Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 21


__ADS_3

Satu jam kemudian aku melihat sebuah motor terparkir di depan rumah, ia memakai baju berwarna hijau. "Permisi!" ujarnya.


Aku keluar, "iya, Mas."


"Pesanan atas nama ibu Adhira?"


"Ya, saya sendiri."


"Totalnya 125.000 ya, Bu."


"Iya, Mas. Ini uangnya." Kataku sebelum mengambil paper bag nya.


"Terima kasih, Bu. Jangan lupa bintang di langit, eh maksudnya bintang lima nya."


"Sip!"


Ku tunggu ojol itu pergi, lalu aku masuk kembali. Sebelum masuk, aku melihat Mak Jaka menatapku dengan sinis. "Mari, Bu." Sambil tersenyum.


"Dih, baru mesan gitu saja udah sombong. Padahal pakai gaji suaminya, boros saja terus, dasar!"


Ku kerutkan alisku, dimana salahku? Sepertinya apa pun yang aku lakukan selalu saja salah. Memiliki tetangga seperti ini memang menguras kesabaran, aku tatap Mak Jaka sambil tersenyum. "Bagaimana pun saya menikmati gaji suami saya, itu terserah saya. Permisi, Bu. Saya masuk dulu!"


Terserah apa katanya setelah ini, dadaku terasa sesak sekali apa lagi jika tidak membalas ucapannya yang begitu pedas. Terserah juga jika nantinya Mak Jaka mengadu pada Mama Rima, aku sudah tidak perduli. Toh juga omelan Mama Rima sudah mendarah daging dan menjadi makananku sehari-hari.


"Dhira! Ngapain kamu di luar? Lama kali! Sudah lapar nih," teriak Mama Rima yang masih terdengar jelas dari luar.


"Iya, Ma." Sahutku.


Ku hela napas dalam-dalam, ini memang takdirku. Menangis juga percuma, untuk apa di tangisi? Memiliki suami seperti Mas Rayyan adalah anugerah, dikirim Tuhan anak seperti Zavier adalah hadiah, mendapatkan keluarga dan lingkungan baru seperti ini adalah ujian. Ya, ini semua ujian untukku. Tuhan tahu aku kuat, Tuhan tahu aku bisa, dan Tuhan tahu aku mampu.


Saat aku masuk ke dalam, ku lihat semua orang sudah berkumpul di meja makan kecuali Mas Rayyan yang sedang menjaga Zavier yang tidur. "Nah, itu dia si Dhira. Ayo cepat, lari!" titah Mama Rima.

__ADS_1


"Maaaa ..." tegur Papa Sam.


"Ya maaf, tapi Xia sudah lapar. Iya 'kan, Xia?" elak Mama Rima.


Felixia tersentak, "masih bisa Xia tunggu kok, Ma." Katanya membuat Mama Rima menjadi malu di hadapanku.


Aku meletakkan paper bag nya di atas meja makan, lalu aku panggil Mas Rayyan agar dia keluar. Saat Mas Rayyan keluar, aku 'lah yang masuk ke kamar. "Ayo! Keluar juga, Sayang." Titah Mas Rayyan, ia memang tidak tahu jika aku hanya memesan makanan untuk mereka.


"Dhira masih belum lapar, Mas. Sebaiknya Mas saja yang makan duluan, Dhira mau jaga Zavier dulu." Dustaku.


"Ya sudah, Mas nggak lama. Sebentar ya!" Mas Rayyan mengelus kepalaku, aku hanya membalasnya dengan tersenyum. Memaksakan senyuman memang berat, hingga saat Mas Rayyan keluar, air mata ini kembali menetes.


Samar-samar ku dengar Mas Rayyan sedang di hampiri dengan pertanyaan dari Mama Rima. "Mana istri kamu?"


"Di kamar, Ma."


"Apa dia marah?"


"Karena pesanannya kurang satu."


"Kok bisa?"


"Rayyan, kamu kerja untuk dapati uang 'kan? Bukan untuk menghabiskan uang. Jadi, sudah seharusnya dia makan dengan yang seadanya."


"Maksud Mama apa? Dhira nggak berhak makan yang sama seperti kita?"


"Kenapa suara kamu jadi meninggi gini? Memang ya si Dhira itu, selalu bawa dampak buruk buat keluarga ini."


"Ya Allah, Ma ... Salah Dhira apa sama Mama?"


"Banyak! Ya sudah kamu makan saja dulu, ngomelnya nanti saja."

__ADS_1


"Mana bisa Rayyan makan sementara istri Rayyan kelaparan. Rayyan makan enak, istri Rayyan makan pakai telur. Mama masih punya hati nggak?"


"Kenapa kamu jadi marah sama Mama? Ini semua yang pesan itu istri kamu!"


Ini nggak bisa di biarkan, suara Mas Rayyan semakin meninggi. Tetangga akan mendengar kegaduhan ini jika dibiarkan terus. Akhirnya aku keluar untuk melihat kejadian tersebut.


"Mas!" Panggilku.


"Nah, ini dia nih orangnya. Bisanya cuma ngaduh saja! Kalau nggak ikhlas nggak usah di pesan, Dhir. Kami juga masih punya uang kok kalau untuk makan saja!" Ketus Mama Rima.


Aku mengerutkan alis, aku nggak tahu permasalahannya apa, tetapi aku seperti tokoh utamanya disini. "Mas, ada apa?" Ku tanya dengan suamiku dan mengabaikan ucapan Mama Rima.


****


Sambil menunggu kelanjutan dari Dhira dan Rayyan, yuk baca punya teman Author yang nggak kalah serunya. cekidot👇



Blurb:


Menikah dini bukanlah kemauan mutiara, melainkan kesepakatan antar orangtua yang ingin menyatukan persahabatan dan bisnis mereka.


Keegoisan orang tua telah menempatkan Mutiara dalam posisi sulit, dia hanya dianggap oleh suaminya sebagai istri di atas kertas.


Perjuangan Mutiara selama menjadi istri tidak pernah dihargai oleh Sultan. Mutiara dianggap bodoh dan selalu menyusahkan.


Ternyata dibalik ketidakpeduliannya itu, Sultan memiliki wanita lain. Dia membawa wanita itu pulang serta tinggal di rumah mereka, hingga posisi Mutiara sebagai istri sah sangat tak dianggap.


Mutiara tidak mau menyerah dengan nasib buruknya, diapun akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis, berharap Sultan tidak akan meremehkannya lagi.


Namun, akhirnya ego Mutiara tertantang dan dia bekerjasama dalam bisnis dengan Adam, pesaing bisnis Sultan yang ternyata bisa lebih menghargai dirinya.

__ADS_1


Bagaimanakah kisah rumah tangga Mutiara selanjutnya? ikuti terus yuk! dan jangan lupa ya, beri dukunganmu ke karyaku🙏♥️


__ADS_2