Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 23


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, kayanya baru saja kemarin aku melahirkan Zavier. Baru kemarin aku dan Zavier sama-sama berjuang untuk membawanya ke dunia. Tak terasa ternyata sudah satu tahun lamanya. Ya, hari ini adalah hari ulang tahunnya yang pertama.


Kejadian beberapa hari yang lalu membuatku tertawa di atas tangisan. Kala itu aku sedang mengusulkan agar membuat pesta kecil-kecilan, aku adalah ibu baru dan aku sama seperti ibu lainnya yang ingin mengadakan perayaan walaupun tidak mewah.


~Flashback~


"Ma, Dhira mau ngomong." Sengaja aku bicara seperti itu di hadapan semua orang, ini semua bukan akal-akalan aku karena yang menyuruhku adalah suamiku sendiri.


"Ya ngomong saja!"


"Kan sebentar lagi Zavier ulang tahun, Dhira mau adakan pesta kecil-kecilan. Boleh, 'kan?"


"Sayang anak sih ya sayang anak, tapi nggak pakai boros segala!"


"Tapi 'kan ini jarang Ma, bahkan ini kali pertamanya."


"Nggak usah, repot."


"Kalau kasih makan anak yatim saja, gimana Ma?"


"Ya itu terserah kau 'lah, orang


Duitmu sendiri ... Eh salah, maksudnya duit suamimu."


Aku hanya bisa membalasnya dengan tersenyum getir, "Baik 'lah, Ma."


Mama Rima terus melihatku membuatku merasa resah, saat aku tatap balik Mama Rima mengalihkan pandangannya. "Ada apa, Ma?" Sengaja aku tanya langsung, Mama Rima terlihat panik saat ini.


"Oh ini, kau belikkan juga 'lah anak-anak yang lain jajanan. Tetangga disini pasti senang itu di kasih jajanan."


Aku tersenyum tipis, ternyata itulah yang di maksud oleh Mama Rima saat ini. "Ya sudah, nanti Dhira beli."

__ADS_1


"Kau yang beli? Mama ikut!"


"Iya, Ma." Ku balas dengan ramah, ini untuk hari bahagia anakku dan aku harus sabar menghadapinya. Ku lirik Mas Rayyan sekilas, ternyata ia mengacungkan jempol padaku.


Sore harinya kami pergi belanja, sudah banyak yang aku tulis tentang apa saja yang akan aku beli. Tetapi kejadian lama terulang lagi, Mama Rima 'lah yang mengatur semuanya. Beliau mengambil apa saja yang ia mau, ia juga sempat bertanya pilihan aku yang mana, aku menggelengkan kepala agar Mama Rima saja yang memilihkan semuanya.


Untuk kesekian kalinya aku harus mengalah, ingin rasanya aku ikut memilih tetapi pilihan Mama Rima sudah sangat banyak bahkan melebihi batas yang sudah aku siapkan. Batinku bertanya-tanya kenapa jadi sebanyak ini? Bukankah aku disuruh irit? Ingin tertawa tapi rasanya sakit, ingin nangis tapi pengen sambil tertawa.


~Flashback Off~


Anak tetangga di sekitar rumah kami ajak untuk memotong kue bersama. Anak-anak menyanyikan lagu selamat ulang tahun, semuanya tampak gembira. Begitu juga dengan Zavier, putraku terkekeh geli saat melihat teman-temannya bernyanyi. Apa lagi saat ia menghembuskan lilinnya, Zavier terlihat amat bahagia.


Potong kuenya


Potong kuenya


Potong kuenya


Sekarang juga


Sekarang juga


Sekarang juga


Zavier menatapku dan Mas Rayyan secara bergantian, "Nak, suapan pertama untuk siapa?" tanya Mas Rayyan dengan lembut.


Zavier mengambil sendoknya lalu mendekat ke arahku, "Untuk Bunda ..." kata Zavier membuat mataku berbinar, aku tersenyum dan mengangguk.


"Eits! Enak saja. Untuk Oma dong, Sayang ..." Ucap Mama Rima tiba-tiba. Ia langsung mengarahkan tangan Zavier ke mulutnya.


Zavier tersentak kaget, ia melirikku sebentar. Aku berikan isyarat dengan menganggukkan kepala, setelah itu Zavier tersenyum membuat sakit di hatiku menjadi hilang karena senyumannya mengobati segalanya.

__ADS_1


Acara di rumah pun telah usai, anak-anak sudah kembali ke rumahnya masing-masing dengan membawa sebuah paper bag yang berisi jajanan, minuman dan nasi goreng yang baru saja aku masak tadi pagi. Setelah ini aku dan Mas Rayyan ingin mengantarkan beberapa sembako yang akan kami antarkan ke beberapa panti asuhan. Semua barang yang mau di bawa sudah berada di dalam mobil, Zavier juga sudah berada di dalam mobil karena bayiku itu sangat suka bermain di dalam mobil.


"Sudah mau pergi?" tanya Mama Rima.


"Iya, Ma." Sahut Mas Rayyan.


"Sebentar!" titah Mama Rima, aku bingung sekarang, padahal Mas Rayyan bilang Mama Rima tidak mau ikut.


Tak lama kemudian Mama Rima menghampiri kami, "Yuk!" katanya.


"Loh, Mama ikut?" tanyaku dengan spontan.


"Iya, kenapa? nggak senang kau?"


Aku menghela napas, "Bukan begitu, Ma. Kemarin 'kan Mama bilang nggak mau ikut!"


"Terserah Mama 'lah, kok kau pulak yang ngatur."


Mas Rayyan langsung melirikku, ia menggelengkan kepala pertanda aku harus diam dan sabar, Aku mengangguk patuh. Zavier, hanya untuk Zavier aku melakukan ini.


Di perjalanan suara ricuh terdengar karena Mama Rima menyanyikan lagu 'Gelas-gelas kaca', suaranya yang nyaring itu sampai membuat Zavier menangis. Karena ternyata bernyanyi adalah bakat terpendam Mama Rima dan sebaiknya akan terus di pendam. Zavier terus menangis sementara Mama Rima masih saja bernyanyi.


"Ma, anak Rayyan sampai nangis. Lagunya Rayyan ganti ya!" ujar Mas Rayyan dengan sangat hati-hati.


"Kan ada mamaknya, harus pandai 'lah dia bujuk anaknya." Jawaban Mama Rima membuatku semakin emosi, jika dia itu adikku, sudah ku jambak rambutnya habis-habisan.


"Oh iya, nanti yang turun Mama saja ya. Kau di mobil saja, Dhira. Apa lagi kalau sampai anakmu nangis."


"Tapi Dhira punya niat untuk mendoakan anak Dhira, Ma."


"Sampaikan saja sama Mama, gitu doang kok repot."

__ADS_1


"I ___ iya."


Tak terasa air mataku kembali menetes, aku seperti sedang bersaing dengan ibu mertuaku. Padahal selama ini aku sangat menghargainya, setiap hari batinku terus bertanya-tanya apa salahku? Kenapa mertuaku melakukan itu padaku?


__ADS_2