Milikku Bukan Milikmu

Milikku Bukan Milikmu
Bab 34


__ADS_3

Keesokan harinya


Sang ibu hari ini ingin kembali ke kota Surabaya seperti perkataannya berapa hari yang lalu, bahkan sang ibu sudah memasukan semua pakaian miliknya ke dalam koper miliknya dan saat ini sang ibu kembali memeriksa semua barang-barangnya karena takut ada yang penting tertinggal.


Tiket pesawat sudah di pesankan oleh Sisil semalam dan sang ibu mendapat penerbangan sekitar pukul 10 pagi, Rangga pagi ini sudah mengabari Dewi bahwa tak bisa datang ke perusahaan dan kemungkinan sehabis istirahat makan siang ia baru ke perusahaan.


Setelah siap sang ibu segera keluar dari kamar tamu itu sembari menyeret koper miliknya, Sisil dan Rangga serta putri mereka bersama Azzam yang sedang menunggu sang ibu di ruang tamu segera beranjak dari duduk saat melihat sang ibu keluar kamar.


Rangga langsung mendekati sang ibu dan mengambil alih koper yang di seret sang ibu barusan, kemudian Sisil pamit dengan Bik Mirna hendak ke bandara mengantar sang ibu setelah itu Sisil dan yang lain segera melangkahkan kaki keluar rumah menuju mobil.


Kini mereka semua telah berada di dalam mobil kemudian mobil segera di lajukan oleh Rangga dengan kecepatan sedang menuju bandara kota A, hanya berapa belas menit mobil sudah memasuki parkiran bandara dan Rangga segera menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk bandara.


Setelah yang lain keluar dari mobil, Rangga memarkirkan terlebih dahulu mobilnya di parkiran bandara kemudian Rangga menyusul yang lain masuk ke dalam bandara sembari menyeret koper milik sang ibu.


Saat tiba di dekat sang ibu dan yang lain di kursi tunggu bertepatan pihak bandara pun meminta sang ibu untuk segera melakukan check-in, Rangga dan yang lain segera mencium punggung tangan sang ibu dengan takzim.


"Jaga kesehatan kalian ya, apalagi kamu Sil" kata Ibunya Rangga setelah memeluk satu persatu anggota keluarganya yang mengantarnya ke bandara


"Iya bu, ibu juga jaga kesehatan disana" kata Sisil kemudian mencium pipi kanan pipi kiri ibu mertuanya itu


"Rangga jaga Sisil dan Raya baik-baik, jangan pernah membuat mereka kecewa. Ingat nak, kalau kamu tidak menikah dengan Sisil hidup kamu takkan sesukses ini" kata Ibunya Rangga sembari menangkup wajah sang anak karena ibu merasa ada sesuatu yang akan terjadi ke depan meski ia belum tau tapi hatinya mulai gelisah

__ADS_1


"Iya bu, Rangga ingat" jawab Mas Rangga ikut mencium pipi sang ibu


"Raya dan Azzam selalu jadi anak baik ya" kata Ibunya Rangga mencium pucuk cucunya dan Azzam


"Iya nek" jawab Raya dan Azzam serentak


Kemudian sang ibu mulai menjauh dari Sisil dan yang lain sembari menyeret koper miliknya dan terus melambaikan tangan, Sisil dan yang lain juga membalas lambaian tangan sang ibu sampai sang ibu telah selesai melakukan check-in dan masuk ke dalam pesawat.


Tak berapa lama pesawat yang di tumpangi sang ibu pun mulai lepas landas, Sisil dan yang lain saat melihat pesawat sudah mulai terbang tinggi dan tak terlihat lagi segera keluar meninggalkan bandara lalu menuju mobil mereka di parkiran bandara.


Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, Rangga pun mulai melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan bandara lalu mobilnya pun mulai bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya yang tampak padat.


"Mas, kita ke restoran Fika ya. Aku pengen makan disana, udah lama kita gak makan disana" kata Sisil saat mobil tampam melaju dengan lambat karena jalanan mulai macet


Hanya berapa puluh menit mobil yang di lajukan Rangga sudah memasuki parkiran restoran milik Fika, setelah di pastikan mobilnya terparkir sempurna di antara jejeran mobil-mobil lain Rangga dan yang lain segera keluar.


Kemudian mereka semua melangkahkan kaki beriringan masuk ke dalam restoran milik Fika itu, Sisil dan yang lain segera mencari kursi kosong untuk orang empat dan setelah mendapatkannya Sisil dan yang lain segera mendaratkan bokong mereka di salah satu kursi yang kosong.


Fika yang kebetulan sedang mengrontol para pelayannya di dekat meja kasir, melihat Sisil sekeluarga masuk ke dalam restorannya kemudian Fika meminta salah satu pelayannya segera menanyai Sisil sekeluarga ingin memesan makanan dan minuman apa.


"Permisi nyonya tuan, mau pesan apa? Ini daftar menunya dan sekarang kita ada menu baru, ini dia" kata Pelayan restoran milik Fika dengan ramah sembari memberikan daftar menu restoran

__ADS_1


"Wah, sudah lama gak kesini udah ada menu baru aja. Boleh deh, saya mau coba" kata Sisil yang tergiur dengan menu baru di restoran milik Fika


"Yang lain mau pesan apa?" tanya Pelayan restoran milik Fika itu lagi setelah mencatat pesanan Sisil


"Saya yang ini, kedua anak saya yang ini saja" kata Mas Rangga menunjuk menu lain


"Baiklah, di tunggu ya akan segera kami siapkan" kata Pelayan restoran milik Fika itu lagi dengan ramah


Pelayan itu segera pergi dari meja yang di tempati Sisil sekeluarga, kemudian pelayan itu langsung melangkahkan kaki ke dapur ingin memberikan catatan pesanan kepada kepala chef di restoran milik Fika.


Fika yang masih berdiri di dekat meja kasir meminta bagian kasir memotong 50% bill pembayaran meja Sisil sekeluarga, dan anggap saja sedang diskon besar-besar di restoran miliknya serta meminta para pelayannya memperlakukan Sisil sekeluarga dengan baik.


Setelah itu Fika memilih kembali ke ruangannya, tiba di ruangannya Fika segera duduk di kursi kebesarannya sembari memantau kinerja para pelayannya melalui CCTV yang ada di ruangannya itu.


Mengapa Fika mengistimewakan Sisil karena awal pertama ia merintis usaha restoran ini, Sisil lah yang membantunya meminjaminya uang untuk menyewa sebuah ruko hingga akhirnya semuanya berjalan dengan baik dan sampai ia bisa membeli tempat restoran ini.


Sisil dan Fika adalah teman semasa kuliah dulu, mereka akrab layaknya dua saudara kandung dan mereka berdua selalu membahas masa depan ingin mewujudkan impian mereka berdua yaitu memiliki usaha sendiri agar tak menjadi bawahan.


Sisil lebih memilih merintis usaha membuat skincare hingga berkembang sekarang, sedangkan Fika yang sangat pintar masak lebih memilih merintis usaha jualan lauk makanan hingga akhirnya bisa sukses sekarang juga.


Perjalanan Sisil dan Fika merintis usaha bukanlah mudah, susah senang mereka lalu dan selama kuliah juga mereka berdua sering di hina oleh teman sesama kuliah mereka karena mereka selalu berusaha menjual apa yang ingin mereka rintis hingga akhirnya mereka sukses.

__ADS_1


Para teman semasa mereka kuliah pun kini malu setelah melihat kesuksesan Sisil dan Fika sekarang, bahkan yang telah menghina Sisil dan Fika sampai detik ini masih bekerja menjadi bawahan atau lebih tepat menjadi karyawan di perusahaan-perusahaan.


__ADS_2