
"Masak iya semuanya hanya segitu?" kata Sisil masih tak percaya sebanyak makanan yang mereka makan barusan bayar hanya sedikit
"Iya nyonya, kita hari ini sedang mengadakan diskon besar-besar jadi ya semua segitu" kata Kasir di restoran milik Fika dengan ramah dan sopan
"Ahh ini pasti akal-akal Fika setiap kali aku makan disini" gumam Sisil dalam hati karena sudah tau pasti lagi-lagi Fika mengurangi harga makanan yang di pesannya
Kemudian Sisil pun segera meletakkan uang berwarna merah dua puluh lembar di atas meja kasir dan meninggalkan begitu saja, kasir itu terkejut uang yang di letakkan Sisil di atas mejanya lebih banyak dari bill itu.
Kasir itu ingin mengejar namun Sisil sudah masuk ke dalam mobil Rangga, bahkan mobil itu mulai melaju meninggalkan restoran tempat mereka bekerja dan sudah menghilang bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya.
Fika yang melihat itu semua melalui CCTV yang ada di ruangannya hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala, Fika pun menghubungi bagian kasir dan meminta kasir itu membagikan uang berwarna merah dari Sisil barusan kepada setiap pelayan satu orang mendapat satu lembar.
.
.
Setelah mengantar Sisil dan putri mereka serta Azzam kembali ke kediaman mereka, Rangga pamit hendak ke perusahaan karena takut ada berkas penting yang harus di tanda tangani saat ini lalu ia kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan milik Sisil.
Hanya setengah jam mobil Rangga telah tiba di perusahaan milik Sisil, setelah mobil terparkir Rangga segera keluar dari mobil dan melangkahkan kaki masuk ke dalam perusahaan yang tampak para karyawan sudah kembali sibuk dengan pekerjaaan masing-masing sehabis waktu istirahat.
Rangga melangkahkan kaki di koridor perusahaan itu dengan tegap dan gagah, jika orang yang pertama kali melihat Rangga tentu akan langsung terpesona dengan wajah Rangga yang sangat tampan itu.
Namun bagi yang sudah mengenal Rangga akan merasa segan untuk berada dekat-dekat dengannya, karena Rangga termasuk pria yang cuek dan dingin hanya saja lebih ramah dan hangat ketika dengan Sisil dan putri mereka.
__ADS_1
Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya bagaimana bisa Rangga yang cuek dan dingin bisa selingkuh dengan Lisa, awal perselingkuhan itu terjadi Lisa yang cantik selama ini selalu di kejar-kejar semua para laki-laki namun Rangga justru cuek.
Lisa yang makin penasaran akhirnya terus berusaha merayu Rangga dengan berbagai cara, yang membuat Rangga akhirnya tergoda dengan Lisa pas mereka berdua sedang memantau pembangunan pabrik dan saat itu Lisa memanfaatkan situasi.
Hingga akhirnya terjadilah perselingkuhan itu, di tambah Sisil yang sangat sibuk mengurus putri mereka yang mulai ikut LES sebelum masuk sekolah TK akhirnya membuat perselingkuhan itu semakin menjadi.
Rangga telah tiba di dalam ruangannya, ia segera duduk di kursi kebesarannya sembari menyandarkan punggung belakangnya yang terasa sangat lelah karena dari pagi di sibukkan mengantar sang ibu ke bandara dan siang harus langsung ke perusahaan.
Setengah jam setelah tubuhnya merasa lebih baik, Rangga mulai memeriksa satu persatu tumpukkan berkas yang ada di atas meja kerjanya itu yang di letakkan Dewi pas ia belum ke perusahaan tadi.
Namun saat sedang memeriksa berkas-berkas itu Rangga merasa mengantuk, lalu Rangga pun segera menekan tombol telepon yang ada di atas meja kerjanya untuk menghubungi bagian OG dan OB.
"Tolong buatkan saya kopi dan langsung antar ke ruangan saya" kata Mas Rangga menelepon bagian OB dan OG melalui telepon yang ada di ruangannya setelah itu langsung mematikan sambungan telepon
"Sabar atu, orang sabar pantatnya lebar" kata Bagian OG sembari tertawa
"Pantat loe yang lebar" jawab OB yang menerima telepon tadi ketus lalu segera melangkahkan kaki menuju pantry ingin membuatkan kopi untuk atasan mereka
OB itu segera mengisi panci kecil itu dengan air, kemudian meletakkan panci kecil yang sudah berisi air tadi ke atas kompor lalu segera menghidupkan kompor dan selagi menunggu air mendidih ia menyiapkan kopi serta gula sesuai takaran kopi untuk atasan mereka.
"Kenapa gak pake air panas di dispenser aja, biar cepat dan tentunya praktis" kata OG yang bercanda dengan OB yang sedang menyiapkan kopi buat atasan mereka
"Pak BOS gak suka air panas di dispenser, beliau maunya air panas yang baru mendidih jika mau minta buatin kopi" jawab OB itu yang sudah paham dengan karakter atasan mereka karena sudah bekerja hampir lima tahun disini
__ADS_1
"Padahal kan sama aja, dasar pak BOS aja yang meribetkan segala sesuatu" kata OG itu lagi memilih melanjutkan pekerjaannya yang sedang merapikan pantry yang sedikit berantakkan
OB itu tak menyahut lagi memilih segera menyelesaikan tugasnya yang sedang membuat kopi untuk atasan mereka, setelah kopi itu telah siap dan telah ada di atas nampan segera ia bawa nampan yang berisi segelas kopi hitam panas itu dengan hati-hati menuju ruangan CEO.
Tok....Tok
"Masuk" ujar Mas Rangga dari dalam ruangannya saat mendengar ketukan pintu ruangannya
OB itu segera membuka perlahan pintu ruangan CEO itu, kemudian segera melangkahkan kaki mendekati meja kerja atasannya dan perlahan meletakkan kopi hitam yang masih panas itu di atas meja kerja atasannya.
"Ini pak kopinya" kata OB itu setelah selesai meletakkan kopi itu
"Hem...." jawab Mas Rangga tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukkan berkas
"Saya permisi, pak" kata OB itu lagi segera pamit undur diri lalu segera melangkahkan kaki keluar dari ruangan CEO itu
Selepas kepergian OB tadi, Rangga masih berkutik dengan tumpukkan berkas itu namun saat rasa kantuknya kembali menyerang Rangga yang teringat dengan kopi yang asapnya tak mengepul lagi segera menyeruput kopi itu dengan perlahan.
Nikmat
Saat Rangga menyeruput kopi yang masih hangat itu, seketika rasa kantuknya hilang ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya agar bisa segera selesai dan di lihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 02.30 siang.
Artinya masih sekitar tiga jam lagi waktu pualng kerja jadi ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya saat ini juga, apalagi tiba-tiba ia merindukan Sisil serta merindukan tubuh Sisil yang selalu menjadi candunya sekarang.
__ADS_1
Entah mengapa semenjak Sisil hamil, justru Rangga yang selalu merasakan hasratnya yang tinggi padahal kemarin siang ia baru saja meminta haknya dengan Sisil namun sekarang menginginkan lagi membuatnya jadi tak sabar ingin segera pulang ke kediamannya.