Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 51


__ADS_3

"Oh, ini dia ayahnya. Anak sedang di marahin, ayahnya sibuk happy-happy."


"Eng-enggak begitu ceritanya, kamu jangan salah paham."


"Lihat istri kamu, Mas. Dia masih memakai pakaian minimalis. Ada tanda cinta di sekitar lehernya. Cih! Menjijikkan. Dhira nggak masalah Mas seperti itu dengan istrinya, tapi apa ada mikirin anak? Zavier di perlakukan tidak pantas. Demi Allah, ini yang terakhir kalinya Zavier menginap di sini."


Aku langsung membawa Zavier keluar, ia ingin menahannya tetapi untung saja ada Pak Zaydan yang menghambat Mas Rayyan.


"Jangan ikut campur," titah Mas Rayyan yang masih bisa ku dengar.


"Kenapa? Saya juga berhak ikut campur."


"Memangnya kamu siapa? Huh?"


"Dhira calon istri saya, tunggu saja bulan depan undangannya."


Apa? Calon istri? Aku yang mendengarnya saja sangat shock, apalagi mereka. Sungguh, ini bukan rencana yang sebenarnya. Akan tetapi sepertinya ucapan Pak Zaydan mampu membungkam mulut mereka semua.


Syukurlah, pikirku. Aku tak perlu repot-repot mengotori mulutku untuk orang seperti mereka.


"Hahaha!" Mas Rayyan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, seperti orang yang sedang kehilangan akal sehatnya.


"Kamu pikir saya percaya? Kamu bosnya di kantor, bukan? Oh, kamu ingin membohongi saya agar saya tidak bisa berjumpa lagi dengan anak saya? Tidak bisa, Tuan!" Lanjut Mas Rayyan, sepertinya ia tidak percaya sama sekali.


Sungguh ini adalah hal yang paling menjijikkan. Tak kuat rasanya menahan sesak di hati, aku mendekati Mas Rayyan dan kemudian ... 'Plak!


Hanya satu tamparan, tetapi menurutku itu mampu membuatnya kesakitan. Huh, rasakan itu!


"Selama ini, anda terlalu menyepelekan orang, Ayahnya Zavier. Lusa saya akan memberikan undangan pernikahan kami, walaupun lebih di percepat tetapi setidaknya anda tidak ada urusan lagi dengan saya dan anak saya." Ku katakan itu dengan lantang, kemudian aku menarik tangan Pak Zaydan keluar.

__ADS_1


Ku lihat para tetangga sedang menonton kami. Ah, ini sangat lucu. Mak Jaka yang berada di sana juga kini ia tersenyum kecut, aku tahu pasti saat ini beliau sedang cemburu sekaligus kesal denganku. Ku lihat juga Mbak Hanum malah memberikan jempol padaku, menyebalkan! Ingin rasanya aku menjumpai nya sekarang juga.


Pak Zaydan menarikku ke dalam mobil, kemudian kami pergi dari sana. Tak lama kemudian Zavier tertidur, suasana masih sepi saat ini.


"Dhira!" Panggil Pak Zaydan.


"Iya, Pak? Eh, Mas."


"Maafkan saya, karena saya sudah mengatakan hal seperti tadi."


"Saya yang berterima kasih pada Mas, karena Mas sudah mau menyelamatkan saya."


"Soal lusa, kamu ---"


"Maaf, Mas. Mungkin ini terlalu terburu-buru, kalau Mas belum siap juga nggak pa-pa."


"Saya mengagumimu dari dulu, nggak mungkin saya belum siap menikahimu. Besok kita ke kampung, berjumpa dengan ayah dan ibumu. Saya akan meminta restu pada mereka."


"Apa Mas yakin?"


"Mungkin kamu belum mencintai saya, cinta setelah menikah lebih asyik dari pada cinta tanpa ikatan."


Ucapan Pak Zaydan membuat hatiku meleleh, ah apa benar aku mulai menyukainya?


"Bunda ..." Suara putramu memecahkan keheningan. Ia terbangun dari tidurnya dan tersenyum ke arahku.


"Kenapa senyum-senyum?"


"Apa benar Bunda dan Om baik akan menikah?"

__ADS_1


"Apa kamu menyukainya, Nak?"


Zavier tersenyum, "Zavier senang sekali mendengarnya, Bunda. Kapan Bunda akan menikah? Jangan seperti pernikahan ayah, tamunya cuma sedikit, pestanya tidak meriah."


"Kamu mau pesta pernikahan yang mewah?"


Zavier menganggukkan kepalanya, "Boleh 'kan, Bun?"


"Tentu saja, tapi sebelumnya kamu harus kenal dulu dengan kakak kamu."


"Kakak? Apa Zavier punya kakak?"


"Iya, kamu senang?"


"Yeeeey! Dari dulu Zavier ingin sekali punya kakak."


"Besok kita ke rumah nenek ya," sambil ku elus kepala Zavier.


"Kita naik kereta lagi 'kan, Bunda?"


"Tanya Om baik, mau nggak naik kereta."


"Om baik, mau 'kan?"


"Mau dong," sahut Pak Zaydan membuat Zavier semakin bahagia.


Kebahagiaan Zavier adalah segalanya untukku, "Terima kasih, Mas."


"Kamu senang?" Kali ini Pak Zaydan yang bertanya padaku.

__ADS_1


"Sangat!" sambil ku usap air mata yang sempat menetes tersebut.


__ADS_2