
"Ma, papa kemana. Kok gak ikut kita sarapan?" tanya Raya pas ingin sarapan namun di kursi makan hanya ia dan sang mama
"Papa semalam pas Raya tidur pergi keluar kota ada keperluan di pabrik" jawab Sisil yang terpaksa berbohong dengan putrinya itu
"Kok papa gak pamit dengan Raya, kenapa juga gak tunggu pagi harus malam-malam pergi" kata Raya langsung mengerucutkan bibirnya merajuk dengan sang papa
"Pekerjaan papa sangat mendesak, makanya gak sempat pamit. Ayo cepat habiskan sarapan Raya, selama papa pergi mama yang akan antar jemput Raya ke sekolah" kata Sisil memilih mengalihkan pembicaraan
Putrinya pun menganggukkan kepala sebagai jawaban lalu segera menyantap sarapannya yang sudah di ambilkan oleh sang mama tadi, Sisil yang sedang menikmati sarapan terus menatap putrinya yang sepertinya masih merajuk karena suaminya tak ada disini.
Sisil pun mengigit bibir bawahnya menahan sesak di dada melihat raut wajah putrinya cemberut seperti tak bersemangat, Sisil jadi takut bagaimana jika suaminya akan lama membekap di balik jeruji besi dan bagaimana jika putrinya tau yang sebenarnya.
Drrtt
Bunyi HP milik Sisil yang berada di dalam tas miliknya yang kebetulan ada di atas meja makan dan di samping Sisil, segera Sisil mengambil HP miliknya itu di tatapanya layar yang berkelap kelip itu menampakkan nama ibu mertuanya
Sisil heran kenapa ibu mertuanya menghubunginya pagi-pagi begini atau jangan-jangan ibu mertuanya sudah tau tentang suaminya, tak mau ibu mertuanya menunggu segera Sisil menerima telepon tersebut.
"Hallo, Assalamualaikum Sil" ucap Ibunya Rangga di seberang telepon saat sambungan telepon terhubung
"Iya, Walaikumsalam bu. Ibu apa kabar?" kata Sisil sembari sesekali memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya
"Alhamdulilah ibu sehat, kalian baik-baik saja kan disana. Rangga mana, kenapa nomornya tak aktif" kata Ibunya Rangga masih tak tenang sebelum mendengar suara sang anak
__ADS_1
"Ibu nanti Sisil telepon lagi ya, Sisil mau ngantar Raya berangkat sekolah takut terlambat" kata Sisil memilih mengakhiri sambungan telepon karena tak mungkin ia menjelaskan pada ibu mertuanya di depan putrinya
Setelah sambungan telepon berakhir dan sarapan Sisil serta putrinya telah habis, Sisil segera beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kaki sembari mengandeng tangan putrinya keluar rumah menuju garasi mobil.
"Bukannya ini mobil papa, ma?. Terus papa keluar kota pakai apa?" tanya Raya heran melihat mobil papanya ada di samping mobil sang mama
"Papa ikut temannya yang kebetulan pergi keluar kota juga" jawab Sisil kemudian membukakan pintu untuk putrinya
Lagi-lagi putrinya menganggukkan kepalanya percaya jawaban dari sang mama meski sedikit ragu karena tak biasanya sang papa pergi tanpa mengendarai mobil sendiri, Sisil sebenarnya tak tega harus berbohong namun ia tak ada pilihan lagi.
Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, Sisil pun mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman rumahnya menuju ke sekolahan putrinya.
Hanya berapa belas menit akhirnya mobil yang di lajukan oleh Sisil memasuki halaman sekolah putrinya, lalu Sisil menghentikan mobil yang di lajukannya di antara kendaraan lain dan ia segera keluar bersamaan dengan putrinya.
Namun Sisil yang tipikal cuek dengan penilaian orang memilih mengabaikan saja meski sedikit risih di tatapan seperti itu, hingga tak terasa ia dan putrinya telah tiba di depan ruang kelas putrinya.
"Belajar yang benar, harus patuh dengan ibu guru ya" kata Sisil kemudian mencium pipi kanan pipi kiri putrinya lalu mengelus pucuk kepala putrinya dengan lembut sebelum pergi dari situ
"Dah ma...." kata Raya kurang semangat melambaikan tangan kepada sang mama yang hendak melangkah pergi
Sisil membalas lambaian tangan putrinya itu, lalu Sisil melangkahkan kaki keluar dari koridor sekolah menuju parkiran dimana mobilnya terparkir dan tiba di dalam mobil Sisil mengirimi pesan dengan Dewi jika sementara waktu ia yang akan mengurus perusahaan.
Dan pagi ini ia belum bisa datang pagi-pagi kemungkinan agak siang karena ia harus pergi ke kantor polisi dahulu, ingin melihat keadaan suaminya yang sampai sekarang ia belum dapat kabar dari pihak polisi tentang kasus suaminya.
__ADS_1
Mobil pun kembali melesat di jalan raya yang terlihat mulai ramai kendaraan berlalu lalang, namun syukurnya tak membuat jalanan macet sehingga setengah jam kemudian mobil yang di lajukan Sisil sudah tiba di depan kantor polisi.
Sisil keluar dari mobil dan masuk ke dalam kantor polisi, ia mendaftarkan diri ingin membesuk suaminya setelah itu ia di bawa petugas ke tempat biasa orang-orang menemui keluarganya yang di tahan di kantor polisi.
"Sayang...." panggil Mas Rangga setelah berada di dekat Sisil yang duduk di ruang besuk
"Mas, gimana kelanjutan kasusnya?" tanya Sisil setelah Rangga duduk di hadapannya yang terhalang meja
"Aku tak ingat kapan aku melakukan perbuatan itu, namun di video itu benaran aku" kata Mas Rangga sembari menundukkan kepala tak sanggup menatap Sisil
Sisil yang mendengar jawaban yang keluar dari mulut suaminya merasa sangat kecewa, ia yang mulai kembali percaya dengan suaminya tapi suaminya kembali mengkhianatinya lagi, ingin marah tapi ia tak kuasa.
Apalagi setelah ia melihat keadaan suaminya saat ini yang sepertinya semalam tidak tidur, terlihat dari kantung matanya sedikit menghitam dan cekung, Sisil mengigit bibir bawahnya menahan tangis yang hampir keluar.
Lalu Sisil menggenggam jari jemari suaminya yang masih menundukkan kepala, Sisil tak tau harus bagaimana tapi ia yakin setiap ada masalah pasti ada jalan keluar sehingga ia tak boleh terlihat lemah saat ini.
"Sabar Mas, pasti ada jalan dari masalah ini. Ohh iya, tadi ibu menelepon aku mencari keberadaan Mas namun aku belum menjawab karena bingung harus berkata jujur apa tidak" kata Sisil berusaha tenang meski sebenarnya dadanya terasa sesak
"Jujur saja, karena bohong juga pasti suatu saat akan terbongkar. Bagaimana dengan Raya" kata Mas Rangga yang teringat putri mereka
"Aku terpaksa bohong dengan Raya, namun Raya jadi merajuk karena dia pikir papanya tak pamit saat ingin pergi" jawab Sisil kembali teringat raut wajah putrinya yang merajuk bahkan tadi masuk kelas terlihat tak semangat
Rangga paham pasti putrinya ngambek dengannya namun mau bagaimana lagi, kemudian Rangga meminta maaf atas masalah yang terjadi saat ini pada Sisil dan ia juga berani bersumpah bahwa ia tak pernah selingkuh lagi di belakang Sisil.
__ADS_1
Sisil yang mendengar perkataan Rangga tak tau harus menanggapinya bagaimana, percaya atau tidak sama saja tetap tak bisa merubah keadaan saat ini dan yang pasti suaminya akan tetap kena hukuman menurut pasal-pasal yang berlaku.