
Cukup lama aku menunggu Mas Rayyan di kantor hingga jam menunjukkan pukul 7 malam. Melihat Zavier menangis terus membuatku menjadi kasihan, tak mungkin menunggu lebih lama lagi, pikirku. Aku memutuskan pulang, sebelum itu aku memesan bubur ayam untuk ku dan putraku.
Di perjalanan aku menyuapinya makan hingga sesuai makan putraku tertidur. Hatiku bertanya-tanya kemana Mas Rayyan?
Drddd!
Mama Rima menelponku, [Halo, dimana kamu?]
[Masih di jalan, Ma ...]
[Cepat pulang! suamimu sudah di rumah ini.]
[A ___ apa?]
Tut!
Mama Rima memutuskan obrolan nya begitu saja, aku benar-benar terkejut kenapa Mas Rayyan berada di rumah?
***
__ADS_1
"Kembaliannya ambil saja, Pak," kataku pada supir taksi online tersebut.
Setelah membalikkan badan, ku lihat suamiku berjalan ke arah kami. "Sayang, dari mana saja?"
"Dari kantor, Mas." Dustaku, lalu ku tatap dia, "Mas tadi di kantor sampai jam berapa?"
"Sampai selesai pekerjaan dong, Sayang. Kira-kira jam enam tadi, pas aku jemput kamu kata satpamnya kamu sudah pulang."
"Jam enam?"
"Iya, kenapa?"
"Nggak pa-pa," aku berikan Zavier padanya.
Sampai di dalam Mama Rima mendekatiku, "Pergi sama suami orang, pulang suaminya di anggurin."
Wow, sambutan seperti apa itu? Baru saja aku sampai di rumah, aku sudah di suguhi dengan fitnah yang kejam. Ternyata Mama Rima melihatku masuk ke dalam mobil Mbak Hanum tanpa menjelaskan di sana ada Mbak Hanum juga.
"Kamu pergi dengan suami Hanum?" sudah ku duga, Mas Rayyan pasti menghujaniku dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Iya, Mas. Tadi Dhira kesiangan, ojol nggak ada yang dapat. Tiba-tiba Mbak Hanum lewat sama suaminya dan nawarin tumpangan."
"Kenapa kamu terima, Dhira?" bentak Mas Rayyan, ini kali pertamanya aku di bentak suamiku.
"Maafkan Dhira, Mas."
"Mas kecewa sama kamu!"
"Lantas bagaimana dengan Dhira? Mas tahu, tadi kami ke kantor Mas. Cukup lama Dhira dan Zavier nungguin, dari jam empat sore, Mas. Oh ya, Mas bilang tadi Mas rapat bareng Mas Dadang 'kan? asal Mas tahu, tadi Dhira jumpa dengan Mas Dadang di kantor Mas!"
Ku tinggalkan suami dan mertuaku yang sedang saling melemparkan pandangan tersebut. Sebenarnya aku sudah curiga dengan Mas Rayyan, ia seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Aku akan menyuruh seseorang untuk menyelidiki semuanya.
Aku yakin Mama Rima akan membela putranya, walaupun aku sudah membuktikan aku bisa tetapi wanita paruh baya tersebut masih mengira jika selama ini yang membiayainya adalah putranya, sementara aku cuma membayar kredit mobil dan makanan sehari-hari. Aku juga heran, kemana duit Mas Rayyan selama ini karena selama aku bekerja lelaki itu tidak pernah memberiku nafkah. Aku memang menyuruhnya untuk di tabung agar rumah kami cepat berdiri tegak. Akan tetapi aku menjadi bingung, harusnya sudah ada tanda-tanda rumah tersebut akan di bangun walaupun hanya nyicil dari batu dan pasirnya terlebih dahulu karena gaji Mas Rayyan lumayan banyak jika tidak di pakai.
'Hiks ... 'hiks ....
Menangis adalah satu-satunya sahabat terbaik bagi banyak wanita, termasuk aku. Ku peluk putra kesayanganku yang selalu menjadi sumber penguat ku.
***
__ADS_1
Pagi telah menyinari hari yang tidak begitu indah menurutku, aku baru ingat jika pintu kamar telah aku kunci semalaman saking kesalnya dengan Mas Rayyan. Begitu aku keluar kamar, ku lihat Mas Rayyan masih terjaga dalam tidurnya. Bahkan sampai aku selesai mandi pun lelaki itu juga masih tidur membuatku sedikit kesal.
"Kenapa kamu pakai mobil itu?" Mama Rima menghampiriku.