Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 6


__ADS_3

Pijitan Mas Rayyan sangat nikmat, aku menyukainya. Tetapi lama kelamaan tangannya mulai nakal, ia membuka pengait b*a ku, lalu dikecupnya punggungku. Aku hampir lupa jika suamiku memang memiliki nafsu tinggi padaku, melihat paha ku yang sedikit terbuka saja ia seperti melihat paha ayam. Apa lagi saat ini aku dengan suka rela menunjukannya!


"Mas ..." Aku mulai mendesah, kecupannya mulai merajalela.


"Kenapa? Hm, kamu seksi sekali, Sayang. Mas nggak kuat nahannya."


"Astaga, kan Mas yang nawarin tadi!"


"Masa nggak dapat imbalan? Hm," ia kembali nakal, tangannya masuk ke gunung kembarku.


Protes pun percuma, karena aku juga mulai menikmati setiap sentuhannya. Aku juga lupa jika saat ini adalah malam Jum'at, harusnya ku biarkan saja ia tertidur tadi.


***


"Jangan lupa siap-siap, nanti siang kita beli perlengkapan bayi!"


Aku mengangguk, bahagia ku tak dapat di artikan dengan kata-kata. Ibu mana yang tidak bahagia memilih perlengkapan untuk anak yang ia tunggu kelahirannya?


Hari ini Mama Rima terlihat baik, ia menawarkanku sarapan dan tak banyak memerintahku. Papa Sam, adalah mertuaku. Ia juga tidak banyak berbicara, mereka saat ini sedang berkumpul di ruang tv, Xia sedang dikamarnya untuk menonton drakor kesayangannya.


"Dhira, panggilkan dulu si Xia. Suruh dia makan, sudah jam berapa ini!" Siapa lagi yang menyuruhku kalau bukan Mama Rima.


"Iya, Ma."


Aku langsung menuju kamar Xia, ku lihat ia sedang tertidur sedangkan ponselnya masih nyala. Dugaanku benar jika dia tadi menonton drakor. Aku tidak tega membangunkannya, akhirnya aku kembali ke ruang tv untuk menemui Mama Rima. "Ma, Xia tidur."


"Bangunkan!"


"Nggak berani, Ma."


"Ya sudahlah."


Aku bilang saja aku tidak berani, karena adik iparku itu suka kesal jika dibangunkan. Aku tidak mau ia kesal denganku padahal aku disuruh oleh Ibunya.


Tak terasa hari menjadi siang, Mas Rayyan menepati janjinya bahkan ia datang lebih awal dari yang ku bayangkan. "Mas!" sembari ku ambil tangannya untuk mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Sudah siap?" Sambil di acak-acak nya rambut tebalku.


Aku mengangguk sambil tersenyum, "Sudah, Mas."


Mas Rayyan celingukan, seperti ada yang ia cari saat ini. "Mama mana?"


Aku mengerutkan alis, "Mama di kamarnya."


Mas Rayyan langsung pergi menuju kamar Mama Rima. Hatiku bertanya-tanya, kenapa Mas Rayyan ke kamar Mama? Apa Mama juga ikut?


Untuk kesekian kalinya dugaan aku benar, Mas Rayyan keluar dari kamar bersama Mama Rima. Wanita paruh baya itu sudah memakai baju yang rapi, aku pastikan dia juga ikut bersama kami. Sebenarnya, aku tidak masalah Mama Rima ikut dengan kami, yang aku takutkan Mama 'lah yang memilih setiap belanjaan yang akan kami beli.


Ini adalah anak pertama aku dengan Mas Rayyan, wajar bukan jika aku ingin apapun yang kami beli itu berdasarkan yang aku suka?


"Yuk, Sayang."


Mas Rayyan menyadarkan aku dari lamunanku. "Hah? Hm, iya!" Aku menyusul mereka dari belakang.


Lagi-lagi aku dibuat kesal olehnya, Mama Rima mengambil tempat di depan, tepatnya di sebelah suami aku. Hatiku sedikit sakit, aku adalah istrinya tapi kenapa aku dibelakang? Ada apa dengan diriku? Kenapa aku cemburu? Apa ini bawaan hamil? Astaga!


Mas Rayyan tampak berpikir sejenak, "Hm, boleh. Tapi tunggu sebentar, tanya Mama dulu!"


Dengan polosnya Mas Rayyan pergi mendekati Ibunya. Aku istrinya, tapi kenapa harus meminta persetujuan Ibunya?


'Hufh!


Ku atur kembali napasku, ku teringat pesan Ibu bahwa anak laki-laki adalah milik ibunya, wajar saja jika Mas Rayyan melakukan itu!


"Mau yang mana, Dhir?" Mama Rima mendekati aku.


"Yang warna matcha ini, Ma. Kayanya lucu, gimana menurut Mama?"


"Hm, bagus sih. Tapi apa nggak lebih bagus warna maroon saja? Biar lebih netral, Dhir."


"Oh begitu ya, Ma?" Aku berpikir sejenak, aku menginginkan warna itu tapi mertuaku tidak suka. "Ya sudah, deh!" sambil tersenyum aku ucapkan itu, setelah berpikir mungkin mertuaku punya alasan sendiri melakukan itu.

__ADS_1


Tak terasa satu jam sudah kami memilih, Mas Rayyan mengajak kami makan. Aku menyerahkan semuanya pada Mama Rima yang menentukan tempat, dimana yang akan ia pilih untuk kami makan dari pada hatiku menjadi kesal karena pilihanku tidak menjadi prioritas Mas Rayyan.


*****


Sambil menunggu kelanjutan dari Dhira, yuk mampir di karya Kak Selvi_19, cekidot👇



Blurb:


Alex hanya seorang anak jalanan, untuk memenuhi hidupnya alex terpaksa


mencuri hingga suatu hari alex bertemu dengan mafia dan di besarkan di


lingkungan mafia, hingga di umurnya yang ke 30 tahun alex di angkat untuk mengantikan ayah angkatnya sebagai ketua mafia.


Suatu hari alex mengetahui siapa kedua orang tuanya dan lenyebab


kematiannya, ternyata alex adalah keturuna dari D’devil, D’devil adalah


anggota mafia yang sudah berdiri puluhan tahun. Sehingg alex


membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya dengan menikahi putri


dari pembunuh tersebut.


Laura gadis yang kurang beruntung karena hidup sebagai anak angkat dari


keluarga gunawan dan lebih menyedihkan lagi ia harus mau menikah dengan


Alex sebagai balas budi karena telah menyelamatkan gunawan.


Apakah alex akan berhasil membalas kematian kedua orang tuanya?


Apakah akan ada cinta di antara alex dan laura?

__ADS_1


Bagaimana reaksi alex jika tau laura bukan putri dari gunawan?


__ADS_2