
"Maaf ya, zam. Om gak bisa nungguin Azzam, karena om harus berangkat kerja" kata Mas Rangga sembari mengelus pucuk kepala Azzam
"Iya, om. Gak apa-apa" jawab Azzam yang ngerti kalau omnya gak bisa menungguinya sampai di jemput sang kakek
Rangga segera mendaratkan ciuman kepada putrinya dan Azzam di pucuk kepala secara berganti, lalu Rangga melangkahkan kaki sembari melambaikan tangan kepada putrinya dan Azzam sembari di temani Sisil yang hendak mengantarnya sampai di teras depan.
"Mas, berangkat dulu ya" kata Mas Rangga kemudian mencium kening Sisil dan perut Sisil yang masih rata itu
"Iya Mas, hati-hati di jalan" kata Sisil kemudian mencium punggung tangan Rangga dengan takzim
Setelah itu Rangga segera mendekati mobilnya di garasi, lalu masuk ke dalam mobilnya dan mulai di lajukannya dengan kecepatan sedang meninggalkan kediamannya menuju perusahaan milik Sisil.
Selepas kepergian Rangga dan mobil Rangga hilang di balik belokan jalan, Sisil masuk ke dalam rumah dan tak lupa ia menutup kembali pintu utama lalu melangkahkan kaki mendekati putrinya yang tengah belajar membaca di hadapan Azzam.
Karena tak mau menganggu keduanya, Sisil memilih melangkahkan kaki ke dapur meminta tolong dengan Bik Mirna menyiapkan potongan buah pir serta membuatkannya susu ibu hamil dan minta antar ke ruang keluarga.
Setelah menyampaikan permintaannya dengan Bik Mirna, serta Bik Mirna mulai mengerjakan apa yang Sisil minta tadi Sisil pun segera kembali ke ruang keluarga hendak bersantai disana sembari menonton TV.
Hanya berapa menit Bik Mirna telah selesai menyiapkan apa saja yang di minta Sisil, bahkan sekarang semua yang di minta Sisil sudah ada di atas meja yang ada di hadapan Sisil dan tanpa menunggu lagi Sisil langsung menyantap potong buah pir itu.
Ting...Tong
__ADS_1
Bunyi bel rumah Sisil entah siapa yang bertamu, Bik Mirna yang ke betulan sedang bersih-bersih di dekat ruang tamu segera mendekat ke arah pintu utama namun sebelum membukakan pintu Bik Mirna menyempatkan mengintip dari balik jendela.
Setelah tau siapa yang ada di depan pintu barulah pintu di bukakan oleh Bik Mirna, kemudian Bik Mirna membuka pintu utama itu lebih lebar dan mempersilahkan tamu tersebut untuk masuk lalu mempersilahkan duduk di sofa ruang tamu.
"Tunggu ya, Pak. Saya panggilkan nyonya Sisil" kata Bik Mirna setelah tamu tersebut sudah duduk manis di sofa ruang tamu
Bik Mirna segera melangkahkan kaki menuju ruang keluarga dimana majikannya tengah bersantai di ruangan tersebut, setelah berada di dekat majikannya Bik Mirna segera memberi tahu bahwa di depan ada tamu.
"Apa paman udah datang, baiklah saya ke depan. Bibik nanti panggil Azzam dan Raya yang sedang di halaman belakang, sekalian siapin minum serta cemilan untuk paman" kata Sisil segera beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kaki menuju ruang tamu
Tiba di ruang tamu Sisil segera mencium punggung tangan ayahnya Alesa dengan takzim, kemudian Sisil duduk di sofa single yang ada di samping ayahnya Alesa dan mereka berdua pun mulai mengobrol ringan mengisi kekosongan.
Tak lama kemudian Bik Mirna datang membawakan segelas teh hangat serta kue brownies yang kemarin di buat oleh Bik Mirna, kebetulan memang Bik Mirna membuat banyak karena niatnya buat Azzam membawa ke kediaman orang tua almarhuma Alesa.
"Heh, gak boleh lari-lari nanti jatuh" kata Ayahnya Alesa menegur keduanya
Putrinya dan Azzam dengan patuh segera berhenti berlari namun tetap melangkahkan kaki mendekati sang kakek, lalu keduanya mencium punggung tangan sang kakek dengan takzim secara bergantian kemudian berebut duduk di samping sang kakek.
Sisil yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum, putrinya yang jarang ketemu dengan kakek kandungnya jadi lebih akrab kepada sang kakek kandung Azzam namun Sisil tak mempermasalahkan karena ayahnya Alesa juga menyayangi putrinya dengan tulus.
"Di minum paman tehnya, nanti keburu dingin sekalian cicip kue brownies buatan Bik Mirna" ujar Sisil sembari tersenyum
__ADS_1
"Ahh iya, jadi ngerepotin. Padahal datang kesini hanya mau jemput Azzam" kata Ayahnya Alesa tak enak hati namun tetap menghargai jamuan Sisil
Setelah sang kakek meminum berapa teguk teh hangat itu serta memakan berapa potong kue brownies, Azzam pamit sejenak dari situ ingin mengambil tas ransel miliknya yang ada di kamar tamu karena sebentar lagi ia akan kembali ke kediaman sang kakek dan sang nenek.
Lalu Azzam kembali ke ruang tamu dengan membawa tas ransel miliknya, namun mereka belum pamit karena Sisil masih asyik mengobrol dengan ayahnya Alesa dan setelah hampir setengah jam barulah ayahnya Alesa pamit hendak pulang mumpung belum terlalu siang.
Karena jika matahari sudah di atas kepala akan terasa sangat panas, apalagi mereka mengendarai sepeda motor dan selang berapa menit Bik Mirna muncul lagi sembari membawa sebuah plastik yang berisi kotak kue yang di pastikan itu adalah kue brownies untuk Azzam.
"Ini buat den Azzam, bibik sengaja buatin den Azzam" kata Bik Mirna meletakkan plastik berisi kotak kue itu di atas meja yang ada di hadapan semua orang
"Terima kasih ya, bik. Azzam pamit, mau pulang" kata Azzam kemudian mencium punggung tangan Bik Mirna dengan takzim
"Iya den, hati-hati di jalan semoga selamat sampai rumah" kata Bik Mirna sembari mengelus pucuk kepala Azzam dengan penuh kasih sayang
Setelah itu Azzam dan sang kakek segera beranjak dari duduk mereka lalu melangkahkan kaki keluar rumah, Sisil dan putrinya ikut mengantar Azzam dan sang kakek sampai di teras depan.
Lalu Azzam juga pamit dengan tantenya dan sepupunya itu, bahkan mereka bertiga langsung berpelukan karena tentu akan merindukan Azzam apalagi setengah tahun yang akan datang baru bisa berkumpul lagi.
Meski mereka masih satu ibu kota tetap saja lumayan jauh dari kediaman Sisil ke kediaman orang tua almarhuma Alesa, belum lagi Azzam juga harus fokus sekolah jadi takkan sempat berkunjung ke rumah tantenya kalau tidak pas waktu libur sekolah.
"Kami pamit, ya nak Sisil" kata Ayahnya Alesa setelah sudah duduk di atas sepeda motor
__ADS_1
"Iya paman, hati-hati di jalan" ujar Sisil kemudian melambaikan tangan kepada Azzam yang sudah duduk di jok belakang sepeda motor milik sang kakek
Putrinya juga ikut melambaikan tangan kemudian sepeda motor mulai di lajukan oleh sang kakek meninggalkan kediaman Sisil, setelah sepeda motor milik sang kakek tak terlihat lagi Sisil dan putrinya segera melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah mereka.