Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 31


__ADS_3

"Syukurlah, Nak. Ibu senang mendengarnya! Ibu pernah mimpi kamu terluka, batin kamu tersiksa, huh maafkan Ibu. Kini Ibu sudah tenang sekarang!"


Aku tercengang, apa segitu kuatnya ikatan batin antara anak dengan ibunya? Astaga, aku tidak menyangka jika ibu merasakan apa yang aku alami selama ini. Tetapi aku tidak boleh lemah, aku harus terlihat kuat.


"Dhira baik-baik saja, Bu. Sekarang Ibu harus cepat sembuh, Dhira bawa Zavier tapi dia tinggal di rumah. Apa Ibu nggak mau ketemu Zavier?"


"Ya Allah, ternyata cucu Ibu datang juga? Astaga, Ibu ingin sekali bertemu dengan Zavier, Nak."


"Zavier juga pengen ketemu neneknya, tapi anak sekecil Zavier dilarang masuk ke rumah sakit."


"Tuh, lihat Bu ... Zavier sampai datang ke sini untuk Ibu. Harus sembuh dong," sahut Bapak menyemangati.


"Iya, Ibu bakal semangat untuk sembuh." Sahut Ibu sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Mas Rayyan masuk bersama Mas Bayu, Mas Rayyan mencium takzim telapak tangan Bapak dan Ibuku. Percakapan tadi memang tidak di ketahui oleh Mas Rayyan. Bapak dan ibu memeluknya sembari mengucap syukur karena telah di beri menantu sepertinya.


"Rayyan, apa Dhira membuatmu repot? Maafkan kekanak-kanakannya, Nak. Dia masih labil di usianya yang masih segitu! Ujar ibu, membuat Mas Rayyan mengernyitkan alisnya.


Aku tahu apa yang ada dipikiran Mas Rayyan karena aku tidak pernah menunjukkan sifat asliku di rumahnya. Wajar saja ia kebingungan sekarang.


"Rayyan, apa Dhira sering meminta kamu atau ibumu menyuapinya? Maafkan dia, karena disini saja dia juga sering seperti itu padahal sudah besar."

__ADS_1


Yang tadi saja belum di jawab oleh Mas Rayyan, ibu malah bertanya lagi padanya. Mas Rayyan seperti mendapatkan tamparan keras, terlihat sekali jika dirinya merasa bersalah sekarang.


"Bu, kami pulang dulu ya! Kasihan Zavier di tinggal." Ku elakkan percakapan antara Mas Rayyan dengan ibu.


"Loh, 'kan baru sampai?"


"Iya, tapi Zavier nggak bisa jauh-jauh dari Dhira, Bu."


"Benar juga, ya sudah kalian hati-hati ya ..."


Akhirnya setelah di bujuk ibu mau mengerti juga, walaupun di rumah ada istrinya Mas Bayu, aku masih ragu karena Zavier berbeda dengan anak lain.


Kami izin untuk pulang dan berjanji akan kembali lagi esok.


"Iya, Mas."


"Apa kamu di rumah seperti tinggal di penjara?"


"Maksudnya?"


"Kamu berbeda saat di rumah Mas dan saat di sini. Di sana kamu terlihat pendiam dan memendam semuanya, sementara di sini ... Mas suka melihat kamu yang seperti ini di sini. Kamu menjadi dirimu sendiri, Sayang."

__ADS_1


"Mungkin Dhira belum terbiasa saja saat tinggal di sana, apa lagi ada mertua yang harus di hormati."


"Kamu juga menghormati ayah ibu, tapi kamu tetap menjadi diri kamu di sini."


"Mas ____"


"Mas mengerti, Sayang. Maafkan, Mas. Suatu saat kita akan punya rumah, Mas janji. Kamu mau 'kan bersabar untuk itu?"


"Mau, Mas."


***


Kabar kepulanganku ternyata sampai juga di telinga teman-teman ku, mereka pun datang ke rumah. Mas Rayyan akan libur satu bulan, itu merupakan waktu yang panjang untukku.


Banyak jajanan yang di bawa mereka untuk Zavier, bukan untukku, ini menyebalkan! Mereka memang selalu menyebalkan, tapi aku sayang. Hanya beberapa jam saja mereka datang, karena mereka juga punya kehidupannya. Tak lupa kami berfoto ria, mengabadikan momen yang kini menjadi jarang bahkan nyaris tidak pernah.


Dua hari sudah jarak waktu setelah aku ke rumah sakit, kini Ibu sudah di perbolehkan untuk pulang. Bahagia pastinya, karena aku lebih leluasa untuk mengurus Ibu di rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap dari luar, seperti suara Bapak.


Aku berlari untuk membuka pintunya, "Waalaikumsalam."

__ADS_1


Terlihatlah Ibu sedang di atas kursi roda sambil tersenyum. Ah, senyumnya manis sekali. Aku langsung membawa Ibu masuk, Mas Rayyan membantu untuk membawa tas dan barang-barang dari rumah sakit.


__ADS_2