Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 18


__ADS_3

'Oeek! 'Oeek!


Suara bayi terdengar, ia sangat cantik. Kak Oca memberinya nama Queen, nama itu sangat cocok untuk bayi ini karena ia begitu cantik bak bidadari.


Para tetangga pun tak henti-hentinya datang untuk melihat anggota baru kami. Mak Jaka, tetangga sebelah itu juga tidak mau kalah. Ia datang dengan membawa satu bingkisan yang besar.


"Assalamu'alaikum!" Salamnya dari luar.


Aku membuka pintu rumah, "Eh, Bu ... Silahkan masuk,' Ku persilahkan dengan senyuman.


"Hm!" jawabnya.


Aku sebenarnya sangat malas melayaninya. Jika saja wanita ini tidak bertamu, mungkin aku akan mendiamkannya sampai ia lelah disini dan pergi secepatnya. "Dhira! Ayo buatkan minuman." Mama Rima membuyarkan kekesalanku.


Sianida, aku pernah dengar jika bahan itu bisa membuat seseorang meninggal. Jika saja dirumah ini ada jenisnya, aku akan mengambilnya dan menaruh bahan kimia tersebut di teh milik Mak Jaka. Arh! Aku memang sangat membencinya, karena dia 'lah pelaku atas setiap gosip yang aku dengar. Dia juga yang sudah meracuni pikiran mertuaku tanpa di sengaja.


"Silahkan diminum, Mak Jaka." Aku tersenyum ramah.


"Makasih! Ngomong-ngomong nggak usah senyum segala, nggak bakal ngalahin kecantikan menantuku." Ketusnya.


Aku mengernyitkan alis, dimana salahku? Nanti nggak senyum dibilang sombong, di tegur di bilang sok ramah, di diamin malah ngelunjak. Astaghfirullah, aku elus dadaku yang sudah sakit ini.


"Wah, anaknya cewek ya, Ca? Selamat ya! Semoga menjadi anak yang sholehah, aamiin." Kami yang mendengar pun juga ikutan mengaminkan.


"Oh iya, kemarin bukannya USG cowok ya?"

__ADS_1


Kak Oca tersenyum, "nggak pa-pa yang penting sehat, Mak Jaka."


Balasan dari Oca memang lebih tajam, cukup lama ia terdiam saat ini. "Iya, benar. Dari pada yang ono noh, sudah jelas hasil USG nya cowok, malah kekeuh anaknya cewek. Lihat hasilnya, cowok 'kan? Entah sayang atau nggak tuh dia sama anaknya."


'Deg!


Aku merasa tersinggung karena pernah mengatakan itu pada Mas Rayyan. Aku memang menyukai anak bayi, apa lagi perempuan. Akan tetapi bukan berarti aku tidak menyayangi anakku! Rasanya ingin ku remas mulutnya pakai cabai yang ada di dapur.


"Iya 'kan, Dhira?" rupanya Mak Jaka belum puas menyindirku.


Ku tatap dia dengan tajam, "manusia berhak untuk berharap, jika tuhan belum merestui maka sebagai manusia tugas Dhira hanya bersyukur. Karena Tuhan tak akan memberi apa yang kita mau, melainkan apa yang kita butuhkan. Tuhan tahu jika Dhira perlu Zavier untuk menjadi pelindung Dhira di saat orang-orang mulai menyakiti Dhira dengan omongan jahatnya."


"Oh," Mak Jaka tak dapat berkata-kata. Ia sudah seperti cacing kepanasan saat ini.


Mak Jaka mengambil Queen dari pelukan Kak Oca, "manis sekali!" pujinya. "Anak manis, ini hadiah dari Nenek untuk kamu. Kalau ibunya berpenghasilan seperti ini, maka hadiah yang diberikan untuk anaknya harus gede. Biar setimpal, iya 'kan anak manis!"


Queen malah menangis membuat Mak Jaka kebingungan sekarang. Aku tersenyum sinis, "Kak, sebaiknya Queen Kakak ambil lagi. Bayi aja bisa loh bedain mana yang tulus dan mana yang modus." Setelah mengatakan itu aku kembali ke kamar, dari pada meladeni orang gila lebih baik aku menjaga anakku yang sedang tertidur pulas.


Dari dalam kamar samar-samar aku mendengar Mak Jaka mengadu pada mertuaku. Sudah kuduga, itu pasti akan terjadi. Mama Rima sepertinya membawakan beberapa jenis makanan pada Mak Jaka. "Di makan dulu, Mak Jaka."


"Terima kasih, Mak Rayyan." Wajahnya terlihat masam.


"Kenapa mukanya, Mak?"


"Ini loh, menantu kamu. Makin lama makin kurang ajar! Nggak ada etikanya ngomong sama orang tua. Padahal sarjana, 'kan?"

__ADS_1


"Memangnya apa yang dilakukan si Dhira lagi?"


*****


Sambil menunggu kelanjutan dari Dhira dan Rayyan, kembali lagi Author mau rekomendasiin punya teman Author yang nggak kalah seru, cekidot 👇



Blurb:


Judul: Salah Rahim


Nama pena: alya aziz


Arman Alfarizi enggan untuk menikah lagi setelah kematian sang istri, namun sangat ingin mempunyai anak sebagai penerus keluarga.


Teknologi medis yang semakin canggih membuat Arman bisa saja mempunyai seorang anak tanpa harus melalui hubungan badan. Prosedur itu biasa disebut dengan inseminasi buatan. Naas, sel sp*rma Arman yang seharusnya disuntikan ke rahim seorang wanita yang telah disiapkan, malah di suntikan ke rahim Asyifa Khairunnisa.


"Aku tidak pernah melakukan zina seperti yang kalian katakan, aku tidak mungkin hamil!"


Syifa dinyatakan hamil tepat di hari pertunangannya. Sang calon suami yang sudah terlanjur kecewa memutuskan pertunangan begitu saja.


Tepat hari itu pula Arman mengetahui bahwa dokter rumah sakit tersebut telah melakukan kesalahan prosedur inseminasi buatan. Arman pun tidak tinggal diam, ia datang menghampiri Syifa di kediaman orang tuanya.


"Lahirkan anak itu untukku." Arman Alfarizi.

__ADS_1


Langkah apa yang akan Syifa ambil selanjutnya?


__ADS_2