
"Ayah Bunda, Azzam kangen banget dengan kalian. Semoga kalian selalu bahagia disana" kata Azzam sembari menitikkan air mata
Sisil yang sudah masuk ke dalam rumah dan hendak melihat keponakannya di kamar tamu dan berdiri di ambang pintu, ia ikut menitikkan air mata saat mendengar ucapan keponakannya barusan karena terdengar sangat pilu.
Kebetulan pintu kamar itu tak terkunci Sisil pun segera membuka pintu kamar itu perlahan, dan melangkahkan kaki masuk ke dalam kemudian mendekati keponakannya yang tak sadar jika ia sudah berada di belakang.
"Azzam....." panggil Sisil saat sudah berdiri di belakang Azzam
Azzam yang mendengar suara tantenya memanggil namanya buru-buru menyeka air matanya, kemudian berbalik menghadap ke tantenya yang terlihat seperti habis menangis juga karena terlihat masih ada sisa air mata di kedua pipi tantenya.
"Tante habis nangis, kenapa?. Apa om Rangga menyakiti tante? kata Azzam mendogakan kepalanya menatap kedua bola mata Sisil
Sisil tak menjawab sama sekali namun ia langsung memeluk keponakannya itu, dan kembali menitikkan air mata ia tau keponakannya tak ingin terlihat sedih di depannya sehingga berusaha terlihat kuat dan tegar.
"Tante kenapa, siapa yang buat tante nangis begini?" tanya Azzam sembari mengelus punggung belakang tantenya memberi kekuatan
"Tante gak kenapa-napa, tante hanya kangen dengan kedua orang tua Azzam saat melihat wajah Azzam yang sangat mirip dengan bundanya Azzam" kata Sisil melepas pelukannya kemudian memegang kedua pundak keponakannya itu
"Azzam juga kangen dengan bunda dan ayah" kata Azzam namun tak menampakkan kesedihan ia tetap berusaha kuat
Sisil menganggukkan kepala, kemudian Sisil merangkul pundak Azzam dengan patuh Azzam ikut dan mereka pun melangkahkan kaki menghampiri tempat tidur dan Sisil segera mengajak Azzam duduk di tepi ranjang.
"Azzam tante tau kalau saat ini Azzam sedang rindu dengan kedua orang tua Azzam, kalau Azzam mau menangis menangislah" kata Sisil dengan hati-hati sembari mengelus pundak keponakannya itu
__ADS_1
Azzam diam namun berapa detik kemudian ia segera memeluk tantenya itu dan kembali menitikkan air mata, benar apa yang tantenya bilang jika saat ini ia sangat merindukan kedua orang tuanya yang tak bisa ia lihat lagi.
Rangga yang dari tadi menunggu Sisil dalam kamar tidur mereka, jadi khawatir karena Sisil tak kunjung kembali dari kamar tamu yang di tempati Azzam dan Rangga pun segera keluar dari kamar hendak mencari keberadaan Sisil.
Tiba di salah satu kamar tamu Rangga yang berdiri di ambang pintu mendengar tangisan pilu, ia yang semakin khawatir mencari kamar tamu mana yang terdengar suara tangisan itu dan terlihat salah satu kamar tamu yang pintunya sedikit terbuka.
Rangga bisa melihat di dalam kamar tamu itu ada Sisil sedang memeluk Azzam, terlihat mereka berdua sama-sama menangis sudah bisa Rangga tebak mengapa kedua insan itu saat ini tengah menangis pasti merindukan sosok Alesa dan Ilham.
"Sayang....." panggil Mas Rangga membuka pintu sedikit lebar kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar tersebut
Sisil yang masih larut dalam tangisan serta terus mengelus punggung belakang keponakannya, saat mendengar panggilan sayang dan ia tau itu suara suaminya segera mendongakkan kepala dengan mata sedikit sembab melihat suaminya yang berdiri tak jauh dari tempat tidur.
"Udah nangisnya, ini udah malam. Waktunya tidur, kasihan Azzam pasti lelah juga dari kampung kesini belum istirahat dari siang tadi" kata Mas Rangga pada Sisil
.
.
Keesokan harinya
Hari ini tanggal 01 januari tentu tanggal merah jadi perusahaan milik Sisil masih cuti bersama begitu juga seluruh sekolah, hari ini Sisil dan Rangga mengajak putri mereka Azzam dan sang ibu termasuk Bik Mirna untuk pergi ke MALL yang ada di pusat kota.
Setelah semuanya siap, mereka semua bergegas masuk ke dalam mobil yang di kemudikan oleh Rangga di samping kursi kemudi ada Sisil dan bagian kursi kedua putri mereka Azzam dan sang ibu sedangkan Bik Mirna memilih duduk di kursi paling belakang.
__ADS_1
Mobil pun mulai di lajukan Rangga dengan kecepatan sedang meninggalkan kediaman mereka dan menuju MALL pusat kota, mobil mereka telah bergabung di jalan raya dengan kendaraan lain ada yang beroda empat ada juga beroda dua.
Hanya berapa belas menit mobil yang di kemudikan oleh Rangga sudah memasuki area parkiran MALL, setelag memastikan mobil terparkir sempurna di antara mobil-mobil lain mereka semua segera keluar dari mobil.
"Kita belanja baju dulu" kata Sisil seperti komandan yang memimpin jalan
Yang lain hanya menjawab dengan menganggukkan kepal kemudian mereka bersama-sama melangkahkan kaki masuk ke dalam MALL, putri mereka memilih bergandengan dengan sang nenek karena sekarang sang mama hamil muda takut kelelahan.
Sedangkan Azzam memilih mengekor di belakang yang beriringan dengan Bik Mirna, hingga mereka tiba di salah satu butik terkenal yang menjadi langganan Sisil jika belanja di MALL tersebut.
"Selamat datang, silahkan pilih-pilih mau belanja apa" ucap Karyawan butik itu dengan ramah menyambut rombongan Sisil
Sisil hanya mengembangkan senyuman kemudian mengajak yang lain segera masuk dan meminta yang lain untuk mencari pakaian kesukaan mereka masing-masing termasuk Bik Mirna, awalnya Bik Mirna menolak namun seperti biasa Sisil akan memaksa.
Setelah mereka semua mendapatkan pakaian mereka masing-masing, Sisil segera membayar semua belanja itu dan kini waktunya Sisil mengajak mereka beristirahat di restoran yang ada di lantai paling atas dan kebetulan di restoran itu dengan dengan area permainan.
Tiba di lantai paling atas dan masuk ke dalam restoran yang di maksud Sisil tadi, mereka segera duduk di salah satu kursi kosonh lalu memesan makanan sesuai selera mereka masing-masing dan selagi menunggu makanan putri mereka menarik tangan Azzam untuk mendekati area permainan.
"Kita main yang ini aja, kak Azzam" kata Raya menunjuk ke arah area permainan mandi bola
"Ayo" kata Azzam dengan senang hati ia menuruti adik sepupunya itu
Azzam dan adik sepupunya itu mulai bermain seluncuran yang di bawanya banyak sekali bola-bola kecil yang penuh warna warni, Sisil dan yang lain hanya memandangi dari tempat duduk mereka yang memang tak begitu jauh.
__ADS_1
Melihat Azzam dan putrinya tertawa bahagia Sisil tentu ikut bahagia, karena artinya Azzam sedikit melupakan kesedihannya semalam yang sangat merindukan sosok kedua orang tuanya yang telah bahagia di alamnya sana.