Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 53


__ADS_3

"Okay! Mama memang tidak menyukainya. Tapi itu dulu, sebelum dia pandai cari duit. Lumayan, bisa makan enak dan nggak bayar listrik selama ini. Setelah kalian cerai, lihatlah! Jangankan makan enak, bayar listrik saja kamu nggak mampu. Malah istri kamu sekarang sudah di pecat dan kamu turun jabatan karena perselingkuhan kalian!"


"Jadi karena itu Mama menyukai Dhira?"


"Nggak juga sih, Dhira itu cantik. Tuh, istrimu sekarang. Jerawat dimana-mana. Memalukan!"


Mama Rima meninggalkan putranya yang masih kesal padanya. Rayyan terduduk lemas, awalnya ia berselingkuh karena memang kurang kasih sayang. Mereka jarang berhubungan suami istri karena pulang selalu malam, jika sudah pulang keduanya lelah terutama Dhira. Apalagi putra mereka selalu mengajak bergadang.


Rayyan tidak begitu menyukai istrinya, hanya karena nafsulah awal hubungan keduanya. Tapi ternyata hubungan tersebut terus berlanjut karena Rayyan terlanjur menanam benih di sana.


"Dhira ... Mas rindu!"


***


Adhira Ulya POV


Saat ini kami sudah sampai tepat di depan rumah orang tuaku. Jantungku berdegup kencang, tetapi Pak Zaydan menenangkanku lewat tatapannya.


"Bismillah," ucapnya sambil menatapku.


Aku ketuk pintu rumah bapak sebanyak tiga kali, ketukan ketiga pintu terbuka. Terlihat wanita paruh baya yang sangat ku rindukan. Aku tak dapat membendung lagi, aku sangat merindukan ibu, wanita yang sudah berjuang keras untuk melahirkan dan membesarkan aku.


"Buk ..." Lirihku, aku langsung mencium kakinya, "Maafkan Dhira ..."


"Bangun, Nak." Ibu langsung memelukku, "Ibu rindu sekali dengan kamu. Bagaimana kabar kamu, Nak?"

__ADS_1


"Seperti yang Ibu lihat, Dhira baik dan sehat."


"Ibu senang melihatnya."


"Siapa yang datang, Bu?" Terdengar suara lantang bersorak dari belakang. Aku yakin, itu adalah bapak. Laki-laki yang tidak pernah menyakitiku.


Aku langsung berlari ke belakang, memeluk ayahku. "Pak ... Dhira datang! Dhira sangat merindukan Bapak. Maafkan Dhira, Pak."


"Nduk, jangan minta maaf. Kamu nggak salah. Melihatmu bahagia sudah membuat Bapak dan Ibu menjadi senang. Sudah, jangan nangis lagi."


Kami pun di persilahkan masuk, aku membuatkan teh untuk kami semua. Sebenarnya Ibu sudah melarangku, tetapi aku juga merindukan dapur rumah ini. Rumah yang dulu menjadi tempat aku pulang, kini aku rindukan karena sudah sangat lama tak ku singgahi.


***


Sepeninggalan Dhira ke dapur, Orang tuanya menatap Pak Zaydan penuh selidik. Akan tetapi, keduanya merasa jika Pak Zaydan datang untuk melamar putrinya. Mereka tidak masalah, hanya saja putrinya pernah merasakan gagal dalam berumah tangga. Ada sedikit kekhawatiran dari keduanya, apalagi surat sah bercerai nya baru beberapa bulan lalu keluar.


"Sudah lama ya Dhira bekerja di tempat Nak Zaydan?" Bapaknya Dhira memulai percakapan.


"Sudah, Pak. Dari tahun lalu," jawab Zaydan dengan sopan.


"Kamu tahu, Dhira adalah putri kami yang manja dulunya. Di nikahi oleh pria yang salah. Dulu kami mengira jika Rayyan terbaik, caranya meminang putri kami sangat baik dan terhormat. Tapi ternyata setelah melihat anak saya bisa bekerja, dia malah sesuka hati memperlakukan Dhira sampai berselingkuh di belakangnya."


Zaydan mendengar ucapan ayahnya Dhira, ibunya mengelus punggung sang suami agar tidak bercerita lebih banyak lagi tentang putrinya. "Kamu lihat Dhira sekarang, sangat dewasa! Ternyata, pengalaman dapat membuatnya menjadi dewasa juga." Sambung ayahnya lagi.


Ibunya Dhira menggelengkan kepala, "Oh iya, kalau Nak Zaydan sendiri ..."

__ADS_1


Zaydan mengerti arah kemana pertanyaan tersebut, "Almarhumah meninggal setelah melahirkan putri cantik kami, Bu ... Jujur, sebelum Dhira hadir, saya lebih banyak murung di rumah. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk juga ikut mengontrol kantor, itu juga kali pertamanya saya melihat Dhira. Mohon maaf kalau saya lancang, tapi jujur saya langsung jatuh cinta dengan Dhira. Saya tertarik dengannya, tetapi kata teman saya dia sudah memiliki keluarga. Di situ, hati saya hancur, saya memilih untuk melupakan. Bukannya lupa, saya malah tersiksa." Zaydan terkekeh sendiri dengan ucapannya.


"Terus?"


"Saat saya tahu, mereka akan berpisah, saya kembali memantapkan niat saya untuk mendekati Dhira. Bahkan saya sudah sholat istikharah beberapa kali hanya untuk menguatkan niat saya untuk menikahi Dhira."


"Kamu yakin jika Dhira adalah jawabannya?"


"Insya Allah saya yakin, Pak."


"Saya nggak akan menyerahkan putri saya dengan orang yang salah lagi. Kalau kamu melanggar, bagaimana?"


"Tuhan akan menghukum saya secepatnya, Pak."


"Jangan bawa-bawa Tuhan kamu!" Bentak ayahnya Dhira dengan sengaja, ia pura-pura marah saat ini.


"Saya harus membawa Tuhan, karena Tuhan juga yang membuat saya jatuh cinta pada Adhira Ulya." Jawabnya dengan lantang, hal itu membuat orang tua Dhira menjadi senang karena Zaydan sangat tegas.


"Baiklah, kami merestui hubungan kalian."


'Prang!


Dhira ternyata mendengar ucapan ayahnya yang terakhir, membuat teh yang ia bawa berjatuhan ke lantai. Semua mata tertuju padanya, "Ya ampun, Nduk."


"Sini, duduk!" Titah ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2