Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 28


__ADS_3

Hari yang ku tunggu pun tiba, Mas Rayyan pulang ke rumah setelah beberapa hari di rantau orang. Aku benar-benar menunggu kedatangan Mas Rayyan, suami yang ku rindukan.


"Assalamu'alaikum," suara di balik pintu terdengar jelas. Aku langsung berjalan membuka pintu untuknya. Ku yakin, suara itu merupakan suara yang ku rindukan.


"Waalaikumsalam."


Dugaanku benar, Mas Rayyan 'lah yang berada di balik pintu tersebut. Suamiku tersenyum sambil menatapku. "Baik-baik saja 'kan, Sayang?" tanya Mas Rayyan saat aku mencium punggung tangannya.


Belum sempat aku menjawab, Mama Rima sudah berada di belakang kami. "Memangnya kamu kira istri kamu ini Mama apain di rumah? ada-ada saja! cepat masuk, terus mandi biar segar." Titah Mama Rima.


"Iya, Ma."


Mas Rayyan berjalan mendahului aku, sedangkan aku langsung menutup kembali pintu tersebut. Mama Rima ternyata masih di tempatnya yang kini sedang mendekati aku. "Dhira! cerita apa saja kau sama suamimu? awas kau ya!"


***


Malam telah tiba, Mas Rayyan mengajakku pergi membeli lauk mengendarai sepeda motor. Itu tandanya, Zavier tidak bisa ikut bersama kami. Mama Rima diam saja saat Mas Rayyan menitipkan Zavier padanya. Sedikit heran tetapi aku tidak mau ambil pusing. Karena walau gimanapun Zavier adalah cucu mereka dan kami pergi juga untuk membeli lauk makan kami.


Seperti orang pacaran rasanya, jarang sekali aku mendapatkan waktu berdua dengan suamiku. Ku lingkarkan tanganku di punggung suamiku, aku sangat merindukannya membuat pelukan itu pun semakim erat.

__ADS_1


"Kangen banget ya?" goda Mas Rayyan.


"Banget, Mas." Aku memilih jujur, untuk apa berbohong pikir ku.


Tiba-tiba ponsel Mas Rayyan berdering, rekan kerjanya memintanya untuk mengirimkan sebuah data. Sialnya, Mas Rayyan hanya membawa ponsel biasa sedangkan ponsel kerjanya ia tinggal di rumah.


Mas Rayyan memutuskan untuk meminta tolong pada Felixia agar membantunya mengirimkan data. Beberapa menit kemudian Felixia sudah selesai melakukan tugasnya.


Mas Rayyan menelpon Mama Rima kembali, menanyakan kabar putra kami. [Zavier nangis, Ma?]


[Sudah cepat ajalah kalian pulang!]


Setelah membeli ayam bakar, kami pun pulang. Sampai di rumah Mama Rima malah membanting pintu rumah membuatku tersentak kaget.


'Brak!


"Dhira! Rayyan! Sini dulu ..."


Kami pun mendekati Mama Rima dengan seribu tanya, Mama Rima terlihat begitu tegang, wajahnya seperti ingin menerkam kami saat ini.

__ADS_1


"Dhira, jelaskan ini!" sambil menaruh ponsel Mas Rayyan di hadapanku.


Aku tersentak saat membaca chat yang aku kirim pada Mas Rayyan, aku menceritakan segala yang terjadi di rumah ini. Padahal aku hanya menerima perintah dari Mas Rayyan, tetapi kenapa Mama Rima marah padaku?


"Kurang ajar kau ya, diam-diam kau ceritakan kami sama suami mu. Apa maksudmu? Mama kira kau memang polos, rupanya hatimu busuk! kau juga ceritakan sama suamimu kalau Xia ngambil jajananmu, supaya apa kau ceritakan itu? kau mau ngadu antara Abang sama Adik?" lanjutnya dengan perasaan yang menggebu-gebu, aku saja tidak sempat berbicara.


Felixia menatapku dengan sinis, "Kalau nggak ikhlas, nggak usah sok nawarin."


"Stop!" Mas Rayyan membuat ibu dan anak menjadi diam, "Memangnya salah si Dhira dimana, Ma? yang dibicarakannya benar atau hanya omong kosong?" lanjut Mas Rayyan, rupanya ia membelaku.


"Mau itu benar atau tidak, harusnya dia nggak ngomong samamu. Otak kamu itu sudah di cuci habis sama dia, dimatamu sekarang Mama selalu salah. Pantas saja kamu sering marah sama Mama!" ketus Mama Rima.


'Duar!


Bagai kesambar petir rasanya, kini aku benar-benar salah di mata keluarga ini. Aku hanya menceritakan kebenaran, tetapi ternyata itu salah. Jalan satu-satunya aku harus meminta maaf walaupun aku tahu jika aku tidak salah. Tetapi Ibu pernah bilang, mengalah bukan berarti kalah karena mengalah merupakan suatu bentuk pendewasaan.


Mas Rayyan mengajakku untuk pergi dari rumah ini. Aku tidak setuju karena hari sudah larut malam. Kasihan Zavier, pikirku. Lagian kunci mobil di simpan oleh Felixia, padahal ia menyuruh kami pergi dari rumah ini tetapi kenapa kuncinya di tahan? sejak saat ini, hubunganku dengan Felixia menjadi renggang padahal aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri.


"Ya Allah, kuatkan aku." Sambil ku tatap Zavier yang sedang menangis, mungkin ia tahu jika ibunya sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2