Milikku Bukan Milikmu

Milikku Bukan Milikmu
Bab 52


__ADS_3

Kini Sisil dan putrinya serta ibu mertuanya telah tiba di kediaman Sisil setengah jam yang lalu, bahkan Sisil berapa kali meminta ibu mertuanya untuk istirahat dahulu sebelum menjelang makan malam nanti karena perjalanan dari Surabaya ke kota A tentu sangat melelahkan.


Meski hanya duduk di dalam pesawat tetap saja yang namanya melakukan perjalanan itu pasti melelahkan, namun ibu mertuanya bersikeras tak mau karena masih mau menemani sang cucu yang dari tadi terus bergelendot di lengan ibu mertuanya.


Malam pun tiba Bik Mirna telah menata semua masakannya tadi sore yang sudah di hangatkannya di atas meja makan hingga terhidang dengan sempurna, Sisil dan putrinya serta ibu mertuanya telah duduk di kursi makan di tempat duduk mereka masing-masing.


Makan malam kali ini terasa sangat berbeda menurut ibu mertuanya, terasa kurang karena tak ada sosok sang anak yang biasa duduk di kursi paling ujung sebagai kepala keluarga membuat ibu mertuanya sangat merindukan sang anak.


Saat mereka semua tengah menyantap makanan yang sudah terhidang itu, tiba-tiba ibu mertuanya menitikkan air mata membayangkan makanan setiap hari yang di makan sang anak di balik jeruji besi tentu tak ada makanan yang lezat.


"Ibu, kenapa?" tanya Sisil yang memang dari tadi memperhatikan ibu mertuanya yang makan seperti tak semangat dan kini tiba-tiba menitikkan air mata


"Ibu rindu dengan Rangga, dia disana pasti tidak memakan makanan lezat seperti disini" kata Ibunya Rangga sembari menyeka air mata yang mulai membasahi kedua pipinya


"Iya bu, Sisil mengerti bu. Namun mau bagaimana lagi, ini ujian buat Mas Rangga. Kita hanya bisa berdoa semoga Mas Rangga baik-baik saja selama disana, besok kita sama-sama berkunjung" kata Sisil sembari mengelus lengan ibu mertuanya dengan lembut


Ibu mertuanya pun mengganggukkan kepala lalu kembali melanjutkan makan malam, sedangkan putrinya hanya diam ia merasa seperti kecewa dengan sosok sang papa yang selama ini di anggapnya seorang pahlawan namun ternyata bisa melakukan hal tak senonoh.


Meski sang mama sudah meyakinkan namun sedikit dari cerita sang mama, ia mulai mengerti dan bukankah ada pepatah mengatakan tak kan ada asap kalau tak ada api seperti yang terjadi dengan sang papa tak kan terjadi hal seperti itu jika sang papa tak memulai.

__ADS_1


Selesai makan malam putrinya bersama ibu mertuanya bersantai di ruang keluarga menikmati TV yang tengah menyala, sedangkan Sisil sedikit membantu meringankan pekerjaan Bik Mirna meski hanya membantu merapikan meja makan yang sedikit berantakan.


Selesai membantu Bik Mirna, Sisil ikut bergabung dengan putrinya dan ibu mertuanya yang sepertinya begitu asyik menonton TV film kartun yang ada sedikit komedi di dalamnya menjadi sebuah hiburan di tengah-tengah mereka yang sedang bersedih.


"Kamu, udah periksa kandungan kamu?" tanya Ibunya Rangga sembari mengelus perut Sisil yang masih rata itu


"Iya bu, kemarin berapa minggu yang lalu. Alhamdulilah sehat waktu itu 10 minggu dan sekarang mungkin sudah 12 minggu atau lebih tepat 3 bulan" jawab Sisil sembari mengulas senyuman memegang perutnya yang masih rata itu


"Jaga baik-baik, jangan terlalu capek dan jangan banyak pikiran" nasehat Ibunya Rangga yang tau saat ini Sisil terlihat lelah dengan musibah yang tengah melanda di dalam rumah tangga sang anak dan sang menantu


"Iya bu" jawab Sisil meski berat karena takkan mungkin ia tak memikirkan soal suaminya saat ini


.


.


Ternyata hari sudah pagi, bahkan sepertinya ia sedikit kesiangan karena jam weker di atas meja samping tempat tidur menunjukan pukul 07.00 pagi sedangkan ia harus mengantar putrinya ke sekolah dan buru-buru ia turun dari tempat tidur.


Lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dan saat menguyur tubuhnya di bawah air shower yang mengalir Sisil menepuk jidatnya ia baru teringat bahwa sekarang ia mempekerjakan Mang Ujang sebagai supir untuk antar jemput putrinya sekolah.

__ADS_1


Karena sudah ada Mang Ujang yang akan mengantar putrinya, Sisil pun memilih bersantai menikmati guyuran air shower yang membasahi seluruh tubuhnya ia ke perusahaan mungkin sekitar pukul 10.00 nanti karena pagi ini ia akan mengunjungi suaminya di kantor polisi.


Selesai mandi dan memakai pakaian lengkap, Sisil pun akhirnya keluar kamar dan melangkahkan kaki ke ruang makan namun tiba disana ia terkejut melihat putrinya belum berangkat ke sekolah bahkan saat ini putrinya hanya memakai pakaian santai.


"Raya, kenapa belum berangkat ke sekolah bukankah waktunya udah hampir masuk kelas?" tanya Sisil sembari mendaratkan bokongnya di kursi makan


"Raya gak mau berangkat sekolah, ma. Raya takut di hina teman-teman Raya lagi dan bukannya pagi ini mama dan nenek akan mengunjungi papa jadi Raya mau ikut" kata Raya yang masih trauma atas kejadian kemarin dimana teman-temannya telah menghinanya dan melemparnya pakai kertas yang di bentuk bola-bola


"Baiklah, hari ini Raya boleh izin gak masuk sekolah tapi besok Raya sudah harus kembali sekolah. Selama nenek disini nenek yang akan menemani Raya berangkat sekolah dengan di antar Mang Ujang" kata Sisil sembari mengoleskan selai pada roti yang ada di tangannya


"Iya, ma" jawab Raya kemudian melanjutkan acara makannya


Selesai sarapan Sisil dan putrinya serta ibu mertuanya bersiap-siap hendak pergi ke kantor polisi, setelah ibu mertuanya menyiapkan sebuah bekal yang akan di bawa untuk suaminya mereka bertiga pun segera masuk ke dalam mobil milik Sisil.


Mobil mulai di lajukan Sisil dengan kecepatan sedang meninggalkan kediamannya dan menuju kantor polisi yang ada di pusat kota, mobil milik Sisil sudah bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya yang mulai nampak ramai namun tak membuat jalanan macet.


Hanya berapa puluh menit mobil yang di lajukan oleh Sisil pun berhenti di parkiran kantor polisi, mereka bertiga segera turun dan tak lupa menenteng bekal makanan yang sengaja di siapkan dari rumah untuk suaminya yang berada di balik jeruji besi.


Sebelum melangkah masuk ke kantor polisi, Sisil menyempatkan diri menghubungi Bu Marisa wali kelas putrinya meminta izin untuk tidak masuk sekolah hari ini karena putrinya masih trauma atas kejadian kemarin sekalian putrinya juga ingin menemui sang papa hari ini.

__ADS_1


Setelah Bu Marisa membalas dan memaklumi keadaan putrinya, kini Sisil dan putrinya serta ibu mertuanya melangkahkan kaki bersama-sama masuk kantor polisi tiba di dalam kantor polisi Sisil segera mendaftarkan diri ingin mengunjungi suaminya.


__ADS_2