
Kini waktu menunjukkan pukul 07.00 malam, Bik Mirna yang melihat majikannya pada keluar dari kamar tidur dan menuju meja makan segera mempersiapkan makan malam untuk sang majikan.
Dengan cekatan Bik Mirna menata semua masakannya sore tadi di atas meja makan sehingga membuat meja makan itu penuh dengan hidangan masakannya, kemudian Bik Mirna menuangkan air minum ke gelas masing-masing milik majikannya yang berada di samping piring majikannya.
"Ayo, bik gabung. Kita makan sama-sama" kata Sisil setelah duduk di kursi samping suaminya
"Gak, nyonya. Kalian duluan saja, bibik masih ada pekerjaan" jawab Bik Mirna setiap kali di ajak makan bersama pasti selalu menolak karena ia ingat batas antara majikan dan ART
Meski majikannya itu selalu baik dengannya, tapi Bik Mirna tak mau memanfaatkan kebaikan majikannya dan ia tetap akan merasa rendah diri karena hanya sebatas ART di rumah majikannya ini yang pasti ia selalu ingat hal itu.
"Baiklah, kita makan duluan bik" kata Sisil lagi sembari menyunggingkan senyuman dengan ramah
"Iya nyonya, silahkan. Bibik permisi" jawab Bik Mirna kemudian pamit undur diri dari situ dan melangkahkan kaki kembali ke dapur
Sisil dan Rangga serta putri mereka segera mengambil makanan untuk mereka masing-masing, kemudian segera menyantap makanan yang telah mereka ambil barusan dengan lahap dan nikmat.
Tak di ragukan lagi masakan Bik Mirna memang selalu juara, bahkan Sisil dan Rangga serta putri mereka pasti selalu menambah jika makan karena seperti merasa selalu kurang kurang dan kurang.
Selesai makan Rangga bersama putrinya langsung meninggalkan meja makan dan memilih menuju ke ruang keluarga, sedangkan Sisil memilih membantu Bik Mirna membereskan meja makan meski Bik Mirna sering kali bilang ia bisa sendiri.
__ADS_1
Namun Sisil tetap kekeh ingin membantu, hingga Bik Mirna mau tak mau memilih diam toh rumah ini memang milik majikannya itu jadi apapun yang mau di kerjakan majikannya bukan masalah baginya.
Setelah membantu Bik Mirna, Sisil segera meninggalkan Bik Mirna yang saat ini tengah mencuci piring kotor kemudian Sisil melangkahkan kakinya menghampiri kedua orang yang sangat di cintainya itu.
Rangga duduk di atas karpet sembari menemani putrinya yang saat ini sedang menyusun puzzle, sedangkan Sisil yang melihat itu lebih memilih duduk di atas sofa sembari selonjoran karena ia merasa masih sangat lelah.
"Pa, Raya ngantuk. Raya mau tidur tapi maunya di temani papa saja gak mau dengan mama" kata Raya yang dari tadi mulai menguap
Sisil yang mendengar hal itu langsung mengerutkan keningnya, tumben sekali putrinya kini semakin sering menempel dengan suaminya padahal dari kecil hingga sebesar sekarang Sisil yang selalu apa-apa menemani putrinya.
"Baiklah, ayo sayang" jawab Mas Rangga langsung beranjak sembari mengendong putrinya yang terlihat manja itu
Putri Sisil dan Rangga itu pun langsung meletakkan kepalanya di pundak sang papa dan hanya berapa menit sudah terlelap, Rangga yang mendengar hembusan napas yang beraturan terus melangkahkan kaki ke kamar tidur putrinya.
Setelah Rangga membaringkan putri mereka di atas tempat tidur, Rangga kini sudah kembali ke ruang keluarga dimana Sisil masih asyik menonton TV sembari selonjoran dan Rangga pun ikut duduk di samping Sisil.
Tanpa di minta Rangga pun memijit kedua kaki Sisil, membuat Sisil terharu karena suaminya tau saja jika ia memang sangat membutuhkan pijitan itu soalnya entah mengapa ia masih merasa sangat lelah.
"Kalau sudah mengantuk kita ke kamar yuk" kata Mas Rangga saat melihat Sisil menguap bahkan air mata Sisil mengenang di kantung matanya akibat menahan kantuk
__ADS_1
"Iya mas, ngantuk banget. Bawaannya masih lelah" kata Sisil kemudian beranjak dari duduknya
Lalu Rangga segera merangkul pinggang Sisil menuntun Sisil melangkah menuju kamar tidur utama dimana menjadi tempat tidur mereka, Rangga jadi kasihan melihat Sisil yang sangat kelelahan karena itu semua ulahnya.
Selama liburan di Bali kemarin ketika putri mereka sudah tidur Rangga selalu mengajak Sisil bercinta bahkan sampai larutan malam, itu sebabnya sekarang Sisil merasa sangat kelelahan namun bagi Sisil tak masalah melayani suaminya dari pada suaminya kembali selingkuh.
Tiba di kamar Sisil langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tak menunggu waktu lama Sisil pun akhirnya terlelap dan Rangga yang berbaring di samping Sisil bisa mendengar napas Sisil yang beraturan itu.
Di tatapnya dengan begitu dalam dan penuh cinta wajah Sisil yang terlelap itu, kemudian Rangga mendaratkan ciuman di pucuk kepala Sisil sembari mengelus pipi Sisil perlahan agar tak membuat tidur Sisil terganggu.
"Terima kasih, sudah memberi aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua. Jika bukan kamu wanita yang aku bikin kecewa, mungkin aku sudah menyandang status duda saat ini. Aku benar-benar bersyukur mendapatkan wanita sebaik kamu, maaf dulu aku pernah khilaf" kata Rangga berbicara sendiri namun posisinya tetap menghadap Sisil seolah-olah sedang berbicara dengan Sisil
Rangga yang merasa sangat haus jadi memilih beranjak dari tempat tidur hendak keluar kamar sebentar soalnya di dalam kamar tidur mereka tak ada air minum karena belum di siapkan oleh Sisil.
Apalagi mereka baru kembali ke rumah mereka sore tadi jadi Rangga memaklumi hal itu, Rangga pun segera melangkah kaki perlahan menuju dapur yang tampak sudah sangat sepi karena kemungkinan Bik Mirna sudah berada di dalam kamar.
Tiba di dapur Rangga segera mengisi gelas yang ada di tangannya dengan air minum, setelah terisi penuh segera Rangga minum air dalam gelas itu sampai tandas lalu Rangga langsung mencuci gelas bekas ia minum itu dan di kembalikannya ke tempat semula.
Kini Rangga sudah kembali ke dalam kamar, bahkan sudah berbaring di samping Sisil lagi kemudian Rangga memeluk Sisil yang kebetulan menghadapnya tanpa membuang waktu Rangga segera memejamkan kedua kelopak matanya.
__ADS_1
Hingga akhirnya Rangga terlelap juga seperti orang-orang yang sudah pada larut dalam dunia mimpi tentu sambil memeluk Sisil sang istri tercinta, suasana malam di luar rumah sangat indah dengan bintang yang memenuhi langit yang gelap bahkan rembulan terlihat sangat terang.
Bik Mirna yang berdiri di jendela kamarnya terus menatap bintang-bintang yang berkelap kelip itu, Bik Mirna merindukan sosok almarhum suaminya yang sudah bahagia disana dan selama menikah dengan almarhum suaminya Bik Mirna belum di karunia anak maka dari situ ia selalu merasa kesepian.