Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 32


__ADS_3

Kebetulan sekali Zavier sedang menonton kartun kesayangannya di Tv. Mata Ibu pun berbinar saat melihat cucunya secara langsung, begitu juga dengan Bapak. Keduanya terlihat sangat senang karena telah berjumpa dengan cucunya.


"Zavier ..." panggil ibu dan bapak.


Tidak menoleh sama sekali, ya begitulah bayiku. Sudah satu tahun umurnya tetapi ia belum tahu namanya, belum bisa memanggil Bunda dan Ayah, bahkan belum bisa di perintah karena matanya tidak fokus. Ia hanya fokus pada satu saja jika dirinya sedang serius.


Ibu dan bapak saling pandang, aku tahu apa yang ada di pikiran mereka. Aku langsung mendekati mereka, "Bu, Pak. Zavier memang belum ngerti di panggil tapi dia dengar kok."


"Iya, Nak. Mungkin karena duluan pintar jalannya. Yang sabar saja dulu ya, nduk."


"Iya, Pak."


***


Satu Minggu sudah kami di rumah ini, perubahan kesehatan ibu semakin terlihat. Mungkin memang benar, ibu sakit karena terlalu merindukan anak perempuannya. Sedikit kasihan melihat ibu karena sakitnya di sebabkan olehku.


Tiba-tiba aku dan Mas Rayyan di panggil bapak berkumpul, kebetulan Zavier sedang tidur. "Dhira ... Rayyan ... Ada yang mau Bapak sampaikan," kata Bapak penuh dengan keseriusan.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?"


"Setelah satu minggu Bapak perhatikan Zavier sering sekali tantrum, mainannya kalau bukan hp pasti tv. Di panggil nggak mau noleh, tidurnya lama dan suka berjinjit saat jalan." Ucap Bapak dengan pelan.


"Kamu tahu nggak, Dhira ... Teman Bapak di kantor juga punya anak seperti itu. Dia berumur 3 tahun. Anaknya hiperaktif sama seperti anak kalian. Bapak nggak bilang anak kalian autis, nggak ... Anak seperti itu pintar, Nak. Cerdas! Berbeda dengan anak lainnya. Bapak hanya sarankan agar kalian membawanya ke dokter anak atau terapisnya."


'Brak!


Cukup tersulut emosi mendengarnya, Zavier ku di katakan anak yang tidak normal. Ck! Ibu mana yang rela?


"Maaf, Pak! Tapi Zavier normal. Wajahnya saja ganteng begitu, nggak kaya orang yang berkebutuhan khusus. Bapak Jangan bilang cucu Bapak yang aneh-aneh dong, Pak."


"Nduk, kalian 'kan orang berpendidikan ... Coba di cari di google dan pahami yang Bapak maksud ini."


'Hiks! 'Hiks!


Aku menangis sejadi-jadinya, cobaan apa lagi ini Ya Tuhan?

__ADS_1


"Maaf, Pak. Dhira ke kamar dulu ..."


Aku sudah nggak sanggup lagi, pikiran ku juga sudah tidak bisa jernih. Membayangkan anakku termasuk yang spesial membuatku tidak sanggup menerima jalan takdir ini. Kesalahan apa yang sudah aku lakukan sehingga cobaan terus saja datang? Jika memang ini karena kesalahanku, biar aku saja yang di hukum jangan anakku yang tidak berdaya itu.


Hidupnya masih panjang, dia pasti memiliki mimpi yang luar biasa untuk masa depannya. Aku tak sanggup membayangkan jika dirinya sedang bergabung dengan teman-temannya dan dia di ejek mereka karena kekurangannya! Karena dia berbeda!


Astaghfirullah ...


***


'Ceklek!


Mas Rayyan membuka pintu kamarku secara mendadak membuatku tak mampu menghapus air mata ini lagi. "Dhira ..." Panggilnya.


Sekarang apa yang bisa aku lakukan selain menangis sejadi-jadinya?


Aku peluk Mas Rayyan, aku menangis disana. "Mas ... Anak kita ..."

__ADS_1


"Iya, Sayang ..." Mas Rayyan membuka ponsel dan mencari tahu apa yang di maksud oleh bapak.


"Mas, Zavier itu normal!" sedikit berteriak aku mengatakan itu.


__ADS_2