
Indahnya kampung halaman, ku rasakan sejuknya daerah yang sudah lama tak ku lewati ini. Ah, rasanya baru kemarin pergi bersama teman-teman mengelilingi kota ini. Kota kelahiran memang kota terindah menurutku. Ternyata semua masih sama, tak banyak yang berbeda.
Tibalah kami sampai di depan rumahku, warna cat yang sudah sedikit berubah karena biasanya Bapak mengecatnya setahun sekali setiap lebaran. Kali ini rumah kami berwarna abu-abu, warna yang cukup elegan dan manis. Bapak memang suka warna-warna yang simple namun terkesan elegan seperti ini.
'Tok! 'Tok! 'Tok!
"Ya, sebentar!" teriak seseorang dari dalam. Sepertinya dia adalah Mbak Dania, kakak iparku.
'Ceklek!
Benar dugaanku, wanita sedikit berisi dengan daster kesayangannya 'lah yang berada di balik pintu. "Ya Allah, Dhira ... Alhamdulillah sudah sampai kamu, Dek. Ayo, Masuk!" titahnya kegirangan, "Mas, Dhira sudah sampai!" Teriaknya.
Tak lama kemudian keluarlah Kakak yang sangat aku rindukan, ia menghampiriku dan aku langsung memeluknya. "Apa kabar, Mas?"
"Baik, Dek. Kamu apa kabar? Sehat disana 'kan?"
"Alhamdulillah," sahutku, lalu ia bersalaman dengan suamiku.
"Zavier ganteng banget aslinya, dek ..." Puji mereka yang aku ucapkan Masya Allah dalam hatiku.
"Ibunya saja cantik, Mas. Wajar dong!" Cuma di rumah ini aku bisa bercanda ria.
"Bisa saja kamu!" Sambil mengelus pucuk kepalaku, "Oh ya Ray, adikku disana gimana? Nyusahin nggak? Ini tuh aslinya pemalas loh, tukang usil juga." Sambungnya mengajak Mas Rayyan berbicara.
Mas Rayyan hanya bisa menggaruk kepalanya, apalagi yang bisa dilakukannya sekarang? Ia baru tahu jika istrinya di rumah periang, tetapi saat di bawa ke rumahnya berubah menjadi orang lain. Hampir saja Mas Rayyan membuka obrolan, Aku menahan tangannya seakan memberi tanda biar aku saja yang menjawab.
"Dhira tuh di rumah baik Budi loh, Mas. Apalagi sudah ada Zavier, harus jadi contoh yang baik dong."
"Wih, nggak nyangka aku. Kamu itu suka isengin kami disini, mana mungkin kamu disana jadi pendiam. Nggak ... Nggak ... Nggak percaya aku!"
"Yowes, ora urus!" Sahutku, aku menggendong Zavier dan berniat membawanya ke kamarku, "Dhira ke kamar dulu, kamar Dhira belum di jadikan gudang 'kan?"
Mas Bayu malah terkekeh geli, "Hampir saja mau kami pelihara tikus disana." Sahut Mas Bayu.
Aku pun mengajak Mas Rayyan juga ke kamar agar beristirahat sejenak karena nanti kami akan pergi sama-sama ke rumah sakit. Aku membuka kamarku dengan pelan, saat pintu terbuka aku melihat semuanya masih sama. Tempat tidur, lemari, bahkan segala boneka yang menjadi koleksi pun masih tersusun rapi di sana. Hanya saja warna cat kamarku masih saja cerah, tidak luntur sama sekali padahal sudah dua tahun tidak ku huni. Aku yakin Bapak juga 'lah yang melakukan nya.
__ADS_1
"Istirahat saja dulu, Mas. Dhira mau mandi, gerah!" Sambil ku baringkan Zavier di kasurku.
"Kamar kamu masih sama ya, dek?" Kata Mas Rayyan, ternyata dia juga memperhatikan padahal cuma dua hari dulu dia menginap di kamar ini sebelum aku di bawanya ke Medan.
Aku mengangguk, "Dan letaknya juga sama!"
"Mas baru sadar, kamar kamu lebih luas dibandingkan kamar kita. Mas jadi malu, Dek."
"Malu kenapa?"
"Di rumah ini kamu di perlakukan seperti ratu, tetapi saat Mas bawa kamu malah menjadi babu. Kalau ada pekerjaan disini, kita pindah di sini saja gimana?"
"Kasihan Mama Rima, Mas."
"Kamu masih memikirkannya?"
"Ya masih 'lah, itu ibu mertua Dhira."
Mas Rayyan tersenyum, entah apa yang di pikirkan nya sekarang. "Kamu mandilah, biar Zavier Mas yang jaga."
***
Saat aku keluar, ku lihat hidangan yang di sajikan adalah makanan kesukaanku. Mataku berbinar, sudah lama aku menginginkan untuk makan semua ini. Bahkan saat hamil pun aku menginginkan lauk ini, tetapi aku takut di omelin oleh Mama Rima.
"Wah, enak banget ini." Tanpa aba-aba
Aku langsung mengambil nasi, aku sampai lupa mengambilkan nasi untuk Mas Rayyan.
'Pletak!
Tanganku langsung di pukul oleh kakakku. "Kamu ini gimana sih? Suami dulu di utamakan!" protes Mas Bayu.
Aku memukul jidatku dengan pelan, "Maaf, Dhira lupa."
"Nggak apa-apa, Mas bisa sendiri kok." Mas Rayyan mengerti jika aku tidak mungkin sengaja.
__ADS_1
"Dhira ..." Tegur Mas Bayu.
"I ___iya," sahutku, aku langsung mengambilkan nasi beserta lauknya ke piring Mas Rayyan.
"Mas, keadaan ibu gimana?" tanyaku di sela makan.
"Kamu ini, kalau makan ya makan saja dulu!"
Benar juga, selama di rumah Mama Rima aku memang tidak pernah menyela seperti itu saat makan, tetapi saat ini kenapa aku melakukannya?
"Maaf, Dhira khawatir sama Ibu."
"Ibu baik-baik saja, kamu makan yang bagus dulu. Nanti Mas ceritakan sekaligus kita kesana!"
Selesai makan, sesuai janjinya Mas Bayu mengajak kami ke rumah sakit. Zavier tinggal bersama Mbak Dania, karena bayi tidak di perbolehkan masuk saat ini. Di perjalanan Mas Bayu juga menceritakan keadaan ibu. Wanita yang melahirkan aku itu ternyata selama ini merindukanku, ia selalu bertanya apa aku baik-baik saja di sana. Hal itu juga membuatnya menjadi kepikiran dan menjadi drop sampai sekarang.
"Semoga ibu sembuh gitu lihat Dhira ya, Mas."
"Aamiin."
Setengah jam kemudian kami sampai di RS. Kasih Bunda, ini adalah tempat rutinitasku saat kecil. Karena dulu aku sempat masuk rumah sakit beberapa kali dalam setahun. Kamar melati, namanya. Disitu Ibu di rawat. Aku sengaja masuk lebih dulu dibandingkan Mas Bayu.
Bismillah, 'Ceklek!
"Ibu ..." Lirihku menatap Ibu terbaring lemah ditemani dengan selang infus. Kasihan sekali, Ibu. Padahal dulunya Ibu adalah wanita terkuat yang aku punya.
"Dhira!" Pekik ibu dan Bapakku.
Aku langsung memeluk Bapak dengan erat, "Bapak gimana kabarnya?"
"Baik, nduk."
"Nduk ..." Lirih ibu.
Aku menoleh, ku lihat tangannya sudah di rentangkan untukku. Aku menyambutnya penuh rindu. "Ibu kenapa bisa sampai begini? Jangan buat Dhira khawatir, Bu."
__ADS_1
"Ibu nggak pa-pa, Ibu hanya rindu sama kamu. Kamu baik-baik saja 'kan, Nak?"
"Dhira baik-baik saja, Bu. Lihatlah Dhira, apa ada lecet sedikitpun? Tidak, Bu. Dhira bahagia menikah dengan Mas Rayyan. Ibu jangan khawatir lagi, Ibu harus sembuh!"