlalu, tak di sangka semuanya terjadi begitu saja. Semenjak saat itu, aku mulai menutup diri di rumah ini. Aku pikir rumah mertua juga rumahku, ternyata aku hanyalah orang asing yang harus sadar jika saat ini sedang numpang di rumah ini.
Menurutku menjaga jarak dengan orang di rumah ini adalah salah satu cara yang tepat. Walaupun sudah seminggu berlalu, kami juga sudah saling bermaafan tetapi rasanya aneh saja jika harus berpura-pura lupa dengan kejadian itu.
Caci maki di rumah ini yang selalu masuk di telingaku masih jelas di ingatanku. Nggak nyangka saja, seorang anak kecil seperti Felixia bisa berbicara yang tidak sopan pada orang yang lebih dewasa. Anehnya lagi, orang tuanya tidak melarang. Katanya anak-anak Mama Rima adalah orang yang berpendidikan, pintar, dan sopan. Nyatanya, anak sekecil itu berbicara seolah dia 'lah yang paling benar.
Ck! Rasa sakit di hatiku membuatku menjadi benci dengan orang-orang yang berada di rumah ini. Sejauh ini, apa aku salah?
"Sayang, kamu mikirin apa?" Mas Rayyan mendekatiku.
"Eh, Mas!" Aku benar-benar tersentak kaget.
"Jawab dong, kamu mikirin apa?"
"Mikirin uang kita kapan bertambah ya, Mas? Dhira pengen beli rumah."
"Kamu sudah nggak betah ya? Apa kita ngontrak rumah saja?"
Aku terdiam sejenak, memikirkan kehidupan di luar sana jika mengontrak. Gaji Mas Rayyan hanya lima juta, kebutuhan di kota ini lumayan besar, belum lagi soal biaya bulanan rumah beserta air dan listriknya. Aku menggelengkan kepala dengan cepat, "Kita tunggu uang terkumpul saja, Mas."
"Kamu nggak pa-pa?"
"Dhira nggak pa-pa, Mas."
"Apa kamu bisa sabar sampai hari yang kita tunggu itu tiba?"
__ADS_1
"Dhira akan berada di samping Mas, kita suami istri. Kita harus bergandengan tangan Walau badai itu menerpa. Di sini Dhira cuma punya Mas, kepercayaan Mas yang Dhira jadikan penyemangat."
"Mas bangga punya istri seperti kamu!"
Aku hanya bisa tersenyum, hanya suamiku yang bangga dengan diriku. Sementara mertua dan iparku sudah tidak menyukaiku. Mungkin di rumah ini aku tak di anggap ada.
'Drddddd!
Ponselku bergetar, aku langsung melihat nama yang tercantum di sana. 'Bapak!' tumben sekali Bapak meneleponku, ada apa ini?
Aku mengangkatnya, tak lama kemudian aku melepaskan ponselku dalam genggamanku. Aku tak sanggup berbicara, hanya deraian air mata yang mampu menjawab segalanya. Mas Rayyan pun mengambil ponselku, bertepatan dengan itu Mama Rima ikut masuk ke kamar karena mendengar suara tangisanku.
"Ada apa ini?" tanya Mama Rima, lalu beliau terdiam saat Mas Rayyan memberikan jari telunjuknya memberikan isyarat agar tidak berbicara terlebih dahulu.
"Ada apa, Ray?" Mama masih terlihat penasaran.
"Ibu sakit, Ma. Sudah seminggu di rumah sakit dan keadaannya semakin drop."
"Ya sudah kalian pulang besok! Barang-barang kalian kau siapkan saja dulu, Dhir. Zavier biar Mama yang jaga!"
"Makasih, Ma."
Aku tercengang, saat ini Mama Rima tak seperti biasanya. Ia sangat perhatian, ternyata masih ada jiwa kemanusiaannya padaku. Aku hanya bisa berharap jika suatu saat nanti Tuhan memberikan keajaiban-keajaiban lainnya untukku di keluarga ini.
***
__ADS_1
Hari berganti, koper-koper yang akan di bawa pun sudah tersusun rapi. Aku berpamitan dengan Mama Rima, Papa Sam dan Felixia. Walau terkesan kaku, tetapi aku harus pamit pada mereka. Kami sengaja pulang naik Bus, karena perlu ongkos yang mahal jika harus naik pesawat. Selain untuk irit, di sana kami juga butuh duit. Karena walau gimana pun kami adalah anak perantau, orang-orang tahunya jika kita pulang kampung itu tandanya uang sudah mencukupi padahal tak semua orang seperti itu.
"Sudah siap?" tanya Mas Rayyan.
"Sudah!" jawabku sambil menggendong Zavier.
Bismillah, kami melangkahkan kaki masuk ke dalam bus yang cukup besar ini dengan sangat hati-hati. Karena aku membawa Zavier dalam gendonganku, bayiku itu tidak mau di gendong sama ayahnya. Padahal lagi situasi seperti ini, tetapi masih saja ia manja padaku.
Di balik kaca yang tembus pandang keluar, Mama Rima dan yang lainnya melambaikan tangan ke arah Zavier. Aku pun membalasnya dengan menggerakkan tangan Zavier. Untung saja Zavier malah terkekeh melihatnya.
Tiga hari dua malam, begitulah jarak tempuh dari Medan ke kampungku. Cukup jauh dan sangat lama di jalan. Zavier terlihat anteng, mungkin dia mengerti perasaanku sebagai ibunya. Jalan yang memabukkan membuatku tak bisa banyak bergerak, aku memang tidak bisa berada di perjalanan jauh dengan jalan darat seperti ini. Ah entahlah, rasanya pusing sekali.
Setelah tiga hari, akhirnya kami sampai di kampung halamanku. Tangisan ku semakin pecah, ini adalah tanah lahirku. Sudah dua tahun aku tudak menginjakkan kaki ke sini.
"Kenapa menangis?" Mas Rayyan menggenggam tanganku.
"Dhira senang, Mas. Dhira rindu sama kampung."
"Jangan sampai menetes air mata juga, Sayang. Kasihan Zavier, dikiranya kamu pasti sedang sedih."
Astaga! Aku sampai lupa jika saat ini aku sedang menggendong Zavier. Benar kata Mas Rayyan, Zavier sedang menatapku. Ku cium keningnya dengan lembut, "Bunda nggak pa-pa, Nak. Bunda lagi senang sebentar lagi kamu bakalan ketemu sama Nenek dan Kakek."
Sementara menunggu Mas Rayyan memesan ojek online, aku dan Zavier duduk di sebuah kedai kopi. Aku memang tidak meminta Kakakku untuk menjemput, karena Kakak pasti sibuk mengurus Ibu di rumah sakit.
"Sayang, itu mobilnya. Ayo naik!" kata Mas Rayyan.
__ADS_1