Mertuaku Kang Atur

Mertuaku Kang Atur
MKA 40


__ADS_3

Pagi telah menyinari hari yang tidak begitu indah menurutku, aku baru ingat jika pintu kamar telah aku kunci semalaman saking kesalnya dengan Mas Rayyan. Begitu aku keluar kamar, ku lihat Mas Rayyan masih terjaga dalam tidurnya. Bahkan sampai aku selesai mandi pun lelaki itu juga masih tidur membuatku sedikit kesal.


"Kenapa kamu pakai mobil itu?" Mama Rima menghampiriku.


Aku mengernyitkan alis, hatiku bertanya-tanya memangnya kenapa kalau aku membawa mobilku sendiri? aku yang membelinya, aku yang membayar cicilannya dan aku juga yang membeli bensinnya.


"Dhira, Mama nanya sama kamu loh!" lanjutnya, yang membuatku tambah heran adalah mertuaku memanggilku 'kamu' dan 'kau' sesuka hatinya.


"Dhira sudah terlambat, Ma." Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka suara.


"Terus kalau kau pakai tuh mobil, suamimu kerja naik apa?"


"Kan ada motornya, Ma."


"Terus kalau dia kehujanan gimana?"


Pertanyaan seperti apa itu, dia selalu memikirkan putranya tanpa melihat kenyataan yang ada. "Lebih baik Mas Rayyan yang kehujanan dari pada Zavier yang terkena hujan, Ma. Dhira pergi dulu, Assalamu'alaikum."


***


Dari di perjalanan sampai saat ini aku masih memikirkan ucapan mertuaku, aku di larang membawa mobil yang aku beli sendiri, itu hal yang sangat konyol bagiku.


"Dhira!" Seseorang memanggilku untuk yang ketiga kalinya.


"I-iya, Pak. Maaf saya tadi anu ... saya __"

__ADS_1


"Sudahlah, nggak pa-pa. Ada apa dengan kamu? apa kamu sedang sakit?"


"Tidak, Pak. Saya baik-baik saja," kilahku sambil membuang muka. Aku tak berani menatap pemilik travel ini sekarang.


"Benarkah? lihatlah laporan yang kamu antar kepada saya tadi, ini hasilnya nggak balance."


Aku terdiam sambil membaca laporan yang aku tuliskan. Ternyata memang benar kalau aku melakukan kesalahan. Astaga, ini memalukan.


"Maaf, Pak. Saya akan buat ulang," aku benar-benar gelagapan tak karuan.


"Saya tunggu di kantin nanti siang!" Titahnya sambil meninggalkan aku.


"Ta-tapi ..." Ah, percuma saja aku membantah, beliau sudah pergi jauh sekarang.


Ini kali pertamanya aku nggak fokus bekerja, hingga tiba-tiba suaminya Mbak Hanum sudah berada di hadapanku. "Ada apa, Dhira?"


"Eh, Mas. Astaga ngagetin saja!"


"Aku lihat kamu banyak melamun nya, ada apa?"


"Nggak apa-apa," sahutku.


"Kalau perlu bantuan bilang saja ya, jangan sungkan."


"Iya, Mas. Makasih ya."

__ADS_1


"Sama-sama ..."


Ya, nama suami Mbak Hanum adalah Mas Danu, sedangkan pemilik travel adalah Pak Zaydan. Mas Danu dan Pak Zaydan merupakan teman baik, Mas Danu juga ikut meringis travel ini dari nol. Ia yang mengelola nya sedangkan Pak Zaydan memberikan modal. Hal itu membuat jabatan Pak Zaydan lebih tinggi dari pada Mas Danu.


Jam menunjukkan pukul dua belas, sudah waktunya mengumpulkan tugas. Aku sedikit bingung kenapa Pak Zaydan menyuruhku mengantarkan berkas tersebut ke kantin, tetapi aku tidak mungkin membantah. Dari sudut sana sudah ku lihat lelaki bertubuh tegap dengan memakai baju Koko tersebut sedang memesan makanan.


"Assalamu'alaikum, Pak. Permisi!"


"Waalaikumsalam, Dhira. Silahkan duduk," titahnya.


"Terima kasih, Pak." Aku pun duduk tepat di hadapannya, "Ini berkas yang Bapak minta," kataku dengan sangat ramah.


"Oh, iya. Taruh saja di situ, nanti saya periksa."


"Baik, Pak. Saya permisi dulu, As-"


"Tunggu!" potong Pak Zaydan dengan cepat.


"Iya, Pak?"


"Kamu di sini saja, saya sudah memesan makanan untukmu. Tenang saja, sebentar lagi Danu juga datang. Kalau di luar jam kerja, anggap saja saya seperti Danu, kita bisa berteman."


"Ba--baik, Pak."


Benar-benar aneh, tak ku sangka Pak Zaydan yang terkenal dengan dingin dan tegasnya bahkan tidak mau berbincang dengan karyawannya, kali ini malah mengajakku berteman. Sudah ku pastikan sebentar lagi akan banyak omongan orang padaku jika mereka melihat ini.

__ADS_1


__ADS_2