Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 25


__ADS_3

Matahari telah terbit, burung berkeliaran dan ayam pun berkokok. Semua orang pasti semangat mengawali harinya kecuali aku. Bagaimana bisa aku semangat jika hari ini Mas Rayyan akan bertugas ke luar kota?


"Sayang, Mas 'kan hanya sebentar."


Aku tersentak, ternyata Mas Rayyan tahu yang aku pikirkan saat ini. "Tapi hanya Mas yang membuat Dhira mampu bertahan disini."


"Maksud kamu apa?"


"Mas jangan salah sangka dulu, Mas 'kan tahu orang tua Mas nggak suka sama Dhira."


"Ada Xia disini, ada Papa juga. Pasti kamu tidak akan di apa-apa in sama Mama."


"Mas, memang fisik Dhira nggak di sentuh. Namun apa kabar dengan hati ini?"


"Hanya satu minggu, apa kamu masih tidak bisa memaklumi?"


Pertanyaan Mas Rayyan seperti menuntutku untuk terus bertahan, terus bersabar, dan terus diam. Ia tidak tahu saja jika aku sudah sangat amat sabar, tetapi mau sampai kapan?


"Sayang ..." Mas Rayyan mencium keningku.


"Ya sudah," akhirnya aku pasrah. Jika saja istri dan anak boleh ikut, maka aku memilih untuk ikut bersamanya.


"Sebagai obatnya, Mas belanjain kebutuhan selama seminggu ya ..."


Aku tersenyum, Mas Rayyan pun menyuruhku untuk bersiap-siap. Zavier sudah mandi sejak tadi dan dia sedang bermain bersama Felixia, ah tidak bermain. Felixia hanya menemaninya bermain ponsel, ini adalah kegiatan yang menjengkelkan bagiku tetapi aku bisa apa?


Kalau di pikir-pikir lucu juga, karena aku adalah ibunya tetapi ucapan ku akan selalu kalah dengan perintah ibu mertuaku. Ah, ingin rasanya aku mengajak Mas Rayyan untuk pindah dari sini.

__ADS_1


***


"Mau kemana kalian?" Sudah ku duga, Mama Rima akan selalu bertanya kemanapun aku pergi.


"Belanja sebentar, Ma." Sahut Mas Rayyan.


"Oh, jangan banyak-banyak. Mama belikkan roti sama buah ya, sekalian jajan adikmu juga beli. Kebutuhan dapur juga banyak yang habis."


"Iya, Ma."


"Kau ikut, Dhira?" Sambil melirik ku sekilas.


"Ikut, Ma."


"Jangan lama-lama kalau gitu," sahut Mama Rima.


"Jangan di pikirin ucapan Mama, Sayang."


Kami pun pergi menjelajahi kota, aku meminta Mas Rayyan membawa kami ke supermarket. Aku rasa jika pergi sekali-sekali saja itu tidak akan boros. Tiba'lah kami di sana, sudah lama aku tidak keluar dari rumah. Di ajak ke supermarket saja aku sudah senang sekali sepertinya.


Berbagai macam yang aku ingin pun aku ambil terlebih dahulu, setelah itu mengambil pesanan dari Mama Rima. Astaga, ternyata pesanan Mama Rima lebih banyak dari pada yang aku ambil untuk diriku sendiri. Ingin marah tapi takut di bilang durhaka, akhirnya aku diam dan diam itu sudah menjadi makanan sehari-hari ku.


"Kita makan di restoran saja yuk!" ajak Mas Rayyan.


"Tapi, Mas ___"


"Sekali-sekali nggak pa-pa, Sayang. Lagian nggak ada Mama juga. Anggap kita lagi bebas."

__ADS_1


Di depan supermaket ada sebuah restoran elit, bahkan yang makan disana saja orang yang memakai mobil semua, jika pun mereka membawa motor, mereka malu memarkirkan motornya disana.


"Mas, Dhira boleh makan steak, nggak?"


"Boleh dong,"


"Asik!" Sudah sangat lama aku tidak memakannya, terakhir kali itu saat aku masih gadis dan pergi bersama teman-teman.


Kami pun makan dengan lahapnya, Zavier memesan sop buntut, anakku itu sangat suka dengan Sop, sampai-sampai sop nya habis tak tersisa. Setelah makan, Mas Rayyan memanggil pelayannya.


"Berapa semua, Mbak?"


"400 ribu, Mas."


Mas Rayyan membayarnya, aku tercengang dengan harganya. "Berarti hari ini kita menghabiskan uang 1.200.000 ya Mas?"


"Iya, nggak pa-pa, Sayang. Sekali-sekali!"


"Tapi itu jumlah yang besar, apa kata Mama Rima jika tahu kita menghabiskan uang sebanyak itu?"


"Jangan sampai tahu makanya."


"Kalau di tanya?"


"Bilang saja tidak tahu, nanti biar Mas yang jawab."


Mas Rayyan seperti mengetahui kegelisahan ku. Bukan uangnya yang membuatku cemas, tetapi omelannya 'lah yang membuat telingaku menjadi panas.

__ADS_1


__ADS_2