
"Siang, pak Rangga" sapa Para karyawan saat melihat atasan mereka baru datang ke perusahaan
Para karyawan sudah tau bahwa atasan mereka akan datang siang karena ingin mengantar istrinya pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan istrinya, sehingga tak heran bahwa atasan mereka datang terlambat.
Rangga yang di sapa hanya menganggukkan kepala tanpa ekspresi dan terus melangkahkan kaki menuju ruangannya, saat melewati ruangan bagian admin dan Sri yang sedang mendongakkan kepala melihat atasannya lewat hanya bisa tersenyum kecut.
Karena semenjak kejadian seminggu yang lalu, Sri sampai sekarang belum memiliki kesempatan lagi untuk mendekati atasannya itu bahkan setiap kali berusaha untuk mendekati atasannya itu pasti ada saja halangannya.
Namun Sri takkan menyerah sebelum ia benar-benar bisa menaklukkan hati atasannya itu, cukup lama melamun teman Sri di sampingnya segera menepuk pundak Sri agar Sri kembali fokus dengan pekerjaan yang semakin banyak.
"Akh, aku mau ke kamar mandi bentar nyuci muka biar gak suntuk" kata Sri pada temannya yang telah membuyarkan lamunannya.
Sri pun segera melangkahkan kaki keluar dari ruangan bagian admin itu menuju kamar mandi, tiba di kamar mandi ia langsung menuntaskan hajatnya terlebih dahulu setelah itu baru ia ke wastafel untuk mencuci wajahnya.
Sedangkan di ruangan CEO Rangga langsung duduk di kursi kebesarannya lalu mulai memeriksa satu persatu berkas yang bertumpukan di atas mejanya, karena begitu banyak pekerjaan membuat Rangga mengantuk.
"Hallo, tolong buatkan saya kopi dan antar secepatnya" kata Rangga di seberang telepon menghubungi bagian OB dan OG
Tanpa menunda-nunda waktu, OB yang biasa membuatkan Rangga kopi langsung saja mengerjakan tugasnya agar bisa secepatnya ia antar ke ruangan CEO hanya berapa menit kopi pun telah jadi dan segera di letakkannya di atas nampan.
Lalu OB itu membawa nampan yang berisi segelas kopi panas itu menuju ruangan CEO, namun di tengah perjalanan OB itu merasa sakit perut tentu tak bisa mengantar kopi itu ke ruangan CEO dan bertepatan dengan Sri keluar dari kamar mandi.
"Ehh, boleh minta tolong gak?" tanya OB itu menghentikan langkah kaki Sri
"Tolong apa?" tanya Sri menatap OB itu
"Tolong antarkan kopi ini ke ruangan pak Rangga, saya kebelet banget" kata OB itu lagi dengan raut wajah seperti sedang menahan sesuatu
__ADS_1
"Ohh baiklah" kata Sri tanpa pikir panjang langsung mengambil nampan itu dari tangan OB
"Terima kasih, sebelumnya" kata OB itu langsung nyelonong masuk kamar mandi pria
Sri menganggukkan kepala sembari mengembangkan senyuman karena akhirnya kesempatan yang di tunggu-tunggunya pun tiba, ia segera melangkahkan kakinya dengan hati-hati sembari membawa nampan berisi segelas kopi panas itu.
Tok...Tok
"Masuk" ujar Rangga tanpa menoleh ke arah pintu dan tetap fokus dengan berkas-berkas yang sedang di periksanya itu
Sri langsung membuka pintu ruangan CEO itu lalu masuk dan mendekati meja kerja atasannya itu, kemudian perlahan-lahan Sri meletakkan kopi panas itu di atas meja atasannya agar tak tumpah.
"Silahkan di minum, pak" kata Sri dengan suara mendayu-dayu di buat-buatnya karena ingin menggoda atasannya itu
Rangga yang tadi begitu fokus dengan berkas-berkas langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar suara wanita, karena selama ini yang mengantar kopi untuknya biasanya OB.
"Dia kebelet, pak. Tadi bertemu dengan saya di depan kamar mandi" jawab Sri jujur awalnya mau menggoda atasannya itu jadi urung saat mendengar nada suara atasannya begitu dingin belum lagi tatapan mematikan itu
"Ya sudah, silahkan kembali ke ruangan kamu" kata Mas Rangga lagi mengusir Sri
"Baik, pak" jawab Sri langsung membalikkan tubuhnya namun karena terlalu terburu-buru kaki Sri yang memakai high heels lumayan agak tinggi jadi terseleo
Dan untung saja Rangga dengan sigap memegangi tubuh Sri jika tidak Sri pasti sudah terjatuh, posisi Sri merangkul leher Rangga sedangkan Rangga merangkul pinggang Sri dan mereka berdua terdiam berapa saat.
Setelah sadar Rangga pun buru-buru menarik tubuh Sri agar segera berdiri, namun bukannya berdiri Rangga justru terjatuh dan Sri menimpah tubuh kekar milik Rangga hingga keadaan tubuh mereka saat ini semakin intim.
Deg
__ADS_1
Rangga merasakan sesuatu yang kenyal di dada bidangnya, sedangkan Sri merasakan sesuatu yang berdiri di dekat pahanya dan sudah di pastikannya bahwa milik atasannya itu menegak karena posisi mereka saat ini begitu intim.
Karena memiliki kesempatan Sri dengan sengaja memepetkan tubuhnya ke tubuh Rangga, bahkan ia mulai berani meraba dada bidang milik Rangga yang masih terbalut dengan kemeja itu berusaha ingin menggoda Rangga.
"Jangan kurang ajar ya" kata Mas Rangga langsung mendorong tubuh Sri menjauh dari tubuhnya
Bruk
"Aw...." pekik Sri saat bokongnya mendarat sangat keras di permukaan lantai
"Keluar dari ruangan saya" bentak Mas Rangga sembari berdiri menjauhi wanita yang sudah berusaha menggodanya
Meski tadi hampir saja Rangga tergoda, ia teringat akan Sisil di rumah yang telah memberi ia kesempatan dan kepercayaan lagi setelah ia pernah bermain api di belakang Sisil jadi ia tak mau sampai mengulangi kesalahan yang sama.
Sri masih terduduk di lantai karena bokong dan kakinya sangat sakit jadi ia kesulitan untuk berdiri, sedangkan Rangga langsung mengambil telepon yang ada di atas mejanya kemudian menghubungi Dewi meminta Dewi ke ruangannya sekarang juga.
Dewi yang mendengar suara atasannya di seberang telepon seperti sedang marah, buru-buru Dewi keluar ruangannya dan melangkahkan kaki menuju ruangan atasannya yang memang hanya sebelahan dengan ruangannya.
Tok...Tok
"Masuk" ujar Mas Rangga sudah duduk di kursi kebesarannya menetralisir jantungnya yang sempat berdegup kencang
"Ad...Ada apa, pak Rangga?" tanya Dewi gugup melihat raut wajah atasannya sangat merah dan belum lagi melihat Sri yang duduk di lantai sedang kesakitan
"Bawa wanita ini keluar dari ruangan saya dan mulai detik ini dia saya pecat" kata Mas Rangga tegas
Dewi yang tak tau menau hanya bisa menganggukkan kepala lalu membantu Sri untuk berdiri, namun Sri tak mau ia langsung merangkak mendekati atasannya itu dan bersimpuh di kaki Rangga memohon agar tak di pecat karena ia sangat membutuhkan pekerjaan ini.
__ADS_1
Namun keputusan Rangga sudah bulat, siapa yang berani menggodanya akan ia singkirkan sebelum imannya tergoda karena ia hanya manusia biasa tentu tak jauh dari kekhilafan jadi dari pada ke depannya terulang lagi lebih baik ia pecat sekarang.