
Berapa hari kemudian
"Uwek....Uwek...Uwek"
Sejak bangun pagi tadi Sisil terus memuntahkan semua isi perutnya, padahal ia belum mengisi perutnya sama sekali sehingga yang keluar hanya ludah putih kekuningan.
Rangga yang mendengar itu langsung bangun dan menghampiri Sisil, ia segera membantu memijit tengkuk leher Sisil agar terasa lebih enakkan dan setelah Sisil sudah tak muntah lagi mereka segera kembali ke tempat tidur.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mas Rangga yang melihat keadaan Sisil pagi ini terlihat sangat pucat
"Sedikit pusing dan lemas" jawab Sisil menyandarkan punggung belakangnya ke sandaran tempat tidur
"Kamu gak usah ke perusahaan hari ini, biar aku saja. Hari ini juga ibuku datang saat ini sedang dalam perjalanan" kata Mas Rangga sembari membantu mengoleskan minyak kayu putih di tengkuk leher Sisil
"Iya Mas" jawab Sisil pelan namun masih dapat di dengar Rangga
"Ya sudah, istirahat saja dulu. Raya biar aku yang urus" kata Mas Rangga kemudian beranjak dari tempat tidur dan segera melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya
Hanya berapa belas menit Rangga sudah selesai mandi, bahkan saat ini sudah memakai pakaian lengkap untuk pergi ke perusahaan kemudian Rangga mencium kening Sisil yang saat ini tengah berbaring.
Lalu Rangga melangkahkan kaki keluar kamar dan menuju kamar putrinya, meski putrinya masih libur sekolah tetap saja harus tetap ia urus soalnya Sisil saat ini sedang kurang sehat.
Rangga pun membangunkan putrinya perlahan dan putrinya yang memang sangat mudah di bangunkan segera membuka kedua kelopak matanya, Rangga segera mengajak putrinya untuk segera membersihkan tubuh.
Selesai mandi Rangga dan putrinya keluar dari kamar dan menuju ruang makan, Bik Mirna yang sedang menyiapkan sarapan dan tak melihat majikannya satu lagi mengerutkan kening karena tak bisanya Sisil melewatkan sarapan.
"Bik, nanti bawakan sarapan ke kamar. Sisil lagi kurang sehat, mungkin masuk angin dari tadi pagi muntah-muntah" kata Mas Rangga pada Bik Mirna yang sedang meletakkan segelas susu dan kopi
__ADS_1
"Iya tuan" jawab Bik Mirna menganggukkan kepala paham
Putrinya pun baru tau kalau ternyata sang mama kurang sehat, di pikirnya tadi sang mama masih mandi makanya belum keluar kamar dan putrinya pun menampakkan raut wajah khawatir terhadap sang mama ketika mendengar sang mama kurang sehat.
"Mama hanya masuk angin, nanti Raya temani mama ya ketika papa kerja" kata Mas Rangga yang bisa menangkap raut wajah kekhawatiran di wajah putrinya itu
"Iya pa" jawab Raya kemudian segera menyantap sarapannya karena ingin segera menemani sang mama
Setelah menyiapkan sarapan di atas meja makan, Bik Mirna langsung kembali ke dapur untuk mengambil nampan dan mengantarkan sarapan ke kamar majikannya yang saat ini kurang sehat.
Tok...tok...
Bik Mirna mengetuk pintu kamar majikannya, saat mendengar perintah majikannya untuk masuk Bik Mirna pun segera membuka pintu kamar itu lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar.
"Ini nyonya sarapannya" kata Bik Mirna sembari meletakkan nampan tersebut di atas meja yang ada di samping tempat tidur
"Terima kasih, Bik" ucap Sisil dengan tulus
"Iya Bik" jawab Sisil yang terlihat sangat lemas bahkan raut wajah Sisil begitu pucat
Selepas kepergian Bik Mirna yang kembali ke dapur, Rangga dan putrinya yang telah selesai sarapan segera melangkahkan kaki ke kamar dimana saat ini Sisil berada dan saat masuk Rangga melihat sarapan di atas meja itu belum tersentuh oleh Sisil.
Putri mereka langsung naik ke atas ranjang dan duduk di samping sang mama sembari memegang kening sang mama seperti layaknya sedang memeriksa, Sisil yang melihat raut wajah kekhawatiran di wajah putrinya jadi terharu.
"Kenapa belum di makan?" tanya Mas Rangga ikut duduk di tepi ranjang
"Gak nafsu, Mas" jawab Sisil seperti enek melihat sarapan itu
__ADS_1
"Aku suapin ya" kata Mas Rangga sembari mengambil piring yang berisi sup ayam itu
"Memangnya Mas Rangga gak mau berangkat kerja, ini sudah pukul 07.20" kata Sisil yang melihat sekilas jam weker di atas meja
"Sepertinya lebih baik aku gak ke perusahaan saja hari ini, aku ingin merawat kamu saja" kata Mas Rangga memutuskan untuk tetap di rumah
Sisil tak tau mau menjawab apa, ada rasa bahagia suaminya mau mengurusnya yang sedang sakit dan ada rasa tak enak hati karena suaminya harus meninggalkan pekerjaannya meski ia tau perusahaan itu miliknya tapi tetap saja ada rasa sungkan.
Rangga pun mulai menyodorkan sendok yang berisi sayur sup ke arah mulut Sisil entah mengapa ketika Rangga yang menyuapi Sisil, Sisil tak merasakan mual lagi bahkan tanpa terasa sup ayam yang ada di dalam mangkuk pun habis tak bersisa.
"Alhamdulilah habis, sekarang kamu istirahat ya. Aku mau ke bandara menjemput ibu yang sebentar lagi tiba" kata Mas Rangga pada Sisil sembari meletakkan mangkuk kosong itu di atas nampan
"Iya Mas" jawab Sisil setelah minum air ia pun segera berbaring
"Raya temani mama aja ya, papa hanya sebentar perginya" kata Mas Rangga pada putri mereka yang masih duduk anteng samping Sisil
Putri mereka pun menganggukkan kepala patuh atas perintah sang papa, Rangga segera beranjak dari duduknya kemudian mencium pucuk kepala kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya setelah sang ibu.
Kemudian Rangga keluar dari kamar dan melangkahkan kaki keluar rumah menuju garasi mobil, sampai di mobil Rangga segera masuk dan mobil pun mulai di lajukannya meninggalkan kediamannya menuju bandara yang ada di kota ini.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.05 jalanan di kota ini mulai macet, terlihat sekali banyak kendaraan berlalu lalang yang berusaha segera menerpa jalan raya itu ingin segera sampai ke tempat tujuan masing-masing.
Namun Rangga masih beruntung karena macet kali ini tak terlalu parah, sehingga ia tiba di bandara tepat saat sang ibu baru turun dari pesawat dan Rangga langsung bergegas menghampiri sang ibu lalu mencium punggung tangan sang ibu dengan takzim.
"Sisil dan Raya gak ikut jemput?" tanya Ibunya Rangga saat melihat hanya sang anak yang menjemput
"Sisil lagi sakit bu, jadi Raya aku minta untuk menemaninya" jawab Rangga sembari mengambil alih koper milik sang ibu
__ADS_1
"Sisil lagi sakit, sudah pergi ke Dokter belum takutnya makin parah" kata Ibunya Rangga saat mereka melangkahkan kaki beriringan menuju mobil
"Belum bu, soalnya Sisil lemas banget seperti gak sanggup buat berdiri. Apalagi dari pagi tadi muntah terus" jelas Rangga lagi sembari membukakan pintu samping kemudi untuk sang ibu