
Satu tahun kemudian ...
Hakim sudah menjatuhkan talak tiga, kini antara aku dan Mas Rayyan tak ada hubungan apa-apa lagi. Ingin rasanya memaafkan, tetapi ternyata wanita itu sudah hamil. Hal itu membuatku semakin sakit saat melihat Mas Rayyan.
Begitu keluar dari KUA, aku mendapatkan pandangan yang sudah lama tak ku lihat. Mama Rima dan Papa Sam juga hadir di sana. Aku mencium tangan mereka untuk terakhir kalinya sebelum semua benar-benar berubah. "Ma, Pa ... maafkan Dhira jika selama ini tak mampu menjadi menantu yang baik. Dhira sadar, Dhira hanya manusia biasa. Jujur, Dhira sangat menyayangi kalian. Sekali lagi, Maafkan Dhira."
Papa Sam mendekati aku, "Boleh Papa memeluk menantu Papa?"
Aku mengangguk, "Maafkan Dhira, Pa."
"Kamu nggak salah, Dhira. Kamu adalah menantu terbaik Papa. Maafkan jika selama ini kami sebagai orang tua sudah melakukan banyak kesalahan padamu, sekarang kau sudah bebas, Nak. Kau sudah tak terikat lagi. Berbahagialah!"
Aku mengangguk, lalu aku mendekati ibu mertuaku itu. Walaupun ucapannya sangat pedas, tapi yang pedas itu juga nantinya akan ku rindukan. "Ma ---"
"Sssttt!" Mama Rima menutup mulutku, "Mama sebenarnya sangat menyayangimu, Nak."
Baru kali ini aku mendengar ucapan tersebut, begitu indah dan sangat indah. Terlepas itu benar-benar ikhlas atau tidak.
Aku beralih menatap Mas Rayyan, aku mendekatinya dan mencium tangannya. Ini adalah ciuman terakhir sebagai tanda penghormatan ku padanya.
"Maaf jika selama ini Dhira banyak kekurangan, terima kasih juga karena Mas sudah membuat Dhira sadar untuk lebih dewasa."
__ADS_1
"Dhira, harusnya Mas yang meminta maaf, Mas khilaf, Mas di butakan oleh nafsu. Maafkan Mas dan terima kasih atas kesabaranmu selama ini. Kamu berhak bahagia, Dhira. Zavier beruntung memiliki ibu seperti kamu."
Aku tersenyum, "Dan Zavier juga bahagia memiliki ayah seperti Mas. Dhira harap perpisahan ini bukanlah akhir segalanya untuk hubungan Mas dengan darah daging Mas. Bagaimanapun, Zavier adalah anak yang pernah Mas harapkan kehadirannya. Dhira pamit dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
"Dhira, tunggu!" Mama Rima mendekati aku.
"Iya, Ma?"
"Mama boleh sering-sering jumpa Zavier, 'kan?"
"Boleh banget, Zavier pasti senang."
Aku pulang dengan status yang baru, menjadi orang tua tunggal untuk Zavier adalah tugas yang amat besar. Sebelumnya, aku sudah membelikan Zavier mainan agar ia tidak bertanya dari mana saja aku.
'Tok! 'Tok!
Mbak Dina yang menjadi suster Zavier membuka pintunya, "Bunda sudah pulang? masuk, Bun. Zavier baru saja tidur siang!"
Ya, Mbak Dina memang memanggilku bunda, begitu juga dengan aku yang memanggilnya mbak sesuai dengan bagaimana Zavier memanggil kami. "Kamu sudah makan belum, Mbak?"
__ADS_1
"Sudah, Bun. Tadi goreng nasi, makannya bareng Zavier, dia lahap banget loh."
"Sepertinya saya harus banyak belajar masak dari Mbak Dina."
"Ah, Bunda mah gitu."
"Ya sudah, kamu istirahatlah. Biar saya yang jaga Zavier."
"Nggak pa-pa, Bun. Bunda saja yang istirahat biar Mbak yang jaga Zavier."
"Memangnya nggak pa-pa?"
"Nggak pa-pa, Bun."
***
"Surprise!"
Aku benar-benar terkejut karena tiba-tiba di kamarku sudah ada Mbak Hanum sambil membawakan kue dan bunga, aku sedang tidak ulang tahun tapi kenapa di beri kejutan seperti ini?
"Hanum!" pekik ku sambil membuka mata.
__ADS_1
"Pakai dulu jilbab kamu, di luar ada Mas Danu dan Mas Zaydan."
Aku semakin terkejut, tetapi aku langsung menurut begitu saja. "Ada apa ini?"