
"Assalamualaikum" ucap Mas Rangga setelah pintu utama di bukakan oleh Sisil karena ia mendengar bunyi mobil suaminya memasuki halaman kediaman mereka
"Walaikumsalam, Mas" jawab Sisil sembari mengambil tangan suaminya lalu di ciumnya punggung tangan itu dengan takzim
Rangga juga membalas mencium kening Sisil, kemudian menutup pintu utama dan segera melangkahkan kaki sembari merangkul pinggang Sisil menuju kamar utama yang mereka tempati.
"Papa sudah pulang" kata Raya menghampiri kedua orang tuanya kemudian mencium punggung tangan sang papa dengan takzim
"Iya sayang, anak papa cantik banget" kata Mas Rangga setelah mencium pucuk kepala putrinya
"Terima kasih, pa. Papa juga ganteng" kata Raya kemudian mencium pipi sang papa
"Dengan Bik Mirna dulu ya, papa mau mandi udah sore" kata Mas Rangga lagi sembari mengelus kepala putrinya
Dengan patuh putrinya itu menganggukkan kepala kemudian kembali duduk di karpet yang ada di depan TV bahkan sudah ada Bik Mirna disana dari tadi menemani putri majikannya bermain, sedangkan Rangga dan Sisil segera menuju kamar utama.
Tiba di dalam kamar Sisil membantu melepaskan satu persatu kancing kemeja yang masih melekat di tubuh suaminya, setelah semua terlepas Rangga pamit ingin segera membersihkan tubuhnya karena merasa sudah sangat gerah.
Sisil menjawab dengan anggukkan kepala sembari membereskan pakaian kerja milik suaminya, namun saat hendak meletakkan di keranjang pakaian kotor Sisil menemukan bekas lipstik di kemeja bagian dada milik suaminya itu.
"Apa Mas Rangga berulah lagi" kata Sisil menatap lekat bekas lipstik yang sedikit pudar itu di kemeja putih milik suaminya
Jika tidak di lihat dari dekat takkan tampak bekas lipstik tersebut, Sisil bisa menebak bahwa lipstik yang menempel di kemeja putih milik suaminya itu lipstik yang harganya murah di bawa seratus ribu sehingga tak terlalu ketara.
Berbeda jika lipstik yang harganya mahal seperti miliknya akan sangat jelas kelihatan jika tertempel di kemeja putih, namun Sisil tak memikirkan soal harga lipstik yang ada di benak Sisil saat ini apa suaminya kembali bermain api di belakangnya.
Krekk
Bunyi handle pintu terbuka, Sisil yang tengah larut dalam pikiran tersadar saat mendengar bunyi pintu terbuka buru-buru Sisil meletakkan semua pakaian kerja milik suaminya ke dalam keranjang pakaian kotor.
__ADS_1
Kemudian Sisil segera mendekat ke arah lemari pakaian milik suaminya, mengambilkan kaos oblong dengan celana pendek berbahan jeans lalu di letakkannya di atas ranjang tidur dan tiba-tiba Sisil merasakan pelukan dari belakang.
"Terima kasih, sayang. Repot-repot menyiapin pakaian ganti buat aku, padahal aku bisa sendiri" kata Mas Rangga masih dalam posisi memeluk Sisil dari belakang kemudian mencium pipi Sisil
Sisil hanya tersenyum, ia tak mau tertipu lagi dengan suaminya seperti dulu saat ia beranggapan suaminya yang memperlakukannya bak ratu di rumah tangga mereka tapi nyatanya berselingkuh di belakangnya.
Setelah itu Rangga melepas pelukannya dari Sisil dan segera memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Sisil barusan, Rangga merasa sangat beruntung mendapat istri seperti Sisil yang bisa dalam segala hal seperti tak ada celah buruk yang ada diri Sisil.
Karir yang cemerlang, pintar mengurus suami dan anak bahkan mengurus urusan rumah tangga, itu mengapa Rangga sempat menyesal pernah berselingkuh di belakang Sisil hanya karena Sisil sedikit sibuk dengan urusan putri mereka dulu.
Namun semuanya hanya masa lalu, buat apa lagi di kenang yang terpenting sekarang hubungan mereka baik-baik saja saat ini dan rumah tangga mereka tetap harmonis apalagi berapa bulan yang akan datang akan ada anggota baru di rumah tangga mereka.
"Yuk ke depan, kasihan Raya jika di abaikan terus" kata Mas Rangga telah siap memakai pakaian serta sudah merapikan rambutnya
"Ayo" jawab Sisil meski di hatinya seperti ada yang mengganjal karena tak berani menanyakan langsung prihal bekas lipstik tadi
Sisil dan Rangga keluar dari kamar dan melangkahkan kaki ke ruangan keluarga dimana putri mereka tengah bermain di temani Bik Mirna, setelah ke datangan kedua majikannya itu Bik Mirna pamit undur diri ingin ke dapur memanaskan lauk pauk.
Namun putri mereka lebih memilih bermain dengan Rangga, hingga akhirnya Sisil memilih pindah duduk di sofa ruang keluarga lalu Sisil mengambil HP-nya yang kebetulan tadi di letakkannya di atas meja yang ada di hadapannya.
^^^[Dew, kamu lagi apa?]^^^
^^^[Baru nyampe rumah bu, ada apa bu? Apa ada hal penting?]^^^
^^^[Maaf menganggu, aku kok curiga lagi Mas Rangga berselingkuh di belakang aku. Apa saat ini ada yang mencurigakan]^^^
^^^[Selingkuh? Sepertinya gak ada bu, setau aku pak Rangga sangat sibuk dengan pekerjaannya karena akhir-akhir ini pekerjaan kami memang sangat banyak]^^^
^^^[Tadi aku melihat ada bekas lipstik di kemeja Mas Rangga]^^^
__ADS_1
^^^[Lipstik? Sepertinya ibu salah paham, setau aku hari ini tadi memang pak Rangga tak sengaja bertabrakan dengan salah satu karyawan wanita. Mungkin saja itu lipstik karyawan wanita itu]^^^
^^^[Benar ya Dew, kamu gak nutup-nutupi kebusukan Mas Rangga]^^^
^^^[Gak bu, SUMPAH]^^^
^^^[Baiklah aku percaya, terima kasih]^^^
^^^[Sama-sama, bu]^^^
"Huh...."
Sisil membuang napasnya secara kasar, sontak membuat Rangga mendongakkan kepala menatap Sisil dengan kening mengerut keheranan dengan tingkah Sisil barusan.
"Ada apa, sayang?" tanya Mas Rangga khawatir Sisil memiliki masalah
"Gak apa-apa, Mas. Hanya berusaha menghilangkan sesak di dada" jawab Sisil jujur
"Kenapa, kamu sakit?" tanya Mas Rangga lagi sembari berpindah duduk mendekati Sisil
"Mama sakit?" tanya Raya ikut-ikutan mendekati Sisil
Kedua orang yang di sayangi Sisil itu begitu khawatir dengannya, membuat Sisil terharu kemudian Sisil menggelengkan kepala sembari tersenyum agar kedua orang yang di sayanginya itu percaya bahwa ia baik-baik saja saat ini.
Waktu berjalan begitu cepat kini waktunya makan malam, Sisil dan Rangga serta putri mereka segera melangkahkan kaki menuju meja makan yang sudah terhidang makanan lezat yang di masak oleh Bik Mirna.
Sisil dengan cekatan mengambil makanan untuk putri mereka dan untuknya, namun jika bagian Rangga ia memilih mengambil sendiri karena tak mau merepotkan Sisil yang sudah sibuk mengurus putri mereka.
Setelah masing-masing piring mereka terisi makanan sesuai selera mereka masing-masing, mereka bertiga mulai menyantap makanan tersebut dengan sangat lahap bahkan terasa sangat nikmat jadi jangan sampai melewatkan makan masakan Bik Mirna.
__ADS_1
Hanya berapa puluh menit mereka bertiga telah selesai makan, Sisil yang merasa lebih baikan sekarang membantu Bik Mirna membereskan meja makan yang sedikit berantakkan itu.