
'Oeeek! 'Oeeeeek!
Hari menjadi gelap dan semakin gelap menandakan sebentar lagi sudah pergantian hari. Tepat pukul satu malam aku berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki, ia sangat tampan dan menggemaskan. Rasanya kesakitan yang dahsyat tadi terobati saat mendengar suara tangisannya.
Hai, Nak. Selamat datang ke dunia, selamat berpetualang dengan Bunda. Ah iya, Ayah dan Bunda sangat menyayangimu.
Tak lupa pula Mas Rayyan mengumandangkan adzan padanya, Masya Allah ... Aku masih tidak menyangka jika saat ini aku sudah memiliki dua jagoan, yaitu Ayah dan anaknya.
"Hai, Sayang. Siapa sih nama cucu Nenek ini?" Mama Rima begitu menyayangi cucunya walaupun ini bukan yang pertama.
"Ah iya, kita belum bicarakan soal nama, Sayang." Mas Rayyan membelai lembut pipiku.
"Zavier Al Fateh, gimana Mas?"
"Boleh, nama yang bagus." Aku begitu senang saat Mas Rayyan menyetujuinya, lalu ia menatap Mama Rima. "Bagaimana, Ma?"
"Bagus juga, tapi nanti kalau anak perempuan Mama ya yang beri namanya!" kata Mama dengan tersenyum.
Aku juga ikut tersenyum, wajar saja mertuaku seperti itu karena ia belum memiliki cucu perempuan.
***
Drddd Drddd
Ponsel ku terus berbunyi, aku pastikan itu dari Ibuku. Ternyata benar dugaanku, Ibu terus saja menelponku untuk menanyakan kabar putraku, Zavier. Sudah hampir satu jam kami teleponan, aku mulai merasa lelah. Lagian bukannya anak bayi dilarang terlalu sering terkena layar ponsel karena ada radiasi disana?
[Bu, sudah ya. Zavier sudah kelamaan dekat dengan ponsel. Nanti malam lagi ya Bu?]
Ibu mengangguk, terlihat dari layar ponsel tersebut. [Ya sudah, kamu banyak istirahat biar ASI nya lancar.]
[Iya, Bu. Assalamu'alaikum!]
__ADS_1
[Waalaikumussalam,] 'Tut!
Tak lama kemudian Mama Rima memanggilku, aku disuruh sarapan. Seperti pada umumnya, aku disuruh makan sayur katu. Konon katanya, sayur tersebut dapat memperlancar ASI. Ku lihat lagi makanan yang disajikan untukku, ternyata ikan goreng . Astaga, dimana sambalnya?
"Kamu kecarikan sambal ya?" Ternyata Mama mendengar isi hatiku.
"Iya, Ma."
"Kamu nggak boleh makan sambal, nanti anak kamu mencret!"
"Hah?"
"Dan ini, minum air hangat. Jangan minum es nanti anak kamu masuk angin!"
'Hah!
Aku harus mendengar mitos itu lagi, astaga ini 'kan sudah jaman modern! Dokter juga mengatakan jika itu semua hanya mitos. Boleh makan pedas, asal jangan berlebihan. Boleh minum air dingin, asal jangan berlebihan. Kenapa? Karena jika ibunya sakit, kasihan bayinya yang akan di abaikan oleh ibunya.
Siang menjadi malam, Mas Rayyan pun pulang. Ia menghampiriku dan Zavier yang sudah terlelap. "Anaknya sudah tidur, Bundanya kok belum?"
"Bunda nungguin Ayah, maaf ya nggak bisa ngurus Ayah." Aku menangis, belakangan ini aku lebih sering menangis.
"Kamu sudah terlalu lelah ngurusin bayi kita, jadi mulai saat ini kamu fokus urus Zavier saja ya."
Aku tertegun, Mas Rayyan benar-benar baik. Aku merasa beruntung menjadi istrinya. "Mas," panggilku.
"Hm, ada apa?"
"Pengen makan sate padang, boleh ya?"
"Kata Mama kamu belum boleh makan pedas, sate madura saja ya?"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala, "Pengen makan sate! Masa apa-apa nggak boleh sih?"
"Semua ini 'kan demi kebaikan kamu," sambil di elusnya pipiku.
"Hiks ... hiks ...."
"Hei, kenapa nangis?"
"Mas jahat!"
"Sayang ..." Tak ku sahut lagi, aku abaikan suamiku itu.
Tengah malam aku terbangun karena Zavier terus menangis. Bukannya menenangkan, aku malah ikut menangis. Seluruh orang di rumah pun jadi ikut terbangun karena mendengar tangisan berjamaah kami. "Ada apa, Dhira?"
"Hiks ... hiks ... Dhira nggak bisa nenangin Zavier, hiks ...."
Xia, kebetulan adik ipar ku itu juga ikut terbangun. Ia mendekatiku lalu memelukku dari samping. "Kak, kayanya Kakak terkena baby blues."
*****
Sambil menunggu kelanjutan dari Kisahnya Dhira, yuk mampir di punya teman Author yang nggak kalah serunya. cekidot👇
Blurb:
Harap bijak dalam memilih bacaan, terdapat adegan kekerasan, Kata-kata vulgar dan kotor
spin of novel Mr. Arogant
lanjutan dari Mr. Arogant... perjalanan kisah hidup dan cinta Alexander Yudista Miller putra sulung Xavier dan Nesa.
__ADS_1