
Pagi ini aku main ke rumah Hanum sambil membawa oleh-oleh untuknya. kebetulan, suaminya sudah pergi sejak tadi. Mas Rayyan juga sudah pergi, kerjaan di rumah pun sudah beres.
'Tok! 'Tok! 'Tok!
"Assalamu'alaikum ..."
Terdengar seorang wanita berlari ke pintu untuk membukanya, "Waalaikumsalam." Sahutnya dari dalam, begitu pintu terbuka ia tercengang melihatku. "Dhira!"
"Hai, Num ... ganggu nggak?"
"Kaya sama siapa saja ... ya enggak 'lah! ayo, masuk!"
Aku pun mengikuti langkahnya untuk masuk ke dalam, "Aku ambilkan minum dulu. Kebetulan ada minuman botol di kulkas!"
"Terima kasih, Num. Tapi harusnya nggak usah repot-repot."
"Nggak repot cuma ambil dari kulkas saja kok," sahut Hanum.
Aku pun menunggunya, tak lama kemudian Hanum kembali dengan membawa teh dalam kemasan botol yang dingin. Zavier terlihat sangat menyukainya, ia langsung mengambil botol minum tersebut dan memberikannya padaku. Itu sebuah isyarat jika dia menginginkannya.
"Mau ya, Nak?"
"Abjeizhuxka ... " Entah apa yang ia katakan, hanya dia yang mengerti. Bahasa planet itu seperti menandakan bahwa ia kesal dengan ibunya ini yang banyak bertanya.
__ADS_1
Hampir saja aku lupa dengan oleh-oleh yang sudah aku persiapkan untuk Hanum. Aku mengambil plastik hitam yang sedari tadi aku bawa dan menaruhnya di depan Hanum. "Num, ini ada sedikit oleh-oleh. Jangan di lihat dari banyak dan harganya ya!"
Hanum terkekeh geli, "Kamu itu apa-apaan sih? tapi makasih banyak loh. Alhamdulillah!"
"Iya, soalnya ini dikit banget. Aku sebenarnya malu ngasih ini buat kamu!"
"Santai saja kali, Dhir. Aku nggak pernah nilai dari dikit banyaknya. Kamu ingat aku saja, aku sudah bersyukur banget."
"Dih, lebay!" ucapan Hanum membuatku terkekeh geli.
"Oh ya, bagaimana kabar ibu kamu?"
"Alhamdulillah, sudah membaik. Ibu kayanya rindu putrinya soalnya gitu aku datang ibu langsung mendingan."
"Alhamdulillah, wajar kalau ibu rindu sama anak. Apalagi kamu 'kan jarang pulang."
"Oh ya, Dhir. Kamu sudah pikirkan belum tawaran aku kemarin?"
"Kerja tempat suami kamu ya?"
"Iya, gimana?"
"Maaf, Num. Aku belum cerita sama Mas Rayyan!"
__ADS_1
Hanum tersenyum, "Nggak pa-pa, mungkin ini berat untuk mulainya. Tapi kapanpun kamu mau, aku siap bantu!"
"Makasih ya, Num."
"sama-sama."
Aku lirik jam di dinding rumah Hanum, ternyata sudah masuk pukul 11 siang, aku pun pamitan dengan Hanum. Tidak enak jika terlalu lama bermain, pikirku.
Aku menggendong Zavier karena ia enggan untuk pulang tetapi kami harus pulang jika tidak entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Wah, ada yang sudah pulang nih! Mana oleh-olehnya?"
Huh, aku tanda dengan suaranya, ini pasti suara Mak Jaka. Sudah lama aku tidak mendengar suara wanita paruh baya ini, kenapa harus berjumpa lagi?
"Eh, Mak Jaka." Ku tunjukkan senyuman yang amat terpaksa.
"Lama juga ya di kampung, kirain nggak balik lagi."
Huh, mulutnya. Rasanya ingin ku remas saja! Untuk kesekian kalinya, aku teringat dengan suamiku. Jika aku meladeninya maka apa bedanya aku dengan dia?
"Nggak mungkin dong, Bu. Nanti ibu kangen lagi, ah yasudah! kami duluan ya, Bu. Permisi!"
Ku tinggal beliau begitu saja, bodo amat jika dirinya terlihat kesal denganku. Aku benar-benar tidak perduli soal itu!
__ADS_1
'Ceklek!
"Dari mana saja kau ini?" suara lantang itu mengagetkanku.