
POV Riese
"Bibi apakah semua sudah diberi obat? "
"Ya, Riese, mereka sudah bisa beristirahat dengan nyaman dari yang kulihat"
"Syukurlah"
"Ibu, Riese, Aku juga sudah selesai dengan pekerjaanku"
"Baiklah, Karena Kita sudah selesai, Ayo balik ke Rumah bibi? "
"Baik Bibi, Maaf merepotkanmu"
"Apa yang merepotkan, kamu juga anakku"
"" Hahahaha""
Aku dan Anna tertawa bersama.
"Rain, Aira, Alice, Airel, Ayo kita bermain ke rumah Bibi Nina"
"""" Oooohhh"""
Kami semua berjalan ke rumah Bibi. Aku melihat disana paman sudah menunggu kami.
"Kenapa kalian pulang sangat telat? "
"Kami masih membantu memberikan obat, Jangan Pikirkan itu, Aku akan menyiapkan makan malam"
Kami masuk ke dalam. Ini sebenarnya adalah rumah paman Freddy, Istrinya sudah meninggal dan dia hidup sendiri disini.
Rumahnya pada dasarnya terawat karena ada ibu Anna di sini. Sebelumnya dari yang aku dengar dari Bibi, disini sangat berantakan. Paman Freddy juga tidak memiliki anak jadi dia sangat sayang dengan Anna.
"Bibi, Biarkan aku membantu"
"Baiklah, terimakasih bantuannya Riese. Lihat ini Anna Kamu harus rajin seperti Riese"
"Che, Baiklah Aku akan membantu juga"
"Itu bagus"
"Hahaha"
Aku, Bibi dan Anna kami menyiapkan makanan bersama. setelah satu jam, kami semua sudah selesai masak.
"Anak-anak, ayo semua cuci tangan dan makan"
""""" Ooohh"""""
Setelah itu kami semua menikmati makan malam. saat selesai makan, kami semua mendengar suara lonceng yang keras.
"Eh, Ada apa ini paman? "
"Itu Alarm darurat, Kita Harus berkumpul"
Semoga tidak terjadi apa-apa. Saat aku akan bergerak, aku menyenggol piring dan gelas dimeja.
*Clank*
itu berantakan dibawah meja.
"Ma-Maafkan Aku"
__ADS_1
"Kak Riese, apa kamu baik-baik saja? "
"Tidak apa-apa, Alice"
Apa ini, kenapa aku seperti ini? Kumohon, Semoga semuanya baik-baik saja.
Aku segera membereskan barang barang yang berantakan dan segera berlari keluar.
"Apa yang terjadi Freddy? "
Ayah Anna menanyakannya ke paman Freddy.
"Kami di serang segerombolan Orc yang dipimpin Jendral Orc"
Aku yang mendengar itu segera memperhatikan sekitar.
"Dimana Paman Martin? "
"Tu-Tuan Martin, demi menyelamatkan kami, dia memancing Orc ke kedalaman hutan"
"Paman.... "
Aku terdiam seribu bahasa. Rasanya, hatiku hancur berkeping-keping. Aku memang belum lama bersama Paman Martin tapi paman Martin sudah menjadi sandaran hidupku. Tidak, Bukan hanya aku, Tapi juga anak-anak. aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka tahu ini.
"A-Apa yang baru kamu bilang, Tuan?"
"Rain.... "
"Kak Riese, Apa yang baru saja tuan Freddy katakan!!!??? "
Sepertinya Rain mendengarkan pembicaraan Kami.
"Masuklah Rain, ini bukan urusan anak-anak!!! "
Aku tidak bisa menghancurkan harapan mereka.
"Kak Riese... "
"Tolong, Rain... "
Mendengar permohonanku, Rain segera berbalik dan masuk rumah sambil menangis.
"Tuan, Tolong ceritakan Sejelas jelasnya apa yang terjadi"
Akhirnya Tuan Freddy menjelaskan Apa yang terjadi selama dihutan kematian hingga terpisah dengan paman Martin.
"Aku akan mengumpulkan seluruh Ksatria Besok dan menelusuri Hutan mencari tuan Martin"
"Biarkan Aku ikut juga"
"Maaf Nona, Ini sangat berbahaya"
"Aku juga memiliki kemampuan"
"Tetap tidak bisa, Aku bertanggungjawab atas keselamatanmu dan anak-anak yang dibawa tuan Martin. Aku tidak akan membawa kalian ke dalam masalah. Tolong Mengertilah nona. Kami akan berusaha semaksimal mungkin mencari tuan Martin"
Aku berjalan dengan lemas ke dalam rumah. jika bisa dibandingkan, aku seperti hidup tapi tidak hidup. bernyawa tapi tidak bernyawa.
Saat melihat aku lemas tidak berdaya, Alice, Aira dan Airel datang menghampiriku. mereka memegang tanganku dan memelukku.
"Kak Riese, Tenanglah, Paman Martin adalah orang yang hebat. dia pasti akan baik baik saja"
"Ya, Kak Riese, Alice benar Airel juga percaya pada paman Martin"
__ADS_1
"Tenanglah Kak Riese"
Aku melihat mereka, Mereka lebih kecil dariku tp mental mereka lebih siap.
"UWAAAAHHHHH...... "
Aku menangis sejadi-jadinya. aku kesal karena kemampuanku tidak cukup untuk ikut menolong paman Martin. Aku merasa tidak berdaya.
"Kak Riese, Ingat... Paman Masih punya senjata Rahasia"
Alice mengatakan itu padaku. Aku kaget dan memikirkan lagi. Itu benar Paman memiliki revolver yang sangat kuat yang mampu membunuh Orc dengan seketika.
"Terimakasih... Anak-anak!! "
Aku lalu memeluk mereka bertiga dan menenangkan Diri Hingga keesokan harinya.
***
POV Freddy
kami beristirahat semalam sambil mempersatukan tim besar untuk mencari tuan Martin.
"Baiklah, Semuanya!! Hari ini kita akan menelusuri Hutan dari pagi ini dan masuk lebih ke dalam. Persiapkan senjata dan mental kalian. Kita akan melakukan operasi penyelamatan Baron. APAKAH KALIAN SIAP? "
"""""" Oooohhh""""""
Tim yang kami kerahkan kali ini adalah 80% dari ksatria Baron dan 50 % petualang. Sisa 20% dibagi sebanyak 10 % yang sedang ke kota lain untuk mengantarkan obat dan sisa 10% adalah sebagai penjaga kota di tambah 50% petualang.
dengan pasukan sebanyak ini, Kami Segera masuk kedalam hutan dan mencari jejak Tuan Martin. Pertama, kami ke lokasi serangan Orc, Lalu mulai menuju ke arah pelarian tuan Martin.
"Tuan, Kami menemukan beberapa mayat Orc. Sepertinya mereka mati karena tebasan"
Aku segera mendekat dan mengecek mayat Orc tersebut.
"Ini memang luka tebasan. Sepertinya tuan Martin berhasil mengalahkan beberapa"
Sambil mengikuti tim pencari jejak, kami tona di lokasi ke dua yang terlihat seperti bekas pertempuran. Ada dinding tanah dan juga kubahan lumpur.
"Sepertinya terjadi pertempuran intrns disini hanya saja tidak ada mayat yang tergeletak. "
Salah satu tim pencari jejak mengatakan itu.
"Tuan, Lihat ini, Sepertinya kemungkinan besar ini adalah monster salamander"
Salamander, Monster Rank A, Itu adalah monster berbahaya bagi para petualang di wilayah Baron Vine. Bagaimanapun, peringatan tertinggi mereka adalah B. saat mengecek itu, Satu salamander keluar dari persembunyian.
"Hati-hati, Ini Salamander!!! "
Salamander itu keluar dan beraiap menyerang kami. Namun, Karena persiapan yang sangat baik. Kami bisa mengatasinya meskipun butuh waktu lama.
"Baiklah, Mari istirahat disini sebelum melanjutkan pencarian besok, kita akan sulit bergerak dimalam hari karena kita cukup banyak"
Mendengar perintahku, kami semua mendirikan tenda disana. melihat dari hasil pencarian ini, aku merasa 70% Tuan Martin pasti masih hidup.
Aku yang memikirkan itu, mulai beristirahat dan mengumpulkan energi.
Keesokan Paginya kami mulai menelusuri lagi hutan. hanya saja, Tuan Martin ini serasa seperti ditelan Bumi. DiabTidak meninggalkan jejak apapun. Hal ini yang membuat kami kesulitan dalam melacaknya hingga dua hari telah berlalu. saat hari ke tiga, Kami yang sudah putus asa, sudah bersiap untuk mengakhiri pencarian ini dan kembali Pulang. Tapi saat itu tiba-tiba terdengar suara
"TUAN FREDDYYYYY!!!! "
Aku terkejut mendengar suara itu dan segera berbalik.
---+++---
__ADS_1